- Ketika Peta Tidak Lagi Berbicara
Perencana yang menggambar peta menempatkan garis-garis tipis di atas peta topografi Kabupaten Kupang. Mereka menggambar garis tipis dengan tinta biru tenang. Garis itu meliuk dari perbukitan Kawasan Amfoang Raya, membelah lembah-lembah kering saat kemarau, lalu bermuara di pesisir utara Pulau Timor. Bagi seorang perencana di kantor dinas kota, garis itu hanyalah hidrografi, anak sungai musiman yang memperindah kontur wilayah. Namun, bagi masyarakat yang berdiri di tepi sungai pada pertengahan musim hujan, garis biru itu adalah monster cokelat yang bergulung, meraung, dan kerap memutuskan ingatan kita tentang peradaban.
Nama Martho bukan bagian dari narasi besar pembaruan pendidikan nasional. Martho tidak membawa laptop tipis berkilau atau teori-teori pembelajaran modern dari gedung-gedung universitas bertingkat di kota-kota besar dan megapolitan. Martho, seorang guru sekolah dasar yang setiap pagi menyusuri jalan setapak berkerikil tajam di Kawasan Amfoang Raya. Ia membawa tas ransel lusuh berisi spidol, buku absensi, satu dua buku pegangan guru, dan beberapa lembar kertas kerja yang disampul plastik bening berlapis-lapis.
Musim yang menentukan kalender pendidikan di tempat ini, bukan sepenuhnya oleh keputusan menteri atau pejabat dinas. Awan tebal yang mengantung atau musim kering yang keras menjadi kalender yang bergaris di perbukitan dan lembah. Jika langit pagi berwarna kelabu pekat dan angin laut berembus membawa aroma tanah basah dari arah hulu, kami tahu: tidak ada peluang untuk berunding dengan sungai hari ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengajar di Kawasan Amfoang Raya merupakan latihan pasrah yang aktif. Di satu sisi, ada kurikulum yang menuntut keberlanjutan; di sisi lain, ada alam murni yang menuntut penghormatan mendasar. Sungai-sungai tidak memiliki jembatan beton yang kokoh di setiap titik penyeberangan. Kebanyakan dari kami menyeberangi jalur-jalur air yang telanjang, dasar sungai berupa batu-batu kali sebesar kepala kerbau dan pasir hisap yang tak terduga. Ketika air mengalir sampai mata kaki, sungai adalah sahabat yang menyegarkan dahaga perjalanan. Namun, ketika hujan turun semalaman di daerah hulu, air bisa melonjak setinggi dada orang dewasa hanya dalam hitungan jam. Memulai ujian bagi seorang guru dan siapa pun yang bertugas di kawasan Amfoang Raya dengan berdiri di batas dan air yang keruh. Tepatnya di bibir sungai yang sedang banjir.
- Nyanyian Air Deras di Pagi Hari
Subuh baru saja pecah ketika suara gemuruh itu terdengar. Itu bukan suara guntur, melainkan benturan batu-batu besar yang terbawa arus di dasar sungai. Orang-orang tua di kampung menyebutnya banjir bandang kecil, atau dalam tutur lokal, air yang sedang “naik gila”. Martho mengencangkan ikatan sepatu, satu-satunya alas kaki yang masuk akal untuk medan ini, dan membungkus seluruh dokumen penting sekolah dengan tiga lapis kantong plastik tebal sebelum memasukkannya ke bagian paling tengah tas punggung.
Jarak dari pondokan tempat tinggalnya ke bangunan sekolah sebenarnya tidak lebih dari tiga kilometer. Namun, tiga kilometer di Amfoang pada musim penghujan bisa terasa seperti perjalanan melintasi pulau yang berbeda. Titik krusialnya terletak di penyeberangan sungai utama yang memisahkan dusun tempat tinggal sebagian besar murid dari kompleks sekolah dasar mereka.
Ketika Martho tiba di tepi sungai sekitar pukul 06.00 WITa, air sudah berwarna cokelat pekat seperti susu cokelat yang dikocok kencang. Buas dan berbuih. Di seberang sana, di balik rerimbunan pepohonan yang meliuk-liuk ditiup angin, Martho melihat siluet anak-anak. Mereka berdiri bergerombol dengan seragam merah-putih yang lusuh. Sebagian tidak memakai sepatu; sepatu mereka digantungkan di leher agar tidak basah.
Di samping anak-anak itu, berdiri beberapa orang tua murid. Wajah mereka yang ditempa cahaya matahari pagi yang tampak tenang, tetapi mata mereka menatap arus dengan kewaspadaan yang terlatih. Tidak ada kepanikan di wajah orang-orang Amfoang saat melihat banjir. Yang ada hanyalah kalkulasi alami: apakah hari ini kita melawan air, atau kita menyerah pada alurnya?
