Permainan Rakyat dan Ritual Adat Pedjadja Aru di Sabu Raijua

Sabtu, 28 September 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh:

Jefrison Hariyanto Fernando, S.I.P

Narasumber : Lomi Mone (Deo Rai Liae)

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kupang-InfoNTT.com-, Pedjadja Aru merupakan sala satu permainan rakyat di Kabupaten Sabu Raijua yang masih dilestarikan hingga saat ini. Permainan rakyat Pedjadja Aru biasanya dilakukan di kampung-kampung adat yang ada di Kabupaten Sabu Raijua. Pedjadja Aru tersebut sudah menjadi agenda rutin tiap tahun dalam kelender adat Sabu karena permainan ini juga menjadi sala satu tahapan dalam upacara adat di Kabupaten Sabu Raijua.

Berdasarkan perhitungan kelender adat di kabupaten Sabu Raijua, yang mana Sabu Raijua memiliki 5 (Lima) wilayah adat yaitu wilayah adat Seba/Hab’ba yang mencakup wilayah administrasi Kecamatan Sabu Barat, wilayah adat Mahara yang mencakup wilayah administrasi Kecamatan Hawu Mehara, Wilayah adat Liae yang mencakup wilayah administrasi Kecamatan Sabu Liae, Wilayah adat Raijua yang mencakup kecamatan Raijua dan Wilayah adat Dimu yang mencakup 2 (dua) Kecamatan yaitu Kecamatan Sabu Timur dan Kecamatan Sabu Tengah.

Seluruh wilayah adat tersebut memiliki Kelender adat masing-masing sehingga pelaksanaan ritual adat pada masing-masing wilayah adat sudah diatur sedemikian rupa sehingga tidak bertabrakan antara wilayah adat yang satu dengan wilayah adat yang lain.

Selain itu, penyebutan nama ritual adat juga memiliki nama yang berbeda-beda antara satu wilayah adat dengan wilayah adat yang lain, salah satu contoh yang penulis temukan dilapangan yaitu soal penyebutan nama permainan Rakyat Lompat antan, di wilayah adat Seba/Hab”ba dan wilayah adat Mahara dinamakan Kewaji Aru, di wilayah adat Liae dan Raijua disebut Pedjadja Aru, sedangkan di wilayah adat Dimu disebut Pedogo Aru. Oleh karena itu, pada tulisan ini penulis ingin mengambil sala satu sampel wilayah adat yaitu wilayah adat liae.

Sesuai dengan perhitungan kelender adat liae, permainan rakyat sekaligus ritual adat Pedjadja Aru  akan dilaksanakan pada Warru AA perhitungan kelender adat Liae atau bulan Juni kelender Masehi tepatnya pada tanggal adat An’na Peluha atau enam hari setelah bulan muncul. Permainan rakyat dan Ritual adat Pedjadja Aru akan dimulai dengan proses atau tahapan yang bernama At’ta Aru atau memotong antan yang dilakukan oleh Mone Ama yang memangku jabatan sebagai Deo Rai.

Pada kegiatan At’ta Aru yang dilakukan oleh Deo Rai akan dibantu oleh sekertaris atau pembantunya yang memangku jabatan sebagai Bawa Unu Deo. Pemilihan Aru atau antan tidak semua kayu yang dipakai dalam ritual ini, akan tetapi yang menjadi Aru atau antan adalah batang pohon yang orang Sabu sebut dengan Wiu. Dalam kegiatan At”ta Aru tersebut Deo Rai akan pergi ke lokasi yang ditumbuhi oleh pohon Wiu dan melakukan pemotongan batang pohon tersebut sebanyak 7 (tujuh) batang dan dibawa ke kampung adat Kolo Gopo ( kampung adat yang menjadi pusat ritual Deo Rai).

Sesudah sampai di rumah adat yang bernama Banni Deo (Rumah Jabatan Deo Rai) di Kolo Gopo yang terletak di Desa Eilogo, Kecamatan Sabu Liae, Kabupaten Sabu Raijua, maka seluruh batang pohon yang dijadikan Aru tersebut dimasukan ke dalam rumah adat untuk di doakan oleh Deo Rai.

Permainan rakyat dan ritual adat Pedjadja Aru memiliki maksud dan tujuan untuk mendoakan dan memohon kesuburan untuk tanaman sorgum. Kesuburan yang dimaksud adalah mendoakan bibit yang disiapkan oleh seluruh petani agar menjadi bibit unggul, mendoakan kesuburan bagi tanaman sorgum serta mendoakan sorgum agar dijauhkan dari segala sarangan hama, burung serta penyakit lainya yang dapat menyebabkan petani gagal panen.

