Dewasa ini, ketika kita berada di zaman digitalisasi, kita sedang berhadapan dengan satu gejala zaman: doa yang seharusnya merupakan perjumpaan pribadi dengan Tuhan, kini dapat sekaligus menjadi tontonan publik melalui media sosial.
Apakah berdoa sambil melakukan live streaming di TikTok bertentangan dengan ajaran Yesus? Untuk menjawabnya, kita perlu kembali kepada perkataan Yesus, memahami hakikat doa, lalu merefleksikannya dalam konteks kehidupan digital. Artikel ini tidak dalam kerangka menuduh atau menghakimi. Ini hanya suatu catatan reflektif belaka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
- Yesus Mengajar: Masuklah ke dalam Kamar
Dalam Matius 6:5–6, Yesus memberikan pengajaran yang sangat mendasar tentang doa. Ia mengkritik orang-orang yang suka berdoa di rumah-rumah ibadat dan di persimpangan jalan agar dilihat orang. Kemudian, Ia berkata:
“Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.”
Ada tiga hal penting dalam pengajaran ini.
Pertama, doa adalah hubungan, bukan pertunjukan. Yesus tidak sedang melarang orang berdoa di tempat umum. Ia sedang mengkritik praktik keagamaan yang menjadikan doa sebagai sarana untuk mendapatkan pengakuan manusia. Masalahnya bukan semata-mata tempat seseorang berdoa, melainkan orientasi hatinya ketika berdoa. Orang dapat berdoa di dalam kamar, tetapi hatinya sibuk membayangkan pujian orang lain. Sebaliknya, orang dapat berdoa di tengah jemaat tanpa bermaksud mempertontonkan kesalehannya. Dengan demikian, persoalan utama bukan apakah doa itu disaksikan orang, melainkan apakah manusia sedang mencari Tuhan atau sedang mencari perhatian manusia melalui Tuhan.
Kedua, kamar adalah simbol keheningan dan keintiman. Perintah masuk ke dalam kamar dan menutup pintu mengandung makna yang lebih dalam daripada sekadar petunjuk tentang lokasi berdoa. Kamar merupakan ruang ketika seseorang tidak perlu mengenakan topeng sosial. Tidak ada penonton yang harus dikagumi. Tidak ada tepuk tangan yang perlu ditunggu. Tidak ada komentar yang harus diperhitungkan. Di sana, manusia datang kepada Tuhan dengan dirinya yang sesungguhnya: kelemahan, ketakutan, penyesalan, harapan, dan rasa syukur. Tentu saja, Tuhan tidak hanya hadir di kamar. Namun, melalui gambaran kamar yang tertutup, Yesus menekankan pentingnya relasi dengan Allah yang tidak bergantung pada pengakuan manusia.
Ketiga, Tuhan melihat yang tersembunyi. Pada akhir Matius 6:6, Yesus menegaskan bahwa Bapa yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya. Ini menunjukkan bahwa nilai doa tidak ditentukan oleh banyaknya orang yang menyaksikannya, melainkan oleh hubungan manusia dengan Allah. Doa tidak memerlukan jumlah penonton untuk memperoleh makna. Ia tidak membutuhkan jumlah likes untuk menjadi berharga. Dan ia tidak menjadi lebih kudus hanya karena disiarkan kepada ribuan orang. Di sinilah kita menemukan inti persoalannya: doa adalah perjumpaan dengan Tuhan, bukan usaha untuk membuat orang lain menyaksikan bahwa kita sedang berjumpa dengan Tuhan.
- Lalu, bagaimana dengan berdoa ambil live streaming di TikTok?
Kita perlu berhati-hati agar tidak langsung menghakimi setiap orang yang melakukan hal tersebut. Ada berbagai kemungkinan motivasi di balik tindakan yang sama. Seseorang mungkin melakukan live streaming doa karena ingin mengajak orang lain berdoa bersama. Ada yang ingin menguatkan orang sakit, menghibur mereka yang kesepian, atau membangun persekutuan bagi orang-orang yang tidak dapat berkumpul secara langsung. Dalam keadaan seperti itu, media digital dapat menjadi sarana pelayanan. Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika doa sengaja dipertontonkan demi membangun citra diri sebagai orang saleh, memperoleh popularitas, mengumpulkan pengikut, atau mendapatkan keuntungan tertentu.
