KUPANG — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Perguruan Tinggi Universitas Nusa Cendana (Undana) mendorong pimpinan kampus memberikan pembebasan Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi mahasiswa yang keluarganya terdampak gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Desakan itu muncul setelah Universitas Mataram (Unram) mengambil langkah konkret dengan membebaskan UKT bagi 138 mahasiswa asal NTT yang terdampak bencana. Kebijakan tersebut dinilai menjadi bentuk keberpihakan perguruan tinggi terhadap mahasiswa yang tengah menghadapi tekanan ekonomi akibat bencana.
Ketua BEM Perguruan Tinggi Undana, Glen Rezy Snae, mengatakan dampak gempa tidak berhenti pada kerusakan rumah dan fasilitas umum. Bencana juga memukul kondisi ekonomi keluarga mahasiswa, terutama mereka yang kehilangan tempat tinggal, pekerjaan maupun sumber pendapatan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ketika keluarga mahasiswa sedang berjuang menyelamatkan diri, menghadapi trauma akibat gempa, bahkan ada yang kehilangan pekerjaan, biaya pendidikan tentu menjadi beban tambahan. Karena itu, kami mendorong Undana mengambil kebijakan pembebasan UKT bagi mahasiswa terdampak,” kata Glen.
Menurut Glen, kebijakan pembebasan UKT bukan sekadar bantuan finansial, melainkan bentuk nyata kehadiran institusi pendidikan di tengah situasi kemanusiaan. Ia menilai mahasiswa terdampak bencana membutuhkan ruang untuk memulihkan kondisi keluarga tanpa dibayangi kewajiban biaya pendidikan.
Langkah Unram, lanjutnya, juga menunjukkan bahwa peran perguruan tinggi dalam situasi bencana dapat dilakukan secara lebih luas. Selain membebaskan UKT, Unram mengirim 16 tenaga medis ke Manggarai Timur, lengkap dengan obat-obatan dan perlengkapan kesehatan. Universitas tersebut juga mengerahkan mahasiswa relawan BEM, dosen, dokter dan tim pengabdian melalui program Pengabdian Berdampak.
Seluruh dukungan tersebut, kata Glen, menjadi contoh bahwa kampus tidak hanya menjalankan fungsi akademik, tetapi juga dapat menjadi kekuatan sosial ketika masyarakat menghadapi bencana. Karena itu, BEM Undana berharap kebijakan serupa dapat dipertimbangkan oleh pimpinan Undana bagi mahasiswa yang terdampak gempa Flores.
“Kampus bukan hanya tempat belajar dan mencetak sarjana. Dalam situasi bencana, kampus harus menjadi bagian dari solusi dan hadir bersama masyarakat,” tegasnya.
Glen berharap Undana dapat menunjukkan keberpihakan terhadap mahasiswa dan keluarga yang sedang berjuang memulihkan kehidupan pascagempa. Baginya, solidaritas perguruan tinggi tidak semestinya dibatasi oleh wilayah maupun institusi.
“Jika Unram bisa hadir untuk mahasiswa NTT, kami berharap Undana juga hadir untuk mahasiswa dan keluarga NTT yang sedang terdampak bencana. Saatnya pendidikan menunjukkan wajah kemanusiaannya,” pungkas Glen.***









