Ketika singa hanya mencari makan, tetapi manusia mencari mangsa
(Mazmur 104:20-23)
Malam turun perlahan di atas bumi. Matahari yang sejak pagi menggantungkan cahayanya di langit akhirnya kembali ke peraduannya. Ladang-ladang menjadi gelap. Jalan-jalan mulai sepi. Rumah-rumah menutup pintu. Manusia menghentikan pekerjaannya, menyimpan alat-alatnya, lalu mencari tempat untuk berbaring.
Tetapi ketika manusia beristirahat, hutan justru mulai terjaga. Ada langkah-langkah yang bergerak di antara semak. Ada mata yang bercahaya di dalam gelap. Ada suara-suara kecil yang hanya terdengar ketika keramaian siang telah pergi. Dan di tengah malam itu, singa keluar.
Pemazmur berkata:
“Apabila Engkau mendatangkan kegelapan, maka malam pun tiba; di situlah bergerak segala binatang hutan. Singa-singa muda mengaum-aum mencari mangsa dan menuntut makanannya dari Allah.” (ay.21)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Betapa menariknya gambaran itu. Singa mengaum.Tetapi ia tidak mengaum untuk menjadi penguasa hutan.Ia tidak mengaum untuk memperoleh pujian.Ia tidak mengaum agar binatang lain takut kepadanya.Ia mengaum karena lapar. Ia mencari makan. Dan lebih menarik lagi, pemazmur mengatakan bahwa singa-singa itu menuntut makanannya dari Allah. Seolah-olah bahkan di dalam kehidupan seekor pemangsa terdapat satu pengakuan sederhana: hidupku bergantung kepada-Mu.
Singa memang membunuh dan memangsa. Tetapi, ia tidak mempunyai pasar untuk membeli keserakahan. Ia tidak mempunyai gudang untuk menimbun mangsa. Ia tidak membuat hukum agar mangsanya wajib menyerahkan diri. Ia tidak memakai bahasa agama untuk membenarkan giginya. Ia hanya lapar.Dan karena lapar, ia mencari makan.
Kemudian pagi datang. Cahaya perlahan menyentuh pepohonan. Burung-burung mulai bersuara. Embun masih menggantung di ujung rumput. Hutan yang semalam hidup dengan cara yang berbeda mulai kembali kepada ketenangannya.Singa-singa itu kembali ke sarangnya.Lalu manusia keluar.
Pemazmur berkata:
“Apabila matahari terbit, berkumpullah mereka dan berbaring di tempat perteduhannya. Manusiapun keluarlah ke pekerjaannya, dan ke usahanya sampai petang.” (ay.22-23)
Ada satu keteraturan yang indah di sana. Singa memiliki waktunya.Manusia memiliki waktunya.Malam menjadi ruang bagi sebagian makhluk untuk bergerak. Siang menjadi ruang bagi manusia untuk bekerja.
Allah tidak memberikan satu jadwal kepada seluruh ciptaan.Singa bekerja ketika manusia tidur.Manusia bekerja ketika singa beristirahat. Masing-masing mempunyai ruang dalam tata kehidupan yang diciptakan Allah. Namun di sinilah satu pertanyaan mulai muncul. Singa hanya mencari makan. Mengapa manusia sering mencari mangsa?
Singa membunuh karena lapar. Manusia kadang menjatuhkan orang lain bukan karena lapar. Singa memangsa karena kehidupan biologisnya menuntut demikian. Manusia dapat memangsa karena keserakahan. Singa mengambil satu kehidupan untuk mempertahankan hidupnya. Manusia kadang mengambil kesempatan hidup orang lain agar dirinya mendapatkan lebih banyak. Singa mengejar mangsanya dengan kaki. Manusia dapat mengejar mangsanya dengan kata-kata. Dengan jabatan, pengaruh, uang, koneksi, senyum. Bahkan dengan ayat-ayat suci.