Kita memang tidak dapat mengetahui motivasi seseorang hanya dengan melihat siaran langsungnya. Akan tetapi, kita dapat mengajukan pertanyaan teologis yang penting. Apakah TikTok sedang digunakan untuk menyampaikan doa kepada orang-orang, atau doa sedang digunakan untuk menarik perhatian orang-orang kepada pemilik akun? Keduanya mungkin tampak serupa di layar, tetapi secara spiritual dapat memiliki orientasi yang sangat berbeda.
Dalam kasus pertama, media menjadi sarana pelayanan. Dalam kasus kedua, praktik keagamaan berisiko berubah menjadi sarana pembentukan citra diri. Bahkan, seseorang dapat memulai dengan niat yang tulus, tetapi perlahan-lahan terjebak dalam tuntutan algoritma: siaran harus ramai, penonton harus bertambah, komentar harus mengalir, dan pengikut harus meningkat. Akhirnya, tanpa disadari, perhatian seseorang dapat beralih dari Tuhan kepada respons penonton. Doa yang semestinya membebaskan manusia dari kebutuhan akan pengakuan justru berpotensi menjadi bagian dari industri pengakuan. Tentu saja, ini bukan berarti setiap doa yang disiarkan merupakan kemunafikan. Kita hanya perlu menyadari bahwa ketika doa memasuki ruang publik digital, ada godaan baru yang perlu diwaspadai: keinginan untuk terlihat saleh.
- Ketika doa menjadi konten, siapakah yang menjadi pusat perhatian?
Di sini refleksi sosiologis menjadi menarik. Media sosial bekerja dengan logika visibilitas. Sesuatu yang terlihat, ditonton, dibagikan, dan mendapatkan respons akan memperoleh perhatian lebih besar. Sementara itu, doa dalam pengertian yang diajarkan Yesus justru mengandung dimensi yang tidak bergantung pada visibilitas.
Doa dapat berlangsung tanpa kamera. Air mata dapat jatuh tanpa perlu direkam. Pengakuan dosa dapat disampaikan tanpa diketahui orang lain. Bahkan, pergumulan terdalam seseorang mungkin hanya diketahui oleh dirinya dan Tuhan. Ketika praktik doa dipindahkan ke ruang digital, dua logika ini bertemu: logika spiritualitas dan logika popularitas. Logika spiritualitas mengajak manusia masuk ke kedalaman dirinya untuk mencari Tuhan. Logika popularitas mendorong manusia tampil agar memperoleh perhatian orang lain. Keduanya tidak selalu bertentangan. Sebuah siaran doa dapat sungguh-sungguh menolong banyak orang. Namun, ketegangan di antara keduanya tetap perlu disadari.
Bayangkan seseorang sedang berlutut, memejamkan mata, mengangkat tangan, dan melafalkan doa. Pada saat yang sama, kamera telepon genggam merekam setiap gerakannya, sedangkan layar menampilkan jumlah penonton dan komentar yang masuk. Secara fisik, ia tampak sedang berdoa. Namun, kita tidak mengetahui ke mana perhatiannya tertuju. Apakah ia sungguh-sungguh sedang mengarahkan hati kepada Tuhan? Apakah ia juga sedang memikirkan orang-orang yang menontonnya? Ataukah kedua hal itu berlangsung bersamaan?
Kita tidak memiliki hak untuk memastikan jawabannya. Hanya saja, situasi tersebut memperlihatkan betapa mudahnya ruang doa bersentuhan dengan ruang pertunjukan. Di sini, kita perlu mengingat bahwa masalah spiritual tidak selalu terletak pada apa yang terlihat oleh mata, tetapi juga pada apa yang sedang menguasai hati. Sebab, seseorang dapat menyiarkan doanya kepada ribuan orang, tetapi belum tentu sedang membangun keintiman dengan Tuhan. Sebaliknya, seseorang dapat berdoa sendirian tanpa diketahui siapa pun, tetapi mengalami perjumpaan spiritual yang mendalam. Jumlah penonton tidak dapat digunakan untuk mengukur kedalaman iman seseorang.
- Apakah berarti doa harus selalu dirahasiakan?
