Seri 2: Fefaf — Ketika Kata Kehilangan Penjaga
Di Pah Amarasi, orang tidak hanya mengenali siapa yang pandai berbicara, tetapi juga siapa yang gagal menjaga mulutnya. Sebab fefaf bukan sekadar tempat keluar suara, ia adalah cermin batin. Dari sanalah orang menilai: apakah seseorang menyimpan kebijaksanaan, atau justru membiarkan kata-kata berkeliaran tanpa arah.
Ada yang disebut feef mahata’ ~ mulut gatal. Ia seperti tanah kering yang tak sabar menanti hujan, tetapi yang keluar justru debu. Orang dengan feef mahata’ tidak tahan diam. Setiap yang dilihat ingin segera diucapkan, setiap yang didengar ingin segera disebarkan. Kata-kata meluncur tanpa timbang, tanpa jeda. Dalam banyak hal, yang keluar bukan terang, melainkan kabut yang mengeruhkan suasana. Di lingkaran keluarga dan kampung, sosok seperti ini sering menjadi sumber riak~ kecil, tetapi tak henti-henti.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Serupa dengannya adalah feef mainuan ~ mulut lebar, luas. Ini bukan tentang ukuran fisik, tetapi tentang batas yang hilang. Ia berbicara panjang, melebar ke mana-mana, hingga lupa mana yang pantas dan mana yang seharusnya disimpan. Kata tidak lagi menjadi jembatan, melainkan banjir yang meluap tanpa kendali.
Lalu ada feef ankonan ~ mulut lubang. Ia seperti tempayan bocor: apa pun yang masuk tidak pernah tinggal lama. Rahasia tidak punya tempat aman. Cerita orang lain menjadi konsumsi umum. Dalam dunia adat yang menjunjung tinggi kepercayaan, feef ankonan adalah ancaman halus terhadap ikatan sosial. Sebab ketika mulut tak mampu menahan, relasi perlahan retak.
Dan yang paling kasat mata adalah feef ko’u ~ mulut besar. Ia berbicara dengan suara yang penuh, kadang disertai tawa, kadang tanpa rasa malu. Ada keberanian, tetapi bukan keberanian yang lahir dari kebenaran—melainkan dari ketidakpedulian. Yang diucapkan sering tajam, ceplas-ceplos, lebih banyak melukai daripada membangun. Sedikit yang baik tenggelam dalam banyak yang merusak.
Dalam keseharian orang Amarasi, idiom-idiom ini bukan sekadar label, tetapi peringatan sosial. Ia mengajarkan bahwa tidak semua yang bisa dikatakan perlu diucapkan. Ada etika yang tidak tertulis, tetapi hidup dalam kesadaran bersama: bahwa kata harus melewati hati sebelum keluar dari fefaf.
Dalam terang iman, ini menjadi semakin dalam. Sebab manusia tidak hanya bertanggung jawab kepada sesama, tetapi juga kepada Tuhan atas setiap kata yang terucap. Mulut yang tak terjaga bukan hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga meretakkan relasi spiritual. Kata-kata yang liar menjadi tanda bahwa batin kehilangan penuntun.
Maka di Pah Amarasi, orang tua sering tidak langsung menegur dengan marah. Mereka cukup menyebut: “na-feef ’…” . Satu kalimat pendek, tetapi sarat makna. Itu bukan sekadar kritik, melainkan ajakan untuk kembali, untuk belajar diam, menimbang, dan menghormati kekuatan kata.
Sebab pada akhirnya, fefaf bukan untuk membuktikan siapa paling banyak bicara, tetapi siapa yang paling tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam.
Heronimus Bani-Pemulung Aksara









