Melodi Genderang Barongsai di NTT: Dukungan Gubernur Melki Laka Lena Menuju PON 

Sabtu, 7 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pertemuan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia bersama Gubernur NTT.

Pertemuan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia bersama Gubernur NTT.

KUPANG,- Di setiap hentakan genderang dan gerak lincah singa warna-warni, barongsai tidak sekadar menampilkan atraksi. Kesenian ini adalah perpaduan keberanian, ketangkasan, disiplin, dan semangat kebersamaan. Sejak berabad-abad lalu, barongsai menjadi simbol keberuntungan dan persatuan, sebuah pertunjukan budaya yang menyatukan seni, olahraga, dan tradisi dalam satu panggung yang memikat.

Semangat itulah yang kini mendapat perhatian di Nusa Tenggara Timur. Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menunjukkan dukungannya terhadap perkembangan kesenian sekaligus olahraga barongsai di daerah ini.

Dukungan tersebut terungkap saat menerima audiensi pengurus Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) dalam sebuah pertemuan yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan, Jumat (6/3/2026).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pertemuan itu menjadi lebih dari sekadar silaturahmi. Ia menjelma menjadi ruang dialog tentang bagaimana barongsai tidak hanya dipandang sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai cabang olahraga yang mampu mengharumkan nama daerah di tingkat nasional.

Dalam audiensi tersebut, Sekretaris Umum PSMTI, Peng Suyoto, hadir bersama sejumlah pengurus pusat dan daerah. Ia didampingi Ketua Harian PSMTI Pusat Djoni Toat serta Sekretaris Jenderal Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) Heryanto Salim. Turut hadir pula jajaran pengurus PSMTI Provinsi NTT, di antaranya Bobby Lianto dan Sonny Tamara.

Percakapan berlangsung cair, namun penuh gagasan. Salah satu topik penting yang mengemuka adalah peluang besar bagi atlet barongsai NTT untuk tampil dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) mendatang, terlebih ketika NTT dipercaya menjadi tuan rumah.

Gubernur Melki Laka Lena menyambut gagasan tersebut dengan optimisme. Baginya, barongsai bukan hanya seni budaya komunitas tertentu, tetapi juga bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang dapat berkembang di mana saja, termasuk di NTT yang dikenal sebagai tanah keberagaman.

Sebagai langkah awal, dibahas pula rencana penyelenggaraan Kejuaraan Nasional Barongsai bertajuk Gubernur Cup. Ajang ini diharapkan menjadi panggung pembinaan sekaligus pemanasan bagi para atlet sebelum berlaga di kompetisi yang lebih besar.

Lebih dari sekadar kompetisi, kegiatan tersebut juga diharapkan menjadi momentum untuk memperkenalkan barongsai kepada masyarakat luas di NTT. Dengan demikian, generasi muda dapat melihat bahwa di balik tarian singa yang atraktif, terdapat latihan keras, kekompakan tim, dan semangat sportivitas yang tinggi.

Di tengah dinamika masyarakat yang beragam, barongsai justru menjadi simbol bagaimana budaya dapat menjembatani perbedaan. Melalui gerakan yang kompak dan irama yang energik, barongsai menyampaikan pesan sederhana: bahwa kebersamaan selalu memiliki ruang untuk tumbuh.

Dukungan pemerintah daerah dalam pengembangan olahraga dan seni seperti ini menjadi penanda penting bahwa NTT tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga merawat ruang kebudayaan dan kreativitas masyarakatnya.

Jika kelak barongsai benar-benar tampil gemilang di panggung PON dari tanah NTT, maka kisahnya mungkin akan selalu diingat bermula dari sebuah pertemuan sederhana—ketika semangat budaya, olahraga, dan kebersamaan bertemu dalam satu meja audiensi.**

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Ketika perempuan membuka tanah, harapan pun dimulai
Ketika singa hanya mencari makan, tetapi manusia mencari mangsa
Upaya RJ Belum Temukan Titik Temu, Kuasa Hukum Teldi Mooy Minta Penyidik Dalami Penguasaan Sertifikat
Rote Ndao Sebelum 2029: Komitmen Politik Usman Husin Memilih Berjuang dari Senayan 
Mengenal Peran Agrinas di Garis Depan Pembangunan Kopdes Merah Putih
Cerita Air Bersih dan Kepedulian Polri di Kabupaten Kupang
Ultimatum 48 Jam!! Forum Wartawan NTT Desak Kapolda Evaluasi Kapolres TTU
Ketika Pengkhianatan Rumah Tangga Bersembunyi di Balik Seragam ASN

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 00:12

Ketika perempuan membuka tanah, harapan pun dimulai

Rabu, 30 September 2026 - 03:49

Ketika singa hanya mencari makan, tetapi manusia mencari mangsa

Senin, 28 September 2026 - 09:34

Upaya RJ Belum Temukan Titik Temu, Kuasa Hukum Teldi Mooy Minta Penyidik Dalami Penguasaan Sertifikat

Jumat, 25 September 2026 - 21:21

Rote Ndao Sebelum 2029: Komitmen Politik Usman Husin Memilih Berjuang dari Senayan 

Jumat, 25 September 2026 - 03:41

Cerita Air Bersih dan Kepedulian Polri di Kabupaten Kupang

Berita Terbaru

Gambar ilustrasi oleh AI

Budaya

Ketika perempuan membuka tanah, harapan pun dimulai

Kamis, 1 Okt 2026 - 00:12

ilustrasi oleh AI: berbicara di depan orang lain;

Gaya Hidup

Ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir

Senin, 28 Sep 2026 - 22:42

Konten tidak bisa disalin.