“Pak Guru!” teriak Bapak Yoseph dari seberang. Suaranya hampir tertelan oleh deru angin dan gemuruh air. Ia mengacungkan sebatang kayu panjang, satu alat navigasi sederhana yang sangat vital.
“Tunggu di situ, bapak! Jangan menyeberang dulu!” balas Martho berteriak seraya melambaikan tangan.
Martho melangkah mendekati bibir air, menguji kekuatan arus dengan menancapkan kayu pegangannya sendiri. Udara dan air terasa dingin menusuk kulit, dan tekanannya langsung menghantam betis dengan kekuatan yang sanggup merobohkan kuda jika salah mengambil pijakan. Di titik inilah, fungsi seorang guru bergeser secara radikal. Martho tidak lagi memikirkan bagaimana cara menjelaskan materi pecahan matematika atau membaca puisi di depan kelas. Perhatian utama Martho terpusat pada satu hal: bagaimana memastikan anak-anak ini sampai di seberang dengan selamat, dan bagaimana mereka bisa kembali ke rumah mereka siang nanti tanpa ada yang hilang dimakan arus.
- Jembatan Manusia dan Rantai Kehidupan
Menyeberangkan anak-anak di sungai banjir Amfoang bukanlah pekerjaan spekulatif. Ini adalah kerja kebudayaan yang melibatkan kebersamaan penuh kepercayaan. Mereka tidak menggunakan perahu karet atau tali penyelamat berstandar SAR. Mereka menggunakan apa yang mereka miliki: otot tangan, batang bambu, atau kayu panjang dan rasa saling percaya yang tak tergoncangkan.
Bapak Yoseph dan dua warga desa lainnya melangkah lebih dulu ke dalam air. Mereka membentuk barisan miring memotong arus, posisi paling taktis untuk memecah laju air. Langkah mereka lambat, meraba dasar sungai dengan kaki telanjang untuk memastikan tidak ada lubang dalam atau batu bergeser yang bisa menjebak telapak kaki. Ketika air mencapai pinggang Bapak Yoseph, ia menancapkan kayu panjangnya dalam-dalam ke dasar sungai, memegang kuat-kuat sebagai tiang pancang hidup.
Martho melangkah dari sisi sebelah sini, masuk ke dalam sungai hingga air membasahi pinggang. Dinginnya menyengat, tetapi rasa hangat dari adrenalin membakar seluruh tubuh. Mereka membentuk rantai manusia. Martho berada di posisi tengah yang agak dangkal, sementara orang tua murid yang lebih berpengalaman berdiri di titik-titik arus terpundak.
Anak pertama yang digendong adalah Maria, murid kelas dua yang bertubuh mungil. Ia tidak menangis. Anak-anak di Amfoang memiliki ketabahan yang tidak diajarkan di buku teks mana pun. Mereka sudah terbiasa melihat sungai yang mengamuk sejak mereka bisa berjalan. Maria memeluk leher Ama Yoseph dengan erat, memasrahkan seluruh hidupnya yang kecil pada bahu lebar sang ayah.
Bapak Yoseph melangkah perlahan, melawan tekanan air yang mencoba merobohkan kakinya. Setiap kali kakinya berhasil menumpu di balik batu besar, ia menghela napas panjang. Begitu ia mencapai posisi Martho, Maria dipindahkan ke dekapannya.
“Pegang kuat di bahu Pak Guru, Maria,” kata Martho.
Tangan mungil Maria yang dingin mencengkeram baju kaus Martho. Martho bisa merasakan detak jantungnya yang cepat di dada. Langkah demi langkah, dengan meraba batu licin di bawah permukaan air keruh, Martho membawanya ke tepi seberang tempat tanah becek menyambut. Begitu kakinya menyentuh tanah padat, ia tersenyum tipis, membuka kantong plastiknya untuk memeriksa apakah buku tulisnya basah atau tidak.
Proses itu diulang belasan kali. Anak-anak yang lebih besar, seperti murid kelas lima dan enam, berjalan sendiri. Orang dewasa mengapit mereka di kiri dan kanan. Tangan-tangan mungil mereka memegang batang bambu atau kayu panjang yang dipegang erat di kedua ujungnya. Jika ada satu anak yang terpeleset, tekanan dari dua orang dewasa di ujung bambu atau kayu akan langsung menahannya agar tidak tersapu arus.
