Ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir

Senin, 28 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ilustrasi oleh AI: berbicara di depan orang lain;

ilustrasi oleh AI: berbicara di depan orang lain;

Ada orang yang hampir tidak pernah berbicara tanpa membawa satu-dua ayat dari Kitab Suci.
Misalnya:
Dalam pernyataan pembukaan rapat, ayat hadir.
Dalam sambutan resepsi pernikahan, ayat hadir.
Dalam peresmian bangunan baru, ayat hadir.
Dalam sambutan penguatan keluarga berduka, ayat hadir
Dalam percakapan informal keluarga, ayat hadir.
Sungguh sesuatu sekali.

Nyaris dalam segala suasana, ayat hadir sebagai ucapan syukur dan penguatan. Bahkan ketika persoalan yang sedang dibicarakan sesungguhnya sederhana dan membutuhkan keputusan yang tegas, ayat pun kadang-kadang kembali mengambil tempat.

Hebat, bukan?
Barangkali memang hebat.
Sebab tidak semua orang mampu mengingat banyak ayat. Tidak semua orang mampu mengucapkannya dengan lancar di hadapan banyak orang. Tidak semua orang memiliki keberanian membawa bahasa iman ke ruang publik.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, ada satu perkara yang sering luput kita renungkan:
Apa yang terjadi ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir seseorang?
Bukan ayatnya yang menjadi masalah.
Firman tetap Firman. Yang berubah adalah telinga manusia yang mendengarnya.

Pada mulanya orang mungkin kagum.
“Betapa rohaninya orang ini.”
Lalu pada kesempatan berikutnya, mereka kembali mendengar ayat.
Kemudian pada kesempatan yang lain, ayat lagi.
Lama-kelamaan, mungkin tanpa disadari, pendengar tidak lagi hanya mendengar Firman. Mereka mulai mendengar orang yang mengucapkan Firman.

Di situlah sebuah cermin perlahan-lahan diletakkan di hadapan sang pembicara.
Orang mulai memperhatikan:
Apakah kata-kata itu hidup dalam tindakannya?
Apakah kasih yang dikhotbahkannya terasa dalam cara ia memperlakukan orang kecil?
Apakah keadilan yang disebutnya hadir dalam keputusan-keputusannya?
Apakah kerendahan hati yang dibicarakannya tampak ketika ia menerima kritik?
Apakah pengampunan yang dikutip dari Kitab Suci benar-benar mendapat tempat ketika ia berhadapan dengan orang yang berbeda pendapat?

Sebab semakin sering seseorang berbicara tentang Firman, semakin tinggi pula harapan orang terhadap kehidupannya. Kata-kata suci membuat kehidupan menjadi lebih mudah dibaca.
Itulah harga yang mungkin tidak disadari oleh setiap pembicara.

Satu ayat dapat menghibur. Dua ayat dapat mencerahkan. Tetapi, terlalu banyak ayat, tanpa kehidupan yang menyertainya, dapat membuat orang berhenti mendengar dan mulai mengamati.

Bukan karena mereka membenci Firman. Mereka justru sedang mencari apakah Firman itu benar-benar telah menjadi kehidupan.

Ada kebijaksanaan tua yang sederhana: Jangan terlalu cepat mengucapkan sesuatu yang kehidupan kita sendiri belum selesai mempelajarinya. Sebab manusia tidak hanya mempunyai telinga. Ia mempunyai mata untuk melihat. Ia mempunyai otak dan benak untuk mengingat dan berkesan. Ia mempunyai hati untuk membandingkan dan menimbang dan ia mampu menyimpan pengalaman.

Seseorang dapat mengatakan, “Kasihilah sesamamu manusia.” Tetapi orang sekitarnya akan mengingat bagaimana perlakuan ketika melakukan kesalahan.
Ia dapat berkata, “Berbahagialah orang yang lemah lembut.”
Tetapi orang-orang akan mengingat bagaimana ia berbicara kepada mereka yang tidak memiliki jabatan.

Ia dapat mengutip tentang keadilan. Tetapi, publik rindu untuk melihat bagaimana keputusan dibuat.
Ia dapat berbicara tentang menjadi pelayan. Tetapi, orang-orang akan mengingat apakah ia benar-benar mau mendengar suara kaum lemah.

Pada akhirnya, kehidupan menjadi semacam tafsir berjalan atas ayat-ayat yang pernah diucapkan. Dan tafsir yang paling kuat bukanlah yang ditulis dengan tinta. Ia ditulis dengan perbuatan. Mungkin karena itu tidak setiap kesempatan membutuhkan khotbah.

Ada rapat yang membutuhkan keputusan. Ada persoalan yang membutuhkan keberanian. Ada konflik yang membutuhkan pendengaran. Ada bawahan yang hanya membutuhkan seorang atasan yang mau mendengar sampai selesai. Ada keluarga yang berduka yang tidak membutuhkan banyak kalimat, melainkan kehadiran. Ada orang miskin yang tidak membutuhkan ayat tentang kasih, melainkan tangan yang sungguh-sungguh menolong. Ada orang yang sedang jatuh yang tidak membutuhkan ceramah panjang tentang pengharapan, melainkan seseorang yang bersedia duduk di sampingnya.

