Bahasa dipahami sebagai alat komunikasi. Manusia menggunakan bahasa untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan pengalaman hidup. Namun, bagi setiap komunitas budaya, bahasa jauh lebih dalam daripada sekadar rangkaian kata. Bahasa menyimpan ingatan, nilai, cara melihat dunia, bahkan cara manusia memahami hubungan dengan Sang Pencipta.
Satu testimoni pada bagian awal Alkitab Perjanjian Baru hasil terjemahan Unit Bahasa dan Budaya GMIT menegaskan:
“Tuhan memberikan bahasa kepada setiap suku bangsa menjadi bahasa pergaulan yang menyenangkan. Tuhan mau berbicara dengan kita dengan bahasa yang Ia berikan, sehingga lebih akrab karena keluar dari hati, tidak munafik. Alkitab dalam bahasa Amarasi-Kotos adalah bentuk hubungan Tuhan dengan orang Amarasi dan pengguna bahasa itu.” (Heronimus Bani)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pernyataan ini menyentuh satu hal mendasar: bahasa bukan hanya milik manusia, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan manusia dengan Tuhan.
Dalam sejarah kehidupan manusia, bahasa ibu adalah bahasa pertama yang membentuk seseorang. Melalui bahasa itulah seorang anak pertama kali mengenal kasih, teguran, nasihat, cerita keluarga, dan nilai-nilai kehidupan. Bahasa ibu adalah bahasa yang hadir sebelum seseorang memahami teori tentang dunia; ia adalah bahasa pengalaman.
Karena itu, ketika sebuah teks keagamaan diterjemahkan ke dalam bahasa lokal, yang terjadi bukan hanya perpindahan kata dari satu bahasa ke bahasa lain. Ada proses yang lebih dalam: pesan itu memasuki ruang budaya masyarakat yang menggunakannya.
Lebih dari 25 tahun terakhir, Unit Bahasa dan Budaya Gereja Masehi Injili di Timor telah bekerja untuk menerjemahkan Alkitab, khususnya Perjanjian Baru, ke dalam berbagai bahasa. Setiap produk bukan hanya menjadi sebentuk buku yang diterjemahkan. Ia menjadi bagian dari perjalanan masyarakat pemilik dan pengguna bahasa itu dalam memahami iman melalui bahasa yang sejak lama menjadi rumah bagi pikiran dan perasaan mereka.
- Bahasa Amanatun
- Bahasa Amanuban
- Bahasa Amarasi Kotos
- Bahasa Amarasi Roi’is
- Bahasa Amfo’an
- Bahasa Fatule’u
- Bahasa Kupang (Bahasa Melayu Kreol Kupang)
- Bahasa Tetun
- Bahasa Helong
- Bahasa Molo
- Bahasa Aadang
- Bahasa Abolo
- Bahasa Abui
- Bahasa Klamu
- Bahasa Klon
- Bahasa Lembur
- Bahasa Melayu Alor
- Bahasa Pura
- Bahasa Teiwa
- Bahasa Wersing
- Bahasa Delha-Oe Nale
- Bahasa Dengka
- Bahasa Lole
- Bahasa Rikou-Oepao
- Bahasa Tii (Thie)
- Bahasa Dhao
- Bahasa Sabu (Hawu)
Setiap bahasa daerah, memiliki kekayaan ungkapan yang lahir dari kehidupan masyarakatnya. Bahasa itu bertumbuh dari hubungan manusia dengan alam, keluarga, kerja, adat, dan kehidupan bersama. Di dalamnya terdapat cara khas masyarakat untuk memaknai dunia.
Ketika pesan iman hadir dalam bahasa tersebut, masyarakat tidak lagi hanya menjadi pendengar dari satu pesan yang datang dari luar, tetapi menemukan bahwa pesan itu berbicara dari dalam pengalaman mereka sendiri.
Hal ini mengingatkan kita pada semangat peristiwa Pentakosta dalam tradisi Kristen, ketika orang-orang dari berbagai bangsa mendengar kabar baik dalam bahasa mereka masing-masing. Peristiwa itu menunjukkan bahwa keberagaman bahasa bukan penghalang bagi manusia untuk menerima pesan ilahi. Justru keberagaman bahasa menjadi tanda bahwa pesan itu dapat hadir dekat dengan manusia.
Namun, penghargaan terhadap bahasa lokal tidak berarti bahwa satu bahasa lebih tinggi daripada bahasa lain. Setiap bahasa memiliki martabatnya sendiri. Bahasa daerah dengan pengguna dalam jumlah banyak atau sedikit sama-sama memiliki kemampuan menjadi tempat manusia menyampaikan kebenaran, harapan, dan doa.
Dalam konteks kebudayaan yang terus berubah, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana menerjemahkan teks ke dalam bahasa lokal, tetapi bagaimana menjaga agar bahasa itu tetap hidup. Sebab sebuah bahasa akan kehilangan kekuatannya ketika tidak lagi digunakan dalam percakapan sehari-hari, dalam keluarga, dalam pendidikan, dan dalam kehidupan sosial.
Karena itu, terjemahan Alkitab dalam berbagai bahasa lokal/daerah yang dilakukan oleh Unit Bahasa dan Budaya GMIT dapat dipandang sebagai lebih dari satu karya linguistik. Ia merupakan bentuk penghargaan terhadap identitas budaya, upaya menjaga ingatan kolektif, dan pengakuan bahwa Tuhan hadir dalam berbagai bahasa manusia.
Pada akhirnya, ketika seseorang membaca firman dalam bahasa yang paling dekat dengan hatinya, mungkin yang terjadi bukan hanya ia memahami kata-kata, tetapi ia merasa sedang diajak berbicara.
Dan di situlah bahasa menjadi jembatan: antara manusia dan manusia, antara generasi lama dan generasi baru, serta antara manusia dan Tuhan.
Heronimus Bani ~ Pemulung Aksara