Ada saat-saat mendebarkan ketika Petrus, seorang murid kelas empat yang agak gemuk, kehilangan pijakan karena batu di bawah kakinya bergeser. Tubuhnya sempat miring dan jeritan kecil lolos dari mulutnya. Namun, sebelum air sempat menyeretnya lebih jauh, tangan bapak Yan yang kekar menyambar ketiaknya, mengangkatnya ke udara seperti mengangkat sekeranjang jagung, lalu mendudukkannya kembali di tempat yang lebih aman. Tidak ada jeritan histeris. Yang ada hanyalah helaan napas lega dan tawa kecil dari warga yang berdiri di tepi.
Satu jam berlalu dalam ketegangan yang hening. Bila berhasil menyeberangkan murid ke sekolah, pakaian sudah basah kuyup oleh gabungan air sungai. Sepatu penuh dengan lumpur dan pasir halus. Namun, di tepi sungai itu, di bawah gerimis yang mulai mereda, bel sekolah yang terbuat dari velg mobil bekas dipukul oleh guru piket. Teng… teng… teng…
Suaranya nyaring membelah sunyi pedesaan. Anak-anak itu berlari menuju ruang kelas, meninggalkan jejak kaki basah di tanah merah. Mereka tidak mengeluh tentang baju yang basah atau sepatu yang harus dijemur di emperan kelas. Bagi mereka, tiba di sekolah adalah kemenangan kecil atas alam.
- Ruang Kelas yang Lembab dan Harapan yang Kering
Guru di kawasan dengan aliran sungai selalu menyiapkan pakaian kering di tas. Karena rasanya mengajar dengan pakaian setengah basah kurang pantas, namun sering menjadi pengalaman yang mendewasakan. Di dalam ruang kelas bertembok kusam, aroma tanah basah bersatu dengan bau seragam kain yang mengering di badan. Tidak ada pendingin udara, tidak ada proyektor tercanggih.
Namun, suasana belajar di hari-hari banjir selalu memiliki kehangatan yang berbeda. Mungkin karena kami semua baru saja melewati ancaman yang sama satu jam yang lalu. Ada rasa persaudaraan yang lahir dari bahaya yang ditanggung bersama.
Ketika saya berdiri di depan kelas dan menuliskan topik pelajaran hari ini, saya memperhatikan jemari anak-anak yang masih sedikit gemetar menahan dingin. Beberapa di antara mereka menaruh kaki telanjang di atas bilah kayu bangku agar tidak menyentuh lantai semen yang dingin dan lembap.
“Anak-anak,” kata saya membuka pelajaran, “siapa yang tahu ke mana air sungai yang tadi kita seberangi akan mengalir?”
Tangan Doni, anak laki-laki dengan mata tajam dari barisan belakang, langsung terangkat. “Ke laut, Pak Guru! Ke laut besar di muara!”
“Benar,” jawab Martho. “Air dari gunung turun melintasi Amfoang, membawa lumpur dan batu, lalu bermuara di laut lepas. Dan seperti air itu, perjalanan kalian belajar hari ini mungkin terasa berat dan mengalir deras, tetapi tujuannya adalah masa depan yang luas, seluas laut itu.”
Martho sering berfikir, apakah kurikulum nasional yang dirancang di gedung-gedung ber-AC di ibu kota benar-benar memahami apa yang dialami Doni, Maria, atau Yuliana? Buku-buku teks kerap menampilkan gambar anak-anak berseragam rapi yang diantar mobil pribadi ke sekolah dengan jalanan aspal mulus. Buku-buku itu bicara tentang teknologi digital, tentang transportasi modern, dan tentang kenyamanan kota yang serba instan.
Di Kawasan Amfoang Raya, kaum guru harus “menerjemahkan” buku-buku itu agar tidak terasa seperti dongeng asing. Para murid belajar sains bukan dari laboratorium canggih, melainkan dari amatan bagaimana arus sungai mengikis tebing tanah di belakang sekolah. Mereka belajar sosiologi bukan dari teori-teori rumit, melainkan dari bagaimana Bapak Yoseph dan Bapak Yan bersatu tanpa dibayar sepeser pun untuk memastikan anak-anak tetangga mereka bisa sampai ke sekolah dengan selamat.
Di kelas, pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan dari otak guru ke otak murid. Pendidikan adalah tindakan bertahan hidup (survival). Ia adalah upaya kolektif agar generasi mendatang di pedesaan Timor ini memiliki pilihan hidup yang lebih baik daripada sekadar menjadi penonton di tanah mereka sendiri.
