Merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Negara Republik Indonesia ke-81 tahun 2026 di Kecamatan Amabi Oefeto Timur bagi saya merupakan pengalaman yang sangat berkesan. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan suasana yang meriah dan penuh semangat kebersamaan. Kemerdekaan tidak hanya dirayakan melalui upacara, tetapi juga melalui perjumpaan masyarakat, pertandingan olahraga dan perlombaan seni kontemporer dan tradisional, dan berbagai kegiatan yang mempertemukan warga dalam suasana gembira. Pada sisi itu makna kemerdekaan terasa lebih dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Lomba-lomba yang diselenggarakan juga berlangsung sangat meriah dan menghibur (entertainment). Masyarakat menikmati setiap pertandingan dan perlombaan dengan penuh antusias, baik sebagai peserta maupun sebagai penonton. Patut diapresiasi sekaligus disadari bahwa dalam pelaksanaannya masih terdapat beberapa kegiatan yang waktunya sering diundur. Namun, hal tersebut tidak menghilangkan semangat masyarakat untuk tetap hadir dan mengikuti kegiatan-kegiatan dimaksud. Bagi saya, pengalaman ini justru menjadi pembelajaran penting bahwa suatu kegiatan bersama membutuhkan persiapan, koordinasi, dan ketepatan waktu agar ke depan dapat berjalan semakin baik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hal yang paling menggembirakan adalah kekompakan dan antusiasme warga. Masyarakat dari berbagai kelompok dan kategori terlihat ikut mengambil bagian dalam seluruh rangkaian perayaan. Semangat seperti ini sangat penting karena kemerdekaan pada dasarnya bukan hanya tentang mengenang perjuangan para pahlawan, tetapi juga tentang membangun persatuan dari lingkungan yang paling dekat dengan kita. Ketika masyarakat dapat berkumpul, bekerja sama, saling mendukung, dan bergembira bersama, nilai-nilai kemerdekaan sesungguhnya sedang dihidupkan kembali.
Sebagai bagian dari kegiatan perlombaan perdana di Kecamatan Amabi Oefeto Timur, saya melihat adanya peluang besar untuk mengembangkan kegiatan seni dan budaya pada tahun-tahun berikutnya. Salah satunya adalah perlombaan natoni (sebutan lainnya a’asramat, basan dan takanab) dan tari gong (bsoo’ sene). Karena kegiatan ini menjadi pengalaman perdana bagi kecamatan, tentu belum semua sekolah dapat terlibat. Padahal, seni tradisional bukan sekadar tontonan. Di dalamnya terdapat bahasa, sejarah, identitas, nilai kebersamaan, dan kebijaksanaan masyarakat yang perlu diwariskan kepada generasi muda.
Karena itu, harapan saya untuk perayaan kemerdekaan pada tahun-tahun mendatang yakni kegiatan pertandingan dan perlombaan dapat melibatkan masyarakat secara lebih luas, termasuk seluruh satuan pendidikan mulai dari PAUD, SD, SMP, hingga SMA/SMK se-Kecamatan Amabi Oefeto Timur. Keterlibatan sekolah akan membuat perayaan menjadi lebih hidup sekaligus menjadi ruang pendidikan karakter bagi anak-anak dan remaja. Mereka tidak hanya belajar menjadi pemenang dalam sebuah perlombaan, tetapi juga belajar bekerja sama, menghargai lawan, menerima kekalahan, menjaga disiplin, dan mencintai budaya sendiri.
Khusus untuk natoni dan tari gong (bsoo’ sene), saya berharap pada tahun berikutnya sekolah-sekolah yang belum terlibat dapat mengambil bagian di dalamnya. Dengan demikian, perlombaan tidak sekadar mencari siapa yang terbaik, tetapi menjadi proses pembelajaran dan pelestarian budaya. Semakin banyak sekolah yang terlibat, semakin besar pula kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal dan mencintai warisan budaya daerahnya sendiri.
Pada akhirnya, saya melihat perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-81 di Kecamatan Amabi Oefeto Timur sebagai satu langkah yang baik. Masih ada kekurangan yang perlu diperbaiki, itu sikap yang wajar, tetapi di balik kekurangan itu terdapat semangat masyarakat yang sangat besar. Semangat itulah yang harus dipelihara. Sebab kemerdekaan akan semakin bermakna apabila dirayakan bukan hanya dengan kemeriahan, tetapi juga dengan persatuan, keterlibatan, pendidikan, dan kecintaan terhadap budaya.
Semoga pada tahun-tahun mendatang perayaan HUT Kemerdekaan di Kecamatan Amabi Oefeto Timur semakin tertata, semakin meriah, dan semakin inklusif. Semoga masyarakat dan sekolah-sekolah dapat berjalan bersama, sehingga setiap anak memiliki kesempatan untuk tampil, belajar, berkarya, dan merasa bahwa kemerdekaan adalah milik mereka juga.
Salam Merdeka!
Penulis: Deci Marni Reinsini, S.Sn.
Editor: Heronimus Bani, M.M