Tidak juga. Alkitab sendiri memperlihatkan bahwa doa dapat dilakukan secara bersama-sama dan di hadapan banyak orang. Yesus berdoa di hadapan murid-murid-Nya. Jemaat mula-mula bertekun dalam doa bersama (Kisah Para Rasul 1:14; 4:24). Yesus juga mengajarkan bahwa terang harus bercahaya di depan orang lain supaya mereka melihat perbuatan baik dan memuliakan Bapa di surga (Matius 5:16).
Apakah kedua pengajaran ini bertentangan dengan perintah untuk berdoa di kamar? Tidak. Keduanya berbicara tentang konteks dan orientasi yang berbeda. Matius 5:16 berbicara tentang perbuatan baik yang membawa kemuliaan bagi Allah, sedangkan Matius 6:5–6 mengkritik praktik keagamaan yang dilakukan untuk memperoleh pujian manusia. Karena itu, kita tidak boleh menyederhanakan ajaran Yesus menjadi larangan mutlak terhadap doa di hadapan orang lain. Yang Yesus kritik bukan keterlihatan doa, melainkan kesalehan yang menjadikan perhatian manusia sebagai tujuan.
Dengan demikian, menyiarkan doa melalui TikTok tidak otomatis salah. Namun, tindakan itu perlu diuji melalui prinsip yang sama: apakah siaran tersebut sungguh menjadi sarana pelayanan, atau justru menjadikan kesalehan sebagai pertunjukan? Ada baiknya pula kita bertanya: apakah orang-orang yang mengikuti siaran itu diajak untuk berjumpa dengan Tuhan, atau justru diarahkan untuk mengagumi orang yang sedang berdoa?
Pertanyaan ini penting karena pusat perhatian dalam doa Kristen seharusnya adalah Allah, bukan orang yang memimpin doa.
- Refleksi: Tuhan tidak membutuhkan kamera
Ada satu hal yang patut kita renungkan lebih jauh. Ketika seseorang merasa perlu menyalakan kamera setiap kali berdoa, kita dapat bertanya: apakah kehadiran Tuhan terasa belum cukup tanpa kehadiran penonton? Tentu saja, pertanyaan ini bukan tuduhan terhadap orang tertentu. Ini adalah pertanyaan reflektif bagi siapa pun yang hidup dalam kebudayaan digital, termasuk kita sendiri.
Kita hidup pada zaman ketika banyak pengalaman pribadi mudah diubah menjadi konten. Makan direkam, perjalanan disiarkan, kesedihan dibagikan, bahkan pengalaman spiritual pun dapat dipertontonkan. Akibatnya, batas antara mengalami sesuatu dan memperlihatkan bahwa kita sedang mengalaminya menjadi semakin tipis.
Kita bukan hanya ingin berbuat baik, tetapi juga ingin terlihat sedang berbuat baik. Kita bukan hanya ingin bersyukur, tetapi juga ingin orang lain mengetahui bahwa kita sedang bersyukur. Dan dalam keadaan tertentu, kita bukan hanya ingin berdoa, tetapi juga ingin orang lain menyaksikan bahwa kita adalah orang yang rajin berdoa. Di sinilah pengajaran Yesus kembali menjadi relevan.
Masuklah ke dalam kamar. Tutup pintu. Secara spiritual, perintah ini mengajak manusia meninggalkan sejenak kebutuhan untuk diakui, dipuji, dan disaksikan. Ada ruang dalam kehidupan iman yang tidak perlu menjadi milik publik. Ruang itu adalah tempat seseorang dapat datang kepada Tuhan tanpa harus memikirkan bagaimana dirinya terlihat di mata orang lain. Tidak ada kamera yang perlu diarahkan ke wajahnya. Tidak ada jumlah penonton yang perlu diperiksa. Tidak ada komentar yang harus dibalas. Yang ada hanyalah manusia yang datang dengan segala keterbatasannya kepada Allah yang mengenalnya lebih dalam daripada siapa pun. Sebab, doa yang paling tulus tidak selalu merupakan doa yang paling banyak didengar manusia. Bisa jadi, doa itu justru berlangsung dalam kesunyian yang tidak diketahui siapa-siapa.
Di tengah kebisingan dunia digital, