Guru Honorer: Pilar yang Diabaikan, namun Menopang Pendidikan Nasional

Minggu, 27 Juli 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi guru honorer

Ilustrasi guru honorer

Oleh: Heronimus Bani

Dalam sebuah rapat dengar pendapat antara Komisi X DPR RI dan Pengurus Besar PGRI, Tharismah Ismail, anggota DPR RI yang membidangi pendidikan, menyampaikan sebuah pernyataan yang menggugah sekaligus menyentil realitas pendidikan nasional: “_Tidak mungkin untuk sekolah tidak merekrut guru honorer, kecuali ingin pendidikan di Indonesia bangkrut.”

Pernyataan ini bukan sekadar retorika politis, melainkan cerminan jujur atas ketergantungan akut sistem pendidikan nasional terhadap tenaga honorer. Di berbagai pelosok negeri, dari dataran tinggi Papua hingga desa-desa di Nusa Tenggara Timur, guru honorer menjadi denyut nadi pendidikan dasar hingga menengah. Mereka hadir di kelas-kelas tanpa jaminan kesejahteraan, namun dengan semangat pengabdian yang luar biasa.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

  • Kenyataan Lapangan: Ketergantungan Sistemik

Sekolah-sekolah negeri, terutama di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal), sering kali hanya memiliki satu atau dua guru ASN. Sisanya adalah guru honorer yang menambal kekurangan tenaga pengajar tetap. Mereka bukan pilihan, tapi keharusan. Tanpa mereka, ratusan ribu kelas akan kosong; jutaan siswa akan kehilangan hak dasarnya untuk belajar.

Ironisnya, keberadaan mereka seolah hanya diakui saat krisis muncul. Ketika beban belajar meningkat, saat guru ASN pensiun, atau ketika sistem pendidikan hampir lumpuh, barulah suara tentang pentingnya guru honorer terdengar.

  • Antara Ideal dan Realitas

Idealnya, sistem pendidikan tidak boleh bergantung pada tenaga kerja yang digaji di bawah standar kemanusiaan. Namun realitas menunjukkan bahwa negara belum mampu memenuhi kebutuhan formasi guru secara proporsional. Ketimpangan antara kebutuhan dan penempatan guru ASN membuat guru honorer menjadi solusi cepat, murah, dan praktis, namun sering kali tanpa kebijakan perlindungan yang memadai.

  • Pesan Moral dan Tanggung Jawab Negara

Pernyataan Tarismah Ismail menyiratkan satu hal: jika negara tidak serius menyelesaikan masalah honorer, maka yang dipertaruhkan bukan hanya nasib para guru, tapi masa depan bangsa. Pendidikan yang terus berdiri di atas pilar yang rapuh akan menghadapi kehancuran sistemik—yang tidak bisa ditambal hanya dengan kurikulum baru atau slogan revolusi mental.

Pendidikan bukan hanya soal murid dan kurikulum, tetapi juga tentang siapa yang berdiri di depan kelas. Ketika guru honorer terus dibayar di bawah UMR, tidak memiliki jaminan kesehatan, dan berada dalam ketidakpastian status hukum, maka yang rusak bukan hanya tubuh guru itu sendiri, tapi juga martabat profesi dan kualitas pendidikan.

  • Jalan ke Depan: Legalisasi dan Kesejahteraan

Sudah saatnya negara berhenti memandang guru honorer sebagai ‘pengisi kekosongan’. Mereka harus diakui, dihargai, dan difasilitasi secara legal dan adil. Pemerintah dan DPR perlu memastikan bahwa kebijakan rekrutmen ASN melalui jalur PPPK atau jalur lainnya berjalan adil, transparan, dan manusiawi.

Dalam terang konstitusi, pendidikan adalah hak warga negara dan tanggung jawab negara. Maka, negara juga wajib memastikan bahwa pendidik, siapapun dia, dihormati dan dihargai setara dengan tanggung jawab yang mereka pikul.

Akhir kata, pernyataan Tharisman Ismail adalah panggilan untuk bangkit dari kemunafikan sistemik: kita tidak bisa terus bergantung pada guru honorer sambil terus menutup mata terhadap penderitaan mereka. Jika tidak ingin pendidikan kita bangkrut, maka investasilah secara serius pada mereka yang selama ini menopangnya tanpa pamrih.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Ketika singa hanya mencari makan, tetapi manusia mencari mangsa
Ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir
Upaya RJ Belum Temukan Titik Temu, Kuasa Hukum Teldi Mooy Minta Penyidik Dalami Penguasaan Sertifikat
Rote Ndao Sebelum 2029: Komitmen Politik Usman Husin Memilih Berjuang dari Senayan 
Mengenal Peran Agrinas di Garis Depan Pembangunan Kopdes Merah Putih
Cerita Air Bersih dan Kepedulian Polri di Kabupaten Kupang
Ultimatum 48 Jam!! Forum Wartawan NTT Desak Kapolda Evaluasi Kapolres TTU
Ketika Pengkhianatan Rumah Tangga Bersembunyi di Balik Seragam ASN

Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 03:49

Ketika singa hanya mencari makan, tetapi manusia mencari mangsa

Senin, 28 September 2026 - 22:42

Ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir

Senin, 28 September 2026 - 09:34

Upaya RJ Belum Temukan Titik Temu, Kuasa Hukum Teldi Mooy Minta Penyidik Dalami Penguasaan Sertifikat

Jumat, 25 September 2026 - 21:21

Rote Ndao Sebelum 2029: Komitmen Politik Usman Husin Memilih Berjuang dari Senayan 

Jumat, 25 September 2026 - 05:39

Mengenal Peran Agrinas di Garis Depan Pembangunan Kopdes Merah Putih

Berita Terbaru

ilustrasi oleh AI: berbicara di depan orang lain;

Gaya Hidup

Ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir

Senin, 28 Sep 2026 - 22:42

Konten tidak bisa disalin.