Roi Nitu: Menghadap ke depan, melepaskan yang pergi
Suatu refleksi sosio-kultural dan teologis tentang arah perjalanan dalam upacara subat Atoin Pah Meto’
Dalam kehidupan masyarakat adat Atoin Pah Meto’, kematian bukan sekadar peristiwa biologis yang mengakhiri kehidupan seseorang. Kematian hadir sebagai peristiwa sosial, kultural, dan religius yang melibatkan keluarga, kerabat, dan komunitas. Karena itu, jenazah tidak sekadar dipindahkan dari rumah menuju tempat pemakaman. Ia diantar melalui seperangkat tindakan simbolik yang menyatakan bagaimana masyarakat memahami hubungan antara orang yang meninggal, keluarga yang ditinggalkan, dan perjalanan menuju kehidupan atau dunia yang lain.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu bagian dari upacara subat ialah roi nitu, yang secara sederhana dapat dipahami sebagai tindakan memikul atau mengusung peti jenazah. Namun, di balik tindakan fisik tersebut terdapat pertanyaan kebudayaan yang menarik: ke arah manakah seseorang yang telah meninggal seharusnya menghadap ketika dibawa pergi?
Dalam praktik yang dikenal masyarakat, umumnya bagian kaki peti didahulukan, sehingga jenazah seolah-olah sedang berjalan menuju suatu tempat yang baru. Akan tetapi, terdapat pula pandangan yang menghendaki bagian kepala didahulukan, dengan pemaknaan bahwa orang yang meninggal seakan-akan masih melambaikan tangan kepada keluarga yang ditinggalkan.
Dua cara ini tampaknya sederhana. Namun, jika direnungkan lebih dalam, keduanya memperlihatkan dua cara berbeda dalam memahami kematian.
Kaki di depan: kematian sebagai perjalanan Ketika bagian kaki peti didahulukan, tubuh jenazah secara simbolik berada dalam posisi seperti seseorang yang sedang berjalan. Ia tidak sedang kembali. Ia sedang pergi.
Keluarga mengikutinya dari belakang. Orang-orang yang mengusung peti bukanlah orang-orang yang membawa seseorang menuju masa lalu, melainkan mereka yang mengantarkan seseorang menuju tempat yang baru. Dalam kebudayaan Atoin Meto’, rohnya ke tempat darimana ia datang yang disebut faut kanaf – oe kanaf.
Dalam simbol ini, kematian tidak terutama digambarkan sebagai berhentinya perjalanan, tetapi sebagai perubahan arah perjalanan. Ia telah meninggalkan rumah. Ia meninggalkan halaman. Ia meninggalkan kampung. Dan akhirnya ia meninggalkan dunia orang-orang yang masih hidup. Karena itu, kaki yang berada di depan mempunyai pesan simbolik yang kuat: orang yang meninggal harus menghadap ke arah yang ditujunya.
Hal ini juga sejalan dengan pembacaan antropologis bahwa pandangan dunia Atoni Pah Meto’ berkaitan erat dengan cara masyarakat menempatkan manusia dalam hubungan dengan Tuhan, alam, alam semesta, dan keberadaannya sendiri. Pandangan dunia tersebut bukan sekadar gagasan abstrak, tetapi memengaruhi cara manusia bertindak dalam ritual.
Maka, roi nitu dapat dipahami sebagai salah satu bentuk komunikasi ritual: masyarakat tidak hanya mengusung tubuh, tetapi juga sedang menyatakan sesuatu tentang arah kehidupan manusia.
Kepala di depan: ketika yang pergi masih memandang yang ditinggalkan
Bagaimana dengan posisi kepala di depan?
Di sinilah muncul tafsir yang berbeda. Jenazah seolah-olah masih menghadap kepada keluarga yang ditinggalkan. Tangan dibayangkan seperti melambaikan salam terakhir. Secara emosional, gambaran ini sangat manusiawi. Orang yang kita cintai pergi, tetapi hati kita berharap ia masih melihat kita.
Ia seolah berkata: Selamat tinggal. Aku pergi, tetapi aku masih melihat kalian.
Namun, jika simbol tersebut diteruskan secara logis, terdapat suatu persoalan: jika ia sedang berjalan menuju suatu tujuan, mengapa tubuhnya justru menghadap ke belakang? Ia seperti sedang berjalan menuju masa depan dengan wajah menghadap masa lalu.
Secara fisik, mungkin saja hal itu terjadi dalam suatu gambaran simbolik. Tetapi secara filosofis, justru di situlah muncul pertanyaan yang lebih dalam: apakah orang yang telah pergi seharusnya masih menoleh kepada kehidupan yang telah ditinggalkannya?
Melepaskan bukan berarti melupakan. Pada titik ini, kita menemukan suatu perjumpaan yang menarik antara kebijaksanaan adat dan refleksi teologis.
Kitab Kejadian mencatat bahwa ketika Lot dan keluarganya harus meninggalkan Sodom, mereka mendapat perintah yang tegas: lari untuk menyelamatkan diri dan jangan menoleh ke belakang. Isteri Lot kemudian menoleh ke belakang dan menjadi tiang garam.
Kita perlu berhati-hati membaca kisah tersebut. Alkitab sendiri tidak menjelaskan secara eksplisit apa alasan isteri Lot menoleh. Karena itu, tidak tepat jika kita mengatakan bahwa setiap tindakan menoleh pasti membawa malapetaka.
