Belajar Makna Idiom, Fefaf ~ Ketika Kata Kehilangan Penjaga

Jumat, 1 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mulut; Gambar Ilustrasi oleh ChatGPT

Mulut; Gambar Ilustrasi oleh ChatGPT

Seri 2: Fefaf — Ketika Kata Kehilangan Penjaga

Di Pah Amarasi, orang tidak hanya mengenali siapa yang pandai berbicara, tetapi juga siapa yang gagal menjaga mulutnya. Sebab fefaf bukan sekadar tempat keluar suara, ia adalah cermin batin. Dari sanalah orang menilai: apakah seseorang menyimpan kebijaksanaan, atau justru membiarkan kata-kata berkeliaran tanpa arah.

Ada yang disebut feef mahata’ ~ mulut gatal. Ia seperti tanah kering yang tak sabar menanti hujan, tetapi yang keluar justru debu. Orang dengan feef mahata’ tidak tahan diam. Setiap yang dilihat ingin segera diucapkan, setiap yang didengar ingin segera disebarkan. Kata-kata meluncur tanpa timbang, tanpa jeda. Dalam banyak hal, yang keluar bukan terang, melainkan kabut yang mengeruhkan suasana. Di lingkaran keluarga dan kampung, sosok seperti ini sering menjadi sumber riak~ kecil, tetapi tak henti-henti.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Serupa dengannya adalah feef mainuan ~ mulut lebar, luas. Ini bukan tentang ukuran fisik, tetapi tentang batas yang hilang. Ia berbicara panjang, melebar ke mana-mana, hingga lupa mana yang pantas dan mana yang seharusnya disimpan. Kata tidak lagi menjadi jembatan, melainkan banjir yang meluap tanpa kendali.

Lalu ada feef ankonan ~ mulut lubang. Ia seperti tempayan bocor: apa pun yang masuk tidak pernah tinggal lama. Rahasia tidak punya tempat aman. Cerita orang lain menjadi konsumsi umum. Dalam dunia adat yang menjunjung tinggi kepercayaan, feef ankonan adalah ancaman halus terhadap ikatan sosial. Sebab ketika mulut tak mampu menahan, relasi perlahan retak.

Dan yang paling kasat mata adalah feef ko’u ~ mulut besar. Ia berbicara dengan suara yang penuh, kadang disertai tawa, kadang tanpa rasa malu. Ada keberanian, tetapi bukan keberanian yang lahir dari kebenaran—melainkan dari ketidakpedulian. Yang diucapkan sering tajam, ceplas-ceplos, lebih banyak melukai daripada membangun. Sedikit yang baik tenggelam dalam banyak yang merusak.

Dalam keseharian orang Amarasi, idiom-idiom ini bukan sekadar label, tetapi peringatan sosial. Ia mengajarkan bahwa tidak semua yang bisa dikatakan perlu diucapkan. Ada etika yang tidak tertulis, tetapi hidup dalam kesadaran bersama: bahwa kata harus melewati hati sebelum keluar dari fefaf.

Dalam terang iman, ini menjadi semakin dalam. Sebab manusia tidak hanya bertanggung jawab kepada sesama, tetapi juga kepada Tuhan atas setiap kata yang terucap. Mulut yang tak terjaga bukan hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga meretakkan relasi spiritual. Kata-kata yang liar menjadi tanda bahwa batin kehilangan penuntun.

Maka di Pah Amarasi, orang tua sering tidak langsung menegur dengan marah. Mereka cukup menyebut: “na-feef ’…” . Satu kalimat pendek, tetapi sarat makna. Itu bukan sekadar kritik, melainkan ajakan untuk kembali, untuk belajar diam, menimbang, dan menghormati kekuatan kata.

Sebab pada akhirnya, fefaf bukan untuk membuktikan siapa paling banyak bicara, tetapi siapa yang paling tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam.

 

Heronimus Bani-Pemulung Aksara

 

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Cerita Air Bersih dan Kepedulian Polri di Kabupaten Kupang
Turun ke Lapangan, Usman Husin Temukan Data Penerima Bantuan Beras Perlu Diperbarui
ITB Hadirkan Alat Monitoring Lingkungan di Batnun
Usman Husin Minta Pemutakhiran Bansos Diperkuat: Kondisi Riil Warga Jadi Acuan
Polres Kupang Bergerak Lagi, Satu Ton Beras dan Logistik Dikirim untuk Korban Gempa di Sikka
Fetof~Naof: Perempuan di Depan Kata, Laki-laki Dalam Struktur
Sungai yang Mengajari Kami Pulang
1.300 Karya Disaring, Siswi SMKN 4 Kupang Masuk Sembilan Besar Kompetisi Pidato AHY Muda

Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 03:41

Cerita Air Bersih dan Kepedulian Polri di Kabupaten Kupang

Rabu, 16 September 2026 - 09:03

Turun ke Lapangan, Usman Husin Temukan Data Penerima Bantuan Beras Perlu Diperbarui

Selasa, 15 September 2026 - 10:21

ITB Hadirkan Alat Monitoring Lingkungan di Batnun

Senin, 14 September 2026 - 08:59

Usman Husin Minta Pemutakhiran Bansos Diperkuat: Kondisi Riil Warga Jadi Acuan

Minggu, 13 September 2026 - 11:46

Polres Kupang Bergerak Lagi, Satu Ton Beras dan Logistik Dikirim untuk Korban Gempa di Sikka

Berita Terbaru

ilustrasi oleh AI: berbicara di depan orang lain;

Gaya Hidup

Ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir

Senin, 28 Sep 2026 - 22:42

Konten tidak bisa disalin.