Pesta Sehari, Beban Bertahun-tahun

Rabu, 26 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Resepsi pernikahan dan dampaknya, ilustrasi oleh ChatGPT

Resepsi pernikahan dan dampaknya, ilustrasi oleh ChatGPT

Pesta Sehari, Beban Bertahun-Tahun: Suatu catatan Reflektif

Di banyak masyarakat, perkawinan bukan sekadar pertemuan dua manusia yang saling mencintai. Ia adalah perjumpaan dua keluarga, dua rumpun kekerabatan, bahkan dua sejarah sosial. Karena itu, resepsi pernikahan sering menjadi lebih besar daripada pasangan yang sedang menikah. Di sana hadir keluarga besar, kerabat, tetangga, tokoh adat, sahabat, petinggi tertentu dan masyarakat sebagai saksi.

  • Pesta menjadi panggung kebudayaan.

Di atas panggung itu, kain terbaik dibentangkan, makanan disajikan, musik dibunyikan, pengantin didandani seindah mungkin. Kamera mengabadikan setiap sudut. Senyum menjadi bahasa yang wajib. Tamu datang membawa ucapan selamat, lalu pulang membawa cerita tentang kemeriahan pesta.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, antropologi mengajarkan kita untuk tidak berhenti pada apa yang tampak.
Sebab kebudayaan bukan hanya apa yang dipertontonkan di ruang publik. Kebudayaan juga hidup dalam keputusan-keputusan yang tersembunyi: dalam rasa malu, gengsi, kewajiban, harapan keluarga, tekanan kerabat, dan ketakutan terhadap penilaian masyarakat.

Di sinilah paradoks itu muncul. Semakin sederhana kemampuan ekonomi satu keluarga, kadang semakin besar pula tuntutan untuk menyelenggarakan pesta yang terlihat mewah. Bukan karena mereka tidak memahami kesulitan hidup. Justru mungkin karena mereka terlalu memahami arti kehormatan.

Dalam masyarakat komunal, perkawinan adalah peristiwa sosial. Keluarga merasa perlu menunjukkan bahwa mereka mampu menerima tamu, menghormati kerabat, dan menyelenggarakan suatu peristiwa yang “layak lagi pantas”. Ketika satu keluarga mengadakan pesta besar, keluarga lain pun diam-diam menjadikannya tolok ukur baru tentang kepantasan.

Standar sosial pun perlahan naik. Hari ini cukup. Besok harus lebih. Kemarin sederhana. Sekarang harus spektakuler. Media sosial kemudian mempercepat semuanya. Pesta tidak lagi hanya disaksikan oleh orang-orang yang hadir secara fisik. Ia masuk ke layar telepon, menjadi foto, video, reels, dan cerita yang beredar ke mana-mana. Kemewahan menjadi mudah dibandingkan. Apa yang dahulu hanya menjadi kebanggaan satu keluarga, kini menjadi referensi bagi banyak keluarga.

Maka lahirlah sebuah perlombaan yang tidak disebut perlombaan. Perlombaan untuk terlihat mampu.
Ironisnya, kemampuan untuk terlihat mampu tidak selalu berarti kemampuan untuk hidup mampu.

Di balik dekorasi yang megah, mungkin ada pinjaman. Di balik hidangan yang melimpah dan terkesan mewah, mungkin ada ternak yang dijual. Di balik pakaian pengantin yang berkilau, mungkin ada tanah dan martabat yang digadaikan.Di balik musik yang menggema hingga malam dan menjemput pagi, mungkin ada kecemasan sepasang suami-istri yang bertanya dalam hati: bagaimana kami mengembalikan semuanya setelah pesta selesai? Tamu melihat kemeriahan dan kemewahan. Tetapi hanya keluarga penyelenggara yang mengetahui harga sebenarnya.

Itulah sebabnya kita perlu berhati-hati menilai kemeriahan dan kemewahan. Tidak semua pesta besar adalah pemborosan, karena penyelenggaranya berada pada posisi apa yang disebut the have; mereka yang mempunyai banyak hal (harta, koneksi, dan terselip di dalamnya harga diri/martabat).  Tidak semua pesta sederhana berarti ketidakmampuan, karena sekali pun penyelenggaranya berasal dari kaum the have, dipastikan ada pilihan penyelenggaraan secara bijaksana . Ukuran kebahagiaan tidak dapat ditentukan hanya oleh jumlah meja, banyaknya hidangan, mahalnya dekorasi, mewahnya dekorasi dan pakaia pengantin, dan lampu hias hingga panjangnya daftar tamu. Sebab perkawinan bukan proyek satu hari. Perkawinan bagai proyek kehidupan.

Pesta selesai ketika kursi-kursi dikembalikan. Musik berhenti. Lampu dipadamkan. Dekorasi dibongkar. Para tamu pulang ke rumah masing-masing. Tetapi pengantin pulang membawa kehidupan baru. Mereka harus membangun rumah, membeli kebutuhan sehari-hari, membayar pendidikan anak kelak, menghadapi sakit, pekerjaan/profesi dengan dampak baik dan buruknya, krisis ekonomi, dan berbagai badai kehidupan yang tidak pernah masuk dalam undangan pesta.

Karena itu, ada sejumlah pertanyaan kebudayaan yang perlu kita ajukan kembali: Untuk siapa sebenarnya pesta itu diselenggarakan: Untuk pengantin? Untuk orang tua? Untuk keluarga besar? Untuk masyarakat? Atau untuk memenuhi pandangan orang lain?