Tetapi secara teologis, kisah itu telah lama dibaca sebagai peringatan tentang keterikatan kepada sesuatu yang sedang ditinggalkan. Bahkan Yesus kemudian menggunakan peristiwa di mana isteri Lot menoleh sebagai peringatan: “Ingatlah akan isteri Lot” (Luk. 17:32).
Di sini terdapat sebuah pesan yang sangat relevan bagi roi nitu: pergi membutuhkan keberanian untuk melepaskan. Melepaskan bukan berarti tidak mencintai. Melepaskan bukan berarti melupakan. Melepaskan berarti mengakui bahwa ada saat ketika seseorang harus melanjutkan perjalanan, sementara yang lain harus melanjutkan kehidupan.
“Selamat jalan” sebagai etika perpisahan
Karena itu, mungkin kita dapat melihat roi nitu sebagai etika perpisahan. Keluarga mengantar, tetapi tidak ikut pergi. Keluarga menangis, tetapi tidak menahan. Keluarga mengingat, tetapi tidak memanggil kembali.
Dan akhirnya keluarga berkata: “Selamat jalan.”
Kalimat sederhana itu sesungguhnya mengandung pengakuan yang sangat dalam:
“Kami mencintaimu, tetapi kami tidak akan menghalangi perjalananmu.”
Dalam perspektif ini, mengantar orang mati bukanlah usaha untuk mempertahankan orang yang sudah pergi. Sebaliknya, mengantar adalah tindakan memberikan jalan. Justru di sinilah roi nitu menemukan makna terdalamnya. Yang pergi menghadap ke depan, yang tinggal belajar melanjutkan. Jika kaki berada di depan, simbolnya menjadi sangat jelas. Yang meninggal menghadap ke depan. Yang mengantar berada di belakang dan mereka pun menghadap ke depan, ke arah tujuan. Yang pergi memiliki arah perjalanannya. Yang tinggal memiliki arah kehidupannya.
Dengan demikian, tidak ada pihak yang harus terus-menerus berjalan sambil menoleh. Yang meninggal tidak perlu dibayangkan kembali ke dunia yang ditinggalkannya. Yang hidup pun tidak boleh berhenti pada masa lalu. Kematian mengajarkan dua perjalanan sekaligus.
Orang yang meninggal memasuki perjalanan yang tidak lagi dapat diikuti oleh manusia hidup. Orang yang ditinggalkan memasuki perjalanan baru bersama kenangan tentang orang yang telah pergi. Karena itu, kematian bukan hanya mengubah status seseorang dari hidup menjadi mati. Kematian juga mengubah bentuk hubungan. Dahulu seseorang hadir secara fisik. Sesudah kematian, ia hadir melalui ingatan, teladan, nama, keturunan, cerita, dan nilai-nilai yang diwariskannya.
Roi nitu sebagai dialog antara adat dan iman Dalam konteks masyarakat Atoin Pah Meto’ yang telah mengalami perjumpaan panjang antara adat dan agama, kita tidak perlu mempertentangkan keduanya.
Kearifan adat dapat menjadi ruang bagi refleksi iman. Sebaliknya, iman dapat memberikan terang baru untuk memahami simbol-simbol adat. Dengan pendekatan seperti ini, kisah isteri Lot tidak perlu dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa adat roi nitu berasal dari Alkitab. Tidak ada dasar untuk membuat klaim demikian. Yang dapat dilakukan ialah dialog hermeneutis: simbol adat tentang arah perjalanan dipertemukan dengan pesan Alkitab tentang pentingnya tidak terikat pada apa yang harus ditinggalkan.
Dalam pengertian itu, roi nitu dapat menjadi pengingat bagi orang hidup: Jangan menahan orang yang harus pergi. Jangan pula membiarkan dirimu berhenti karena orang yang telah pergi. Sebab hidup juga memiliki arah.
Penutup: sebuah kebijaksanaan dari arah peti
Mungkin kita selama ini melihat roi nitu hanya sebagai bagian dari tata cara mengusung jenazah. Padahal, arah peti dapat berbicara lebih jauh daripada itu. Kaki di depan dapat menjadi metafora tentang keberanian menghadapi tujuan. Keluarga di belakang menjadi metafora tentang kesediaan melepaskan. Jalan di depan menjadi metafora tentang kehidupan yang harus diteruskan.
Dan tidak menoleh menjadi pengingat bahwa cinta tidak selalu berarti mempertahankan seseorang agar tetap tinggal. Ada saatnya cinta harus berkata:
“Pergilah dengan selamat.”
Lalu orang yang pergi menghadap ke depan. Dan orang yang tinggal pun, setelah mengantarkan sampai batasnya, berbalik bukan untuk mengejar yang telah pergi, melainkan untuk melanjutkan hidupnya sendiri.
Di situlah roi nitu dapat dibaca sebagai lebih dari sekadar prosesi kematian. Ia menjadi bahasa sosiokultural tentang perjalanan, bahasa kasih tentang perpisahan, dan ketika dibaca dalam terang iman, bahasa teologis tentang keberanian meninggalkan yang lama untuk memasuki kehidupan yang baru.
Yang pergi menghadap ke depan. Yang tinggal tidak harus terus menoleh. Sebab setiap perjalanan, pada waktunya, meminta kita belajar melepaskan.
Heronimus Bani ~ Pemulung Aksara