Karena itu, ketika bulan purnama muncul maka kegiatan Pedjadja Aru akan dilaksnakan pada malam hari dan akan dimulai dari tahapan Doa yang dipanjatkan oleh Deo Rai kepada Deo Ama atau Tuhan Allah yang dilakukan di tiang induk Rumah adat atau disebut dengan Tarru Duru. Setelah itu baru dilanjutkan dengan kegiatan Pedjadja Aru selama 14 ( empat Belas ) hari dikampung adat Dara Rae Gopo.

Dalam permainan rakyat pedjadja Aru, yang dilakukan di Dara Rae Gopo, yang menjadi pemain yang memegang  Aru sebanyak 8 (delapan ) orang. Sedangkan bagi pemain yang melompat tidak dibatasi berapa banyak, tergantung dari orang yang datang untuk ikut ritual tersebut. Dalam permainan tersebut terdiri atas dua macam gerakan yaitu Kewaji Aru Biasa dan Pe Eimada.

Kewaji Aru biasa merupakan gerakan melompat biasa yang dilakukan oleh pemain yang bertugas sebagai orang yang melompat atau Mone/Bani Kewaji melewati cela-cela Aru atau antan yang sedang dipukul oleh pemain yang berperan sebagai pemukul Aru atau antan atau disebut Mone/Bani Pedjadja. Sedangkan gerakan Pe Eimada akan dilakukan pada acara penutupan kegiatan ritual Pedjadja Aru.

Seluruh Aru atau Antan akan diatur dan disusun berbentuk sumur bersegi empat sambil para pemukul atau Mone/Bani Pedjadaj melakukan pedjadja maka yang berperan sebagai mone/bani Kewaji akan melompat ke dalam area yang berbentuk segi empat atau istilah dalam Permainan Pedjadaja Aru disebut Eimada atau Sumur, Mone/Bani Kewaji akan melompat dengan berhati-hati agar kakinya tidak terjepit oleh Aru atau antan yang dipukul oleh Mone/Bani Pedjadaja.

Pada puncak penutupan permainan rakyat dan ritual adat Pedjadja Aru yang dilakukan di Dara Rae Gopo, Deo Rai akan melakukan tahapan terakhir yang di sebut dengan Tahapan Pihe atau siram. Dalam tahapan Pihe ini, Deo Rai akan menyiapkan air gula Sabu dalam haik dan air gula tersebut akan dipakai menyiram loaksi Pedjadaja Aru termasuk para peserta beserta Aru yang dipakai. Pada ke esokan harinya 6 (enam) batang Aru atau antan akan dibuang dan satu batang akan di simpan untuk kegiatan tahun yang akan datang. (*)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Ketika singa hanya mencari makan, tetapi manusia mencari mangsa
Ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir
Rote Ndao Sebelum 2029: Komitmen Politik Usman Husin Memilih Berjuang dari Senayan 
Mengenal Peran Agrinas di Garis Depan Pembangunan Kopdes Merah Putih
Ketika Pengkhianatan Rumah Tangga Bersembunyi di Balik Seragam ASN
Proyek Bendung Oelnaimuti Amburadul, Pelaksana Kegiatan dan BWS NT II Disorot
Membongkar Budaya Diam pada Murid Sekolah Dasar
KoMBAD dalam Literasi Awal Murid Kelas 1 dan 2 Sekolah Dasar

Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 03:49

Ketika singa hanya mencari makan, tetapi manusia mencari mangsa

Senin, 28 September 2026 - 22:42

Ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir

Jumat, 25 September 2026 - 21:21

Rote Ndao Sebelum 2029: Komitmen Politik Usman Husin Memilih Berjuang dari Senayan 

Jumat, 25 September 2026 - 05:39

Mengenal Peran Agrinas di Garis Depan Pembangunan Kopdes Merah Putih

Rabu, 23 September 2026 - 01:36

Ketika Pengkhianatan Rumah Tangga Bersembunyi di Balik Seragam ASN

Berita Terbaru

ilustrasi oleh AI: berbicara di depan orang lain;

Gaya Hidup

Ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir

Senin, 28 Sep 2026 - 22:42

Konten tidak bisa disalin.