- Menunggu di Tepi yang Lain: Ritual Jemputan Siang
Jam menunjukkan pukul 13.00 WITa. Pembelajaran hari itu usai, tetapi tugas para guru belum benar-benar selesai. Masalah terbesar dari sungai-sungai di Amfoang bukan hanya banjir di pagi hari, melainkan banjir susulan di siang atau sore hari. Sering kali, hujan di pesisir sudah berhenti, tetapi hujan deras di pegunungan hulu baru saja mengirimkan pasokan air belakangan.
Saat bel pulang berbunyi, langit kembali menggelap. Arus sungai yang sempat sedikit surut kini kembali melimpah dan berubah menjadi cokelat pekat kehitaman. Arusnya membawa rantai kayu lapuk dan vegetasi liar yang tumbang dari tebing hulu.
Di seberang sungai, pemandangan pagi tadi berulang kembali—tetapi dengan komposisi yang lebih emosional. Para orang tua murid sudah berkumpul di tepi seberang. Kali ini jumlah mereka lebih banyak. Tidak hanya para bapak, tetapi juga para ibu yang berdiri membawa sarung tenun beti’ dan tais tebal untuk membungkus tubuh anak-anak mereka yang kedinginan begitu sampai di rumah.
Mereka berdiri menanti di tepi yang lain. Ada kecemasan yang menggantung di udara setiap kali air sungai tampak naik beberapa sentimeter dari posisi pagi. Seorang ibu melambaikan tangan tinggi-tinggi, memanggil nama anak perempuannya.
“Ester! Jangan dekat-dekat air dulu! Tunggu Bapak!”
Kami di pihak sekolah mengumpulkan anak-anak di bawah pohon besar yang rindang, tidak jauh dari tepi sungai. Kami tidak mengizinkan satu anak pun mendekati air sebelum tim penyeberang dari orang tua murid siap.
Bapak Yoseph kembali masuk ke dalam air. Kali ini, ia membawa seutas tali nilon tebal yang biasa digunakan untuk mengikat sapi. Tali itu diikatkan kuat-kuat pada batang pohon kayu merah di seberang sana, lalu ia berenang-seberang menembus arus deras untuk mengikatkan ujung satunya pada pohon di tempat kami berdiri. Tali itu kini terbentang tegang di atas permukaan air yang mengamuk, satu pegangan darurat untuk pulang.
Proses penyeberangan kembali dilakukan dengan ketelitian yang sama, atau bahkan lebih ketat karena arus sore biasanya lebih ganas. Anak-anak dibariskan berdasarkan tingkat keberanian dan usia. Yang paling kecil diulurkan lebih dahulu melalui genggaman orang-orang dewasa yang berbaris sepanjang tali nilon tersebut.
Martho menyaksikan bagaimana seorang ayah memeluk anak laki-lakinya di tengah-tengah sungai banjir. Air setinggi dada menghantam punggung sang ayah, membuat tubuhnya agak limbung. Namun, kedua tangannya yang kekar tidak sedikit pun melonggarkan cengkeraman pada tubuh sang anak. Di mata sang ayah, anak itu adalah masa depan keluarga, mungkin satu-satunya anggota keluarga yang suatu hari nanti bisa membaca surat keputusan tanah, menjadi dokter, atau menjadi pejabat yang ingat untuk membangun jembatan di kampung mereka.
Saat giliran Yuliana diseberangkan, ibunya yang menunggu di tepi tanah kering langsung menyambutnya dengan kain sarung tenun hangat. Tubuh kecil yang gemetar itu dibungkus erat-erat, dipeluk di dada sang ibu, lalu diberi tegukan air hangat dari botol yang dibawanya dari rumah. Suasana itu begitu membekas dalam ingatan Martho: suatu perpaduan antara ketegangan ekstrem dan kelembutan cinta kasih yang paling murni.
- Filosofi Sungai dan Ketabahan Amfoang
Ketika murid terakhir berhasil menyeberang dengan selamat dan menghilang di balik jalan setapak menuju dusun mereka bersama orang tua masing-masing, tersisa Martho dan beberapa guru yang tinggal di sisi sungai ini. Kami berdiri sejenak di tepi air, menyaksikan tali nilon dikendurkan dan disimpan kembali di bawah rindangnya pohon.
Tangan Martho terasa pegal, pundaknya keras karena menahan beban dan ketegangan selama berjam-jam. Baju seragam guru tidak lagi berbentuk, penuh noda lumpur cokelat dan bau air sungai yang khas. Namun, ada kepuasan batin yang sukar dijelaskan dengan kata-kata.
Orang luar mungkin melihat situasi ini sebagai sebuah tragedi kebudayaan atau kegagalan pembangunan yang menyedihkan. Mereka mungkin akan bertanya: Mengapa harus bertahan di tempat seperti ini? Mengapa tidak meliburkan saja sekolah selama musim hujan? Mengapa anak-anak harus bertaruh nyawa hanya untuk belajar membaca dan berhitung?
