Regulasi Ditegakkan: Langkah Korektif Bupati Ngada Terhadap Jabatan Sekda 

Selasa, 17 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi pelantikan

Ilustrasi pelantikan

KUPANG,- Langit birokrasi di Kabupaten Ngada dalam beberapa pekan terakhir menghadirkan dinamika yang tak sederhana. Di tengah upaya menjaga stabilitas pemerintahan dan pelayanan publik, sebuah keputusan penting diambil: pencabutan pengangkatan Sekretaris Daerah (Sekda). Langkah ini bukan sekadar administrasi, melainkan refleksi komitmen terhadap supremasi regulasi dan kepastian hukum dalam tata kelola pemerintahan daerah.

Dalam kerangka menegakkan aturan yang berlaku, Bupati Ngada mencabut Keputusan Bupati Ngada Nomor 168/KEP/HK/2026 tentang Pengangkatan PNS dalam Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama Sekretaris Daerah Kabupaten Ngada. Keputusan ini diambil dengan merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 yang telah diubah melalui Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2020, khususnya Pasal 127 ayat 3, yang menegaskan pentingnya koordinasi dan kepatuhan prosedural dalam pengangkatan Sekda.

Pencabutan tersebut tidak terjadi dalam ruang hampa. Pelantikan Sekda pada 6 Maret 2026 dinilai belum sepenuhnya memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan. Situasi ini diperkuat oleh hasil koordinasi antara Pemerintah Kabupaten Ngada dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, termasuk surat dari Gubernur NTT yang merespons usulan sebelumnya terkait calon Sekda. Dalam konteks ini, koordinasi bukan sekadar formalitas, melainkan instrumen penting untuk menjamin kepastian hukum dan legitimasi jabatan strategis dalam pemerintahan daerah.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Aspek lain yang turut menjadi pertimbangan adalah masa berlaku Pertimbangan Teknis (Pertek) dari Kepala BKN. Pertek Nomor 28338/R-AK.02.03/SD/F/2025 tertanggal 25 November 2025 diketahui telah berakhir pada 2 Maret 2026. Meski perpanjangan Pertek telah diterbitkan melalui Nomor 13124/R-AK.02.03/SD/F/2026 pada 4 Maret 2026, proses koordinasi lanjutan dengan Gubernur sebagaimana diamanatkan regulasi belum dilakukan. Hal ini menjadi catatan penting, mengingat makna koordinasi dalam Permendagri Nomor 1 Tahun 2023 tidak hanya administratif, tetapi substansial dalam menjamin legalitas kebijakan publik.

Kesadaran atas pentingnya tata kelola yang tertib kemudian mendorong dilakukannya pertemuan antara Bupati Ngada bersama jajaran dengan Gubernur NTT dan tim pemerintah provinsi pada 11 dan 13 Maret 2026. Dalam forum musyawarah tersebut, disepakati bahwa keputusan pengangkatan Sekda atas nama Yohanes Capistrano Watu Ngebu perlu dicabut. Kesepakatan ini sekaligus menjawab surat Gubernur NTT Nomor 800/50/BKD.3.2 tertanggal 6 Maret 2026 tentang pembatalan keputusan pengangkatan Sekda.

Tindak lanjut dari kesepakatan itu diwujudkan melalui penerbitan Keputusan Bupati Ngada Nomor 172/KEP/HK/2026 tanggal 16 Maret 2026. Sebagai langkah menjaga kesinambungan pemerintahan, Bupati Ngada juga mengusulkan Penjabat (Pj.) Sekda serta tiga calon Sekda definitif kepada Gubernur NTT, sesuai rekomendasi Kepala BKN, sebelum penetapan оконч dilakukan.

Di balik dinamika ini, terdapat pesan penting tentang kedewasaan bernegara. Pemerintah Provinsi NTT menyampaikan apresiasi kepada Bupati dan jajaran Pemerintah Kabupaten Ngada, DPRD Ngada, serta seluruh elemen masyarakat yang menunjukkan kearifan dalam menyikapi proses ini. Kepatuhan terhadap regulasi dan keterbukaan dalam berkoordinasi menjadi fondasi penting bagi terciptanya pemerintahan yang akuntabel dan berintegritas.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa dalam tata kelola pemerintahan, setiap keputusan bukan hanya soal kewenangan, tetapi juga tanggung jawab hukum dan moral. Dinamika yang terjadi di Ngada dapat menjadi pembelajaran kolektif: bahwa menjaga sistem pemerintahan tetap berada di jalur regulasi membutuhkan komitmen, komunikasi, dan kebijaksanaan dari semua pihak.

Atas nama Gubernur Nusa Tenggara Timur, pernyataan ini disampaikan oleh Ketua Tim Kerja Percepatan Pembangunan Daerah dan Komunikasi Pemerintahan, Prisila Pareira. Ini sebuah penegasan bahwa di balik setiap kebijakan, terdapat upaya menjaga kepercayaan publik terhadap institusi pemerintahan.***

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Upaya RJ Belum Temukan Titik Temu, Kuasa Hukum Teldi Mooy Minta Penyidik Dalami Penguasaan Sertifikat
Rote Ndao Sebelum 2029: Komitmen Politik Usman Husin Memilih Berjuang dari Senayan 
Mengenal Peran Agrinas di Garis Depan Pembangunan Kopdes Merah Putih
Cerita Air Bersih dan Kepedulian Polri di Kabupaten Kupang
Ultimatum 48 Jam!! Forum Wartawan NTT Desak Kapolda Evaluasi Kapolres TTU
Ketika Pengkhianatan Rumah Tangga Bersembunyi di Balik Seragam ASN
Polisi Kejar Pelaku Pembobolan Minimarket dan ATM BRI di Kabupaten Kupang
Proyek Bendung Oelnaimuti Amburadul, Pelaksana Kegiatan dan BWS NT II Disorot

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 09:34

Upaya RJ Belum Temukan Titik Temu, Kuasa Hukum Teldi Mooy Minta Penyidik Dalami Penguasaan Sertifikat

Jumat, 25 September 2026 - 21:21

Rote Ndao Sebelum 2029: Komitmen Politik Usman Husin Memilih Berjuang dari Senayan 

Jumat, 25 September 2026 - 05:39

Mengenal Peran Agrinas di Garis Depan Pembangunan Kopdes Merah Putih

Rabu, 23 September 2026 - 06:59

Ultimatum 48 Jam!! Forum Wartawan NTT Desak Kapolda Evaluasi Kapolres TTU

Rabu, 23 September 2026 - 01:36

Ketika Pengkhianatan Rumah Tangga Bersembunyi di Balik Seragam ASN

Berita Terbaru

ilustrasi oleh AI: berbicara di depan orang lain;

Gaya Hidup

Ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir

Senin, 28 Sep 2026 - 22:42

Konten tidak bisa disalin.