Pasca Longsor Desember 2025, Warga Oeniko Tetapkan Lokasi Relokasi Secara Swadaya

Jumat, 10 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rumah warga Desa Oeniko terdampak bencana tanah bergerak dan longsor.

Rumah warga Desa Oeniko terdampak bencana tanah bergerak dan longsor.

KUPANG,- Bencana tanah bergerak dan longsor yang terjadi pada Desember 2025 di Kampung Oepopon, RT 004/RW 002, Dusun II, Desa Oeniko, Kecamatan Amabi Oefeto Timur, Kabupaten Kupang, masih menyisakan kekhawatiran bagi warga hingga kini.

Sebanyak 25 kepala keluarga (KK) tercatat terdampak dalam peristiwa tersebut. Selain merusak permukiman warga, longsor juga mengancam satu gedung ibadah, pastori gereja, serta satu unit bangunan posyandu yang menjadi fasilitas penting bagi masyarakat setempat.

Salah satu warga Desa Oeniko, Yohanis Siki, kepada media ini, Jumat (10/4/2026), mengungkapkan bahwa pascabencana, pemerintah desa telah mengambil langkah awal penanganan. Namun demikian, hingga saat ini belum ada kunjungan langsung dari pemerintah kabupaten maupun provinsi, meskipun laporan resmi telah disampaikan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami sudah melaporkan melalui pemerintah desa, tetapi sampai sekarang belum ada kunjungan langsung dari pemerintah di atas,” ujarnya.

Nampak fondasi gereja mengalami longsor.

Di tengah keterbatasan tersebut, warga tidak tinggal diam. Pada Kamis, 9 April 2026, masyarakat Dusun II Oeniko menggelar rapat keluarga untuk merumuskan langkah strategis dalam menghadapi potensi longsor lanjutan.

Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan penting, yakni penetapan dua lokasi relokasi bagi warga terdampak. Selain itu, warga juga berencana segera melakukan rapat lanjutan guna mengeksekusi hasil keputusan tersebut, termasuk pengukuran lahan relokasi serta pembukaan akses jalan alternatif sebagai jalur evakuasi.

Rapat tersebut turut melibatkan unsur adat yang memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan komunitas, di antaranya Kepala Suku Tenma’u dari Raknamo, perwakilan anak suku Bareut dari Oenuntono, anak suku Adonis dari Raknamo, serta anak suku Follabesi dari Oepopon.

Langkah kolektif ini menunjukkan kuatnya solidaritas masyarakat dalam menghadapi bencana. Namun, warga tetap berharap adanya kehadiran dan dukungan konkret dari pemerintah daerah, baik dalam bentuk peninjauan langsung, bantuan teknis, maupun percepatan proses relokasi.

“Kami berharap pemerintah bisa melihat langsung kondisi kami dan mendukung hasil keputusan bersama ini,” tambah Yohanis.

Situasi ini menjadi pengingat bahwa kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah sangat dibutuhkan dalam penanganan bencana, terutama untuk memastikan keselamatan warga serta keberlanjutan kehidupan sosial di wilayah terdampak.(*Chris)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Ketika singa hanya mencari makan, tetapi manusia mencari mangsa
Upaya RJ Belum Temukan Titik Temu, Kuasa Hukum Teldi Mooy Minta Penyidik Dalami Penguasaan Sertifikat
Rote Ndao Sebelum 2029: Komitmen Politik Usman Husin Memilih Berjuang dari Senayan 
Mengenal Peran Agrinas di Garis Depan Pembangunan Kopdes Merah Putih
Cerita Air Bersih dan Kepedulian Polri di Kabupaten Kupang
Ultimatum 48 Jam!! Forum Wartawan NTT Desak Kapolda Evaluasi Kapolres TTU
Ketika Pengkhianatan Rumah Tangga Bersembunyi di Balik Seragam ASN
Polisi Kejar Pelaku Pembobolan Minimarket dan ATM BRI di Kabupaten Kupang

Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 03:49

Ketika singa hanya mencari makan, tetapi manusia mencari mangsa

Senin, 28 September 2026 - 09:34

Upaya RJ Belum Temukan Titik Temu, Kuasa Hukum Teldi Mooy Minta Penyidik Dalami Penguasaan Sertifikat

Jumat, 25 September 2026 - 21:21

Rote Ndao Sebelum 2029: Komitmen Politik Usman Husin Memilih Berjuang dari Senayan 

Jumat, 25 September 2026 - 05:39

Mengenal Peran Agrinas di Garis Depan Pembangunan Kopdes Merah Putih

Rabu, 23 September 2026 - 06:59

Ultimatum 48 Jam!! Forum Wartawan NTT Desak Kapolda Evaluasi Kapolres TTU

Berita Terbaru

ilustrasi oleh AI: berbicara di depan orang lain;

Gaya Hidup

Ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir

Senin, 28 Sep 2026 - 22:42

Konten tidak bisa disalin.