Jawabannya tidak terletak pada angka-angka statistik atau laporan tahunan pemerintah. Jawabannya terletak pada martabat. Masyarakat Amfoang tidak menginginkan rasa kasihan; mereka ingin kesempatan yang setara. Jika sekolah diliburkan setiap kali sungai banjir, maka anak-anak di desa ini akan kehilangan tiga hingga empat bulan masa belajar setiap tahunnya. Mereka akan semakin tertinggal dari anak-anak di kota yang menikmati fasilitas jalan mulus dan ruang kelas modern. Menyerah pada sungai berarti menyerahkan masa depan anak-anak ini pada ketertinggalan yang abadi.
Oleh karena itu, menyeberangi sungai saat banjir bukan sekadar nekat. Ini adalah perlawanan sunyi. Ini adalah bentuk komitmen paling radikal dari para orang tua dan guru di pedesaan untuk mengatakan kepada dunia: bahwa pendidikan anak-anak mereka sama berharganya dengan pendidikan anak-anak di mana pun.
Sungai bagi masyarakat Amfoang adalah guru yang keras. Ia mengajarkan tentang batas kemampuan manusia dan pentingnya kebersamaan. Di kota, manusia bisa hidup individualistis karena semua fasilitas publik disediakan oleh negara secara impersonal. Namun, di tepi sungai, banjir Amfoang, individualisme menjadi resep menuju bencana. Anda tidak bisa menyeberangkan anak Anda sendiri tanpa bantuan tetangga Anda yang menahan arus di sisi lain. Keselamatan satu anak adalah keselamatan seluruh kampung; kegagalan menjaga satu anak adalah kesedihan bersama.
- Harapan di Balik Kabut
Hari mulai remang ketika Martho kembali ke pondokan kecilnya. Gerimis tipis kembali turun, membasahi atap seng yang menimbulkan suara gemertak teratur. Ia menggantung kemeja guru yang basah di kapstok kayu, membiarkannya meneteskan air ke lantai semen.
Di atas meja kayu yang sederhana, lampu minyak menyala temaram, listrik sering padam jika hujan deras melanda wilayah Amfoang. Martho membuka tas punggung yang terbungkus plastik tebal. Beruntung, buku absensi dan kertas kerja siswa masih kering sempurna. Ia menatap nama-nama yang tertera di lembar kertas itu: Doni, Maria, Petrus, Yuliana, … .
Nama-nama yang setiap pagi bertaruh dengan arus sungai hanya untuk duduk di bangku kayu yang goyah dan mendengarkan guru mereka bicara.
Martho tahu, butuh waktu bertahun-tahun lagi sampai satu jembatan beton yang megah dibangun melintasi sungai. Mungkin surat-surat permohonan yang dikirimkan oleh kepala desa dengan dukunga masyarakat sedang menumpuk di meja-meja birokrasi yang jauh di sana, tertimbun oleh prioritas-prioritas lain yang lebih mendesak.
Namun, selama jembatan itu belum ada, jembatan manusia tidak boleh terputus. Tangan kasar bapak Yoseph, bahu-bahu tegap warga desa, dan langkah kaki guru-guru yang tidak pernah surut akan terus menjadi jembatan hidup bagi anak-anak Amfoang.
Suatu hari nanti, ketika Doni, Maria, Yuliana atau Ester akan tumbuh dewasa dan berhasil meraih impian mereka di tempat yang jauh, saya berharap mereka tidak lupa bunyi gemuruh air sungai di kampung halaman mereka. Martho berharap mereka ingat bahwa dalam setiap huruf yang berhasil mereka baca, dan dalam setiap angka yang berhasil mereka hitung, ada tetesan keringat orang tua mereka yang berdiri menahan derasnya arus, dan ada rasa cinta yang tak terbatas dari desa yang menolak untuk dikalahkan oleh alam.
Malam semakin larut di Amfoang. Di luar, suara sungai masih meraung membelah kegelapan. Namun, di dalam dada Martho, ada kedamaian yang dalam. Besok pagi, ketika bel dari velg mobil bekas itu berbunyi lagi, ia akan kembali ke tepi sungai itu, menanti, menyeberangkan, dan memastikan bahwa cahaya pendidikan di ujung pulau ini tidak padam oleh banjir sebesar apa pun.
Catata: Nama-nama yang disebutkan di dalam esai ini fiktif belaka. Foto istimewa dari Google, suntingan
Penulis : Heronimus Bani
Editor : Heronimus Bani









