Pemimpin yang takut akan Tuhan, rakyat yang hidup dalam pengharapan

Kamis, 29 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Ilustrasi Pilkades Kab. Kupang

Gambar Ilustrasi Pilkades Kab. Kupang

Pemimpin yang Takut Akan Tuhan, Rakyat yang Hidup dalam Pengharapan

Refleksi Mazmur 112:1–10

“Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN” (Mazmur 112:1). Ketika masyarakat di 32 desa di Kabupaten Kupang memasuki musim pemilihan kepala desa, tiga hari kampanye menjadi ruang bagi janji, harapan, dan pergumulan. Di antara suara yang bersahutan, firman Tuhan mengajak kita mendengarkan suara yang lebih dalam: suara hati yang dituntun oleh kebenaran. Sebab, pemimpin yang baik tidak lahir hanya dari kepandaian merangkai kata, melainkan dari hati yang takut akan Tuhan, menghormati sesama, dan bersedia mengabdi.

Mazmur 112 melukiskan orang benar sebagai terang yang terbit dalam kegelapan. Ia murah hati, adil, dan tidak goyah menghadapi kesulitan. Bukankah itulah karakter yang kita rindukan dari seorang kepala desa? Bukan pemimpin yang menjadikan kampanye sebagai panggung untuk meninggikan diri, melainkan pribadi yang melihat jabatan sebagai amanah; bukan yang menabur kebencian demi kemenangan, melainkan yang merawat persaudaraan di tengah perbedaan pilihan. Sebab, kemenangan tanpa keadilan hanyalah sorak sesaat, sedangkan kebaikan yang dilakukan dengan tulus akan tinggal dalam ingatan rakyat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selama tiga hari ini, setiap calon boleh menyampaikan visi dan programnya. Namun, rakyat pun dipanggil untuk memilih dengan hati yang jernih, bukan karena tekanan, imbalan, atau permusuhan. Jangan biarkan perbedaan pilihan merobek ikatan kekeluargaan yang telah lama tumbuh di halaman rumah, kebun, rumah ibadah, dan tanah leluhur. Pilihan boleh berbeda, tetapi martabat sesama harus tetap dijaga. Demokrasi yang dewasa bukan sekadar tentang siapa yang menang, melainkan tentang bagaimana kita tetap menjadi saudara setelah pemilihan usai.

Kiranya 32 desa di Kabupaten Kupang melahirkan pemimpin yang takut akan Tuhan, mencintai rakyat, dan berani berlaku adil. Sebab, jabatan memiliki batas waktu, tetapi jejak pengabdian dapat melampaui masa jabatan. Biarlah kampanye berakhir tanpa permusuhan, pemilihan berlangsung dengan damai, dan pembangunan bertumbuh dalam kejujuran. Pemimpin sejati bukanlah dia yang paling keras meminta kepercayaan, melainkan dia yang paling setia membuktikan bahwa kepercayaan rakyat tidak sia-sia.

Facebook Comments Box

Penulis : Heronimus Bani

Editor : Heronimus Bani

Berita Terkait

Malam Pun Kerja!! PT Cahaya Berlian Jaya Abadi Berpacu Waktu di Jalan Ikan Foti
Membangun Kabupaten Kupang dari akar Kebudayaannya
Nyanian Sion di Tanah yang Bernapas
Bupati Kupang Dorong Tenaga Kerja Lokal Kuasai Keterampilan Konstruksi Baja Ringan
Ketika Langit menyela ibadah: Satu perjumpaan iman, alam dna kehidupan di Koro’oto
Jejak Pengabdian Jerry Manafe untuk Golkar Berlanjut 
Antusiasme Warga Nekmese, Pelayanan Dukcapil Oekabiti di Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto
SD Negeri Oepoli Gandeng Satgas Pamtas TNI Rehab Sekolah

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 15:57

Malam Pun Kerja!! PT Cahaya Berlian Jaya Abadi Berpacu Waktu di Jalan Ikan Foti

Minggu, 1 November 2026 - 23:42

Nyanian Sion di Tanah yang Bernapas

Minggu, 1 November 2026 - 23:34

Bupati Kupang Dorong Tenaga Kerja Lokal Kuasai Keterampilan Konstruksi Baja Ringan

Minggu, 1 November 2026 - 01:51

Ketika Langit menyela ibadah: Satu perjumpaan iman, alam dna kehidupan di Koro’oto

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 11:33

Jejak Pengabdian Jerry Manafe untuk Golkar Berlanjut 

Berita Terbaru

Konten tidak bisa disalin.