KETIKA PEREMPUAN MEMBUKA TANAH, HARAPAN AIR PUN DIMULAI
Oleh: Arnichus Loit
Di tanah Amfo’ang, air bukan sekadar penawar dahaga atau pemenuh kebutuhan raga. Lebih dari itu, air adalah hembusan napas kehidupan itu sendiri. Menyusuri bentang alamnya yang berbukit-bukit, terutama ketika musim kemarau melintas dan memanggang persada, kehadiran seceruk air menjadi penentu batas antara kelangsungan hidup dan keputusasaan. Air mengalir dalam seluruh denyut keseharian: untuk diminum, memasak, memandikan buah hati, menyiram ladang yang meretas, hingga memberi minum ternak yang menjadi penopang ekonomi keluarga.
Sebab itulah, bagi masyarakat Atoin Meto’ di Amfo’ang, menggali sumur tidak pernah boleh direduksi sekadar aktivitas fisik menancapkan cangkul ke dalam tanah. Di dalam setiap ayunan cangkul, terpaut doa, tradisi, dan deretan nilai leluhur yang diwariskan lintas generasi.
Ada satu bagian yang paling memikat sekaligus menyentuh dari tradisi ini: galian pertama satu lubang sumur wajib dilakukan oleh seorang perempuan.
Bagi masyarakat yang masih setia merawat warisan budaya ini, penyerahan cangkul pertama kepada perempuan, yakni pada seorang gadis bukanlah kebetulan belaka. Ada keyakinan spiritual dan harapan mendalam agar sumur yang dibangun kelak meluapkan mata air yang melimpah, mengalirkan debit yang tak kunjung usai, dan tidak mudah menyerah pada kemarau panjang. Suatu gestur yang sekilas tampak sederhana, namun menampung kedalaman makna kosmis.
Mengapa Harus Perempuan?
Dalam pandangan kosmologi budaya Atoin Meto’ Amfo’ang, perempuan memegang relasi spiritual yang amat erat dengan akar kehidupan. Perempuan adalah rahim ~ sosok ibu yang mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, serta membesarkan generasi pembawa masa depan. Perempuan adalah simbol mula dari keberlanjutan dan keberadaan manusia di muka bumi.
Di sisi lain, air adalah rahim bagi alam semesta. Tanpa air, ritme kehidupan akan pincang. Tanaman meranggas layu, ternak mati kehausan, dan peradaban di dalam rumah tangga runtuh seketika.
Ketika seorang perempuan melangkah maju, berlutut, melafalkan “doa” kepada Sang Khalik dan membuka tanah untuk galian pertama, di situlah terjadi perjumpaan sakral dua simbol kehidupan. Perempuan sebagai lambang keberlanjutan insani membukakan jalan bagi air sebagai sumber keberlanjutan alam.
Aksi tersebut adalah bentuk dialog sunyi sekaligus doa yang dititipkan kepada alam semesta: semoga bumi mau membuka diri, memberikan rizki air yang cukup, dan terus mengalir menjaga kehidupan kita dalam rentang waktu yang panjang.