Pemimpin yang Takut Akan Tuhan, Rakyat yang Hidup dalam Pengharapan
Refleksi Mazmur 112:1–10
“Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN” (Mazmur 112:1). Ketika masyarakat di 32 desa di Kabupaten Kupang memasuki musim pemilihan kepala desa, tiga hari kampanye menjadi ruang bagi janji, harapan, dan pergumulan. Di antara suara yang bersahutan, firman Tuhan mengajak kita mendengarkan suara yang lebih dalam: suara hati yang dituntun oleh kebenaran. Sebab, pemimpin yang baik tidak lahir hanya dari kepandaian merangkai kata, melainkan dari hati yang takut akan Tuhan, menghormati sesama, dan bersedia mengabdi.
Mazmur 112 melukiskan orang benar sebagai terang yang terbit dalam kegelapan. Ia murah hati, adil, dan tidak goyah menghadapi kesulitan. Bukankah itulah karakter yang kita rindukan dari seorang kepala desa? Bukan pemimpin yang menjadikan kampanye sebagai panggung untuk meninggikan diri, melainkan pribadi yang melihat jabatan sebagai amanah; bukan yang menabur kebencian demi kemenangan, melainkan yang merawat persaudaraan di tengah perbedaan pilihan. Sebab, kemenangan tanpa keadilan hanyalah sorak sesaat, sedangkan kebaikan yang dilakukan dengan tulus akan tinggal dalam ingatan rakyat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selama tiga hari ini, setiap calon boleh menyampaikan visi dan programnya. Namun, rakyat pun dipanggil untuk memilih dengan hati yang jernih, bukan karena tekanan, imbalan, atau permusuhan. Jangan biarkan perbedaan pilihan merobek ikatan kekeluargaan yang telah lama tumbuh di halaman rumah, kebun, rumah ibadah, dan tanah leluhur. Pilihan boleh berbeda, tetapi martabat sesama harus tetap dijaga. Demokrasi yang dewasa bukan sekadar tentang siapa yang menang, melainkan tentang bagaimana kita tetap menjadi saudara setelah pemilihan usai.
Kiranya 32 desa di Kabupaten Kupang melahirkan pemimpin yang takut akan Tuhan, mencintai rakyat, dan berani berlaku adil. Sebab, jabatan memiliki batas waktu, tetapi jejak pengabdian dapat melampaui masa jabatan. Biarlah kampanye berakhir tanpa permusuhan, pemilihan berlangsung dengan damai, dan pembangunan bertumbuh dalam kejujuran. Pemimpin sejati bukanlah dia yang paling keras meminta kepercayaan, melainkan dia yang paling setia membuktikan bahwa kepercayaan rakyat tidak sia-sia.
Penulis : Heronimus Bani
Editor : Heronimus Bani