Pertanyaan ini penting karena masyarakat sering secara tidak sadar menjadi hakim atas pesta orang lain. Kita memuji pesta yang mewah, membandingkan dekorasi, menghitung jumlah tamu, membicarakan makanan, tampilan pengantin dan orang tua, atau menggosipkan penata acara (master of ceremony) lalu mengatakan, “Wah, luar biasa pestanya!”

Tetapi jarang kita bertanya: “Apakah setelah pesta ini keluarga tersebut tetap baik-baik saja?” Di situlah kritik sosial perlu diletakkan. Jangan sampai masyarakat menciptakan budaya gengsi, lalu membiarkan keluarga miskin membayar harga gengsi itu sendirian. Jangan sampai kita memuji kemeriahan dan kemewahan seseorang pada hari ini, sementara esok hari kita tidak hadir ketika ia kesulitan membayar utang.

Dan jangan pula orang tua mengorbankan masa depan anak hanya demi sebuah pesta yang ingin dikenang orang lain. Sebab ada kemeriahan dan kemewahan yang hanya menyenangkan mata, tetapi ada kesederhanaan yang menyelamatkan kehidupan.

Kearifan tradisional sesungguhnya telah lama mengenal prinsip itu. Dalam kebudayaan yang sehat, pesta bukan sekadar pertunjukan kekayaan, melainkan ruang berbagi, mempererat kekerabatan, menyatakan syukur, dan mempertemukan manusia dalam sukacita.

Maka, yang perlu kita wariskan bukanlah tradisi pesta yang semakin mahal, melainkan tradisi pesta pernikahan dalam kebijaksanaan. Semoga pesta tetap meriah, tetapi jangan sampai kemeriahan mengubur kapasitas dan kapabilitas diri. Biarlah keluarga menerima tamu dengan hormat, tetapi jangan sampai penghormatan kepada tamu menghilangkan kehormatan pada masa depan anak. Biarlah pengantin tampil indah, tetapi jangan sampai keindahan sehari mengorbankan kehidupan bertahun-tahun.

Sebab pada akhirnya, tamu dan masyarakat tidak akan tinggal serumah dengan pengantin setelah pesta usai. Yang tinggal adalah suami dan istri. Mereka berdua yang akan bangun pagi di rumah yang sama. Kelak mempunyai anak, mereka jualah yang merasakan makna hidup suami-isteri; ayah-ibu. Mereka yang akan membesarkan anak. Mereka yang akan menghadapi kekurangan. Mereka yang akan merawat orang tua. Mereka yang akan menanggung dampak pada hari esok dari keputusan yang dibuat hari ini.

Maka kebijaksanaan terbesar dalam satu perkawinan mungkin bukan kemampuan membuat pesta semegah mungkin, melainkan keberanian berkata: “Kami ingin merayakan cinta kami tanpa menggadaikan masa depan kami.” Karena pesta boleh megah. Tetapi kehidupan harus tetap utuh.

Dan jika suatu hari nanti musik telah berhenti, lampu telah padam, para tamu telah pulang, foto-foto telah tersimpan jauh di dalam album android, yang paling penting bukan lagi siapa yang mengagumi pesta itu. Yang paling penting adalah: apakah dua manusia berbeda jenis kelamin yang menikah hari itu masih mampu tersenyum ketika kehidupan benar-benar dimulai?

Heronimus Bani~Pemulung Aksara

Facebook Comments Box

Penulis : Heronimus Bani

Editor : Heronimus Bani

Sumber Berita : primer

Berita Terkait

KoMBAD dalam Literasi Awal Murid Kelas 1 dan 2 Sekolah Dasar
Ruang Kelas: Laboratorium Peradaban
Fetof~Naof: Perempuan di Depan Kata, Laki-laki Dalam Struktur
1.300 Karya Disaring, Siswi SMKN 4 Kupang Masuk Sembilan Besar Kompetisi Pidato AHY Muda
Evaluasi HUT RI ke-81 Amarasi Selatan: Sukses dan Panitia Resmi Dibubarkan
Customer Gathering!! Suzuki SBM Kupang Gelar Workshop Ide Bisnis, Ajak Konsumen Ubah Kendaraan Jadi Peluang Usaha
Simpai Andre Sole dan Herry Battileo Pimpin Latihan Gabungan PERKEMI NTT, Tekankan Disiplin serta Penguasaan Teknik Kenshi
Dukungan Usman Husin untuk Mayana Saleky, Putri Rote Ndao yang Membawa Identitas NTT ke Panggung Dunia

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 04:49

KoMBAD dalam Literasi Awal Murid Kelas 1 dan 2 Sekolah Dasar

Kamis, 17 September 2026 - 04:28

Ruang Kelas: Laboratorium Peradaban

Sabtu, 12 September 2026 - 10:48

Fetof~Naof: Perempuan di Depan Kata, Laki-laki Dalam Struktur

Jumat, 11 September 2026 - 04:33

1.300 Karya Disaring, Siswi SMKN 4 Kupang Masuk Sembilan Besar Kompetisi Pidato AHY Muda

Kamis, 10 September 2026 - 11:26

Evaluasi HUT RI ke-81 Amarasi Selatan: Sukses dan Panitia Resmi Dibubarkan

Berita Terbaru

Suasana guru & murid; ft: Roni

Opini

Ruang Kelas: Laboratorium Peradaban

Kamis, 17 Sep 2026 - 04:28

Konten tidak bisa disalin.