Di sinilah manusia menjadi lebih rumit daripada singa. Singa tidak menyembunyikan giginya. Manusia dapat menyembunyikan gigi di balik keramahan. Singa tidak berpura-pura menjadi sahabat mangsanya. Manusia dapat mendekati seseorang sebagai sahabat, lalu menjadikannya tangga untuk mencapai kepentingannya. Singa tidak mengenal kepura-puraan moral. Manusia mengenalnya. Karena itu, ada kebuasan yang hanya dapat dilakukan oleh manusia: memangsa sesamanya sambil tetap terlihat baik.
Barangkali itulah sebabnya kita perlu berhati-hati ketika menyebut singa sebagai binatang buas. Benar, singa adalah predator. Tetapi singa tidak menjadi jahat karena menjadi singa. Ia hanya menjalankan kehidupan yang diberikan kepadanya. Ia tidak membunuh karena membenci mangsanya. Ia tidak memiliki dendam pribadi terhadap rusa. Ia tidak membangun teori untuk mengatakan bahwa rusa lebih rendah darinya. Ia hanya mencari makanan. Setelah kenyang, ia berhenti.
Manusia berbeda. Manusia dapat kenyang tetapi masih ingin memiliki. Dapat memiliki tetapi masih ingin menguasai. Dapat berkuasa tetapi masih ingin lebih berkuasa. Dapat menerima penghormatan tetapi masih merasa belum cukup dihormati. Di sinilah keserakahan menjadi sesuatu yang lebih berbahaya daripada lapar.
Lapar mempunyai batas. Keserakahan sering tidak mengenal batas. Singa berhenti ketika perutnya kenyang. Manusia kadang baru berhenti ketika orang lain sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Ada manusia yang mencari pekerjaan untuk kehidupan. Tetapi ada pula manusia yang mencari mangsa. Ia melihat orang lain bukan sebagai sesama manusia, melainkan sebagai kesempatan. Orang miskin dan bodoh menjadi kesempatan. Orang yang sedang berduka dan membutuhkan pertolongan menjadi kesempatan. Bahkan kebaikan seseorang dapat dibaca sebagai kelemahan yang dapat dimanfaatkan.
Manusia seperti itu tidak lagi bertanya: “Apa yang dapat kuberikan?”
Ia hanya bertanya: “Apa yang dapat kuambil?”
Di situlah kehidupan berubah.
Sesama tidak lagi menjadi saudara, tetapi menjadi sasaran. Relasi berubah menjadi transaksi. Persahabatan berubah menjadi jaringan kepentingan. Pelayanan berubah menjadi panggung. Kebaikan berubah menjadi investasi. Dan manusia perlahan kehilangan wajah manusianya. Ia menjadi predator yang memakai pakaian manusia.
Mazmur 104 memberikan cermin yang sederhana.
Pada malam hari, singa mencari makan. Pada pagi hari, manusia pergi bekerja. Keduanya sama-sama bergerak untuk mempertahankan kehidupan. Tetapi pekerjaan manusia mempunyai dimensi yang lebih dalam. Manusia bukan hanya makhluk yang membutuhkan makanan. Manusia adalah makhluk yang mampu memilih. Ia dapat bekerja untuk dirinya sendiri. Tetapi ia juga dapat bekerja untuk keluarganya dan masyarakat. Ia bekerja di atas tanah yang diwariskan kepadanya dan untuk generasi yang belum lahir. Karena itu, pekerjaan manusia seharusnya tidak berubah menjadi perburuan terhadap manusia lain. Tangan yang bekerja seharusnya tidak menjadi tangan yang mengambil hak sesama. Pikiran yang cerdas seharusnya tidak menjadi alat untuk menipu. Kekuasaan seharusnya tidak menjadi taring. Jabatan seharusnya tidak menjadi cakar. Kata-kata seharusnya tidak menjadi jerat. Dan agama seharusnya tidak menjadi kamuflase bagi kebuasan.
Mungkin ada baiknya sesekali kita duduk diam setelah matahari terbenam dan mendengarkan suara hutan. Barangkali kita akan belajar sesuatu dari singa yang buas tetapi mengetahui batasan yang diterimanya. Singa lapar, lalu mencari makan. Kenyang, lalu berhenti. Manusia sering lupa berhenti. Ia sudah cukup, tetapi mengatakan belum cukup. Ia sudah memiliki, tetapi mengatakan masih kurang. Ia sudah menerima kesempatan berkarya pada bidang tugas yang dipercayakan kepadanya, tetapi ingin menambah dan menambal lagi bahkan sangat antusias mengambil kesempatan orang lain. Ia sudah berada di depan, tetapi masih ingin menginjak orang yang berada di belakang.
Persoalan karakter manusia bukan karena ia berkemiripan dengan karakter singa. Justru sebaliknya. Manusia dapat menjadi lebih buas daripada singa karena ia memiliki kemampuan untuk membenarkan kebuasannya. Namun, Mazmur ini tidak berhenti pada singa. Ia berakhir pada manusia yang keluar menuju pekerjaannya. Ada harapan di sana. Sebab manusia masih menerima pagi ketika matahari terbit. Hari baru ia terima. Pekerjaan menunggu. Tanah menunggu tangan. Keluarga menunggu tanggung jawab. Sesama menunggu kebaikan.
Dan Allah memberikan kesempatan untuk hidup dengan cara yang benar. Maka ketika pagi datang, mungkin pertanyaannya bukan: “Siapa yang dapat kujadikan mangsa hari ini?”
Melainkan: “Siapa yang dapat kubantu hidup hari ini?”
Bukan: “Apa yang dapat kuambil dari dunia?”
Melainkan: “Apa yang dapat kutinggalkan bagi dunia?”
Bukan: “Siapa yang dapat kugunakan?”
Melainkan: “Siapa yang dapat kulayani?”
Sebab manusia yang benar-benar sadar akan kehidupannya tidak hidup hanya untuk makan. Ia hidup untuk memberi kehidupan. Malam akan datang lagi. Singa akan kembali keluar. Ia akan mengaum mencari makan. Dan entah di mana, di balik pepohonan yang gelap, Allah tetap memelihara kehidupan.
Pagi akan datang kembali. Singa akan kembali ke sarangnya. Manusia akan keluar menuju pekerjaannya. Begitulah kehidupan berjalan dalam irama yang telah ditentukan Sang Pencipta.
Tetapi manusia mempunyai satu tugas yang tidak dimiliki singa: menjaga agar dirinya tidak menjadi mangsa bagi keserakahannya sendiri, dan tidak menjadikan sesamanya sebagai mangsa bagi ambisinya.
Sebab singa hanya mencari makan. Tetapi manusia dapat mencari mangsa. Dan ketika itu terjadi, yang perlu ditakuti bukan lagi suara singa di dalam hutan. Yang perlu ditakuti adalah manusia yang kehilangan rasa cukup, kehilangan belas kasih, kehilangan rasa malu, dan kehilangan kesadaran bahwa orang lain juga diciptakan oleh Allah. Barangkali kebijaksanaan terbesar bukanlah menjadi singa yang paling kuat. Bukan pula menjadi manusia yang paling berkuasa. Melainkan menjadi manusia yang tahu kapan harus mencari, kapan harus berhenti, kapan harus bekerja, dan kapan harus berkata:
“Tuhan, cukupkanlah aku dengan makanan yang Engkau berikan setiap hari, supaya dalam mencari hidup aku tidak mengambil kehidupan orang lain.”
Sebab pada akhirnya, kita semua hidup di bawah matahari yang sama. Dan ketika matahari terbit, Allah tidak hanya memanggil kita untuk bekerja. Ia memanggil kita untuk tetap menjadi manusia.
Penulis : Heronimus Bani
Editor : Heronimus Bani