Bukankah terkadang diam adalah bahasa iman yang lebih dalam daripada pidato dan khotbah?
Yesus sendiri tidak selalu menjawab dengan banyak kata. Ada saat Ia berbicara atau bertanya. Ada saat Ia mengajar. Ada saat Ia menangis. Dan ada saat Ia diam.

Mungkin kita perlu belajar kembali dari kebijaksanaan itu.
Tidak semua ruang harus diisi dengan suara.
Tidak setiap sambutan harus menjadi khotbah.
Tidak setiap rapat harus menjadi mimbar.
Tidak setiap penderitaan harus segera diberi penjelasan teologis.
Sebab orang yang sedang menangis kadang-kadang tidak membutuhkan penjelasan tentang mengapa ia harus menangis.
Ia hanya membutuhkan seseorang yang tidak pergi ketika air matanya jatuh.

Begitu pula dalam kepemimpinan.
Seorang pemimpin tidak selalu harus tampak paling tahu.
Kadang-kadang kebijaksanaan seorang pemimpin justru tampak ketika ia berkata:
“Saya belum tahu.”
Atau: “Saya keliru.”
Atau: “Mari kita dengarkan mereka terlebih dahulu.”
Atau bahkan: “Saya tidak perlu berbicara. Saya ingin mendengar.”

Kalimat-kalimat sederhana semacam itu mungkin tidak terdengar seperti ayat.
Tetapi bisa jadi, justru di sanalah nilai-nilai Kitab Suci sedang bekerja secara diam-diam.

Sebab iman bukan hanya perkara apa yang keluar dari bibir, tetapi juga apa yang tumbuh dari hati dan menjelma dalam tindakan.

Pada akhirnya, seorang pejabat boleh saja mengutip seratus ayat. Tetapi, masyarakat mungkin hanya mengingat satu hal: bagaimana ia membuat mereka merasa sebagai manusia ketika berhadapan dengannya.

Ayat boleh memenuhi sambutan. Tetapi, kasih harus memenuhi tindakan. Ayat boleh terdengar dari pengeras suara. Tetapi, keadilan harus terdengar dari keputusan. Ayat boleh tertulis dalam naskah pidato. Tetapi, kerendahan hati harus terbaca dalam perilaku. Dan bila suatu hari orang tidak lagi mengingat ayat apa yang pernah kita ucapkan, janganlah terlalu kecewa.

Barangkali mereka masih mengingat bahwa kita pernah menolong. Pernah mendengar. Pernah memaafkan. Pernah memberi ruang. Pernah berdiri di samping mereka ketika hidup sedang berat.

Mungkin itulah bentuk kesaksian yang paling sunyi. Dan mungkin pula itulah khotbah yang paling panjang: bukan yang berlangsung selama tiga puluh menit di depan mikrofon,melainkan yang berlangsung bertahun-tahun dalam kehidupan seseorang. Karena pada akhirnya,bibir dapat mengutip Kitab Suci, tetapi kehidupanlah yang membuat orang percaya bahwa kata-kata itu sungguh berarti.

Facebook Comments Box

Penulis : Heronimus Bani

Editor : Heronimus Bani

Berita Terkait

Rote Ndao Sebelum 2029: Komitmen Politik Usman Husin Memilih Berjuang dari Senayan 
Mengenal Peran Agrinas di Garis Depan Pembangunan Kopdes Merah Putih
Ketika Pengkhianatan Rumah Tangga Bersembunyi di Balik Seragam ASN
Proyek Bendung Oelnaimuti Amburadul, Pelaksana Kegiatan dan BWS NT II Disorot
Membongkar Budaya Diam pada Murid Sekolah Dasar
KoMBAD dalam Literasi Awal Murid Kelas 1 dan 2 Sekolah Dasar
Ruang Kelas: Laboratorium Peradaban
Fetof~Naof: Perempuan di Depan Kata, Laki-laki Dalam Struktur

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 22:42

Ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir

Jumat, 25 September 2026 - 21:21

Rote Ndao Sebelum 2029: Komitmen Politik Usman Husin Memilih Berjuang dari Senayan 

Jumat, 25 September 2026 - 05:39

Mengenal Peran Agrinas di Garis Depan Pembangunan Kopdes Merah Putih

Rabu, 23 September 2026 - 01:36

Ketika Pengkhianatan Rumah Tangga Bersembunyi di Balik Seragam ASN

Selasa, 22 September 2026 - 02:18

Proyek Bendung Oelnaimuti Amburadul, Pelaksana Kegiatan dan BWS NT II Disorot

Berita Terbaru

ilustrasi oleh AI: berbicara di depan orang lain;

Gaya Hidup

Ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir

Senin, 28 Sep 2026 - 22:42

Konten tidak bisa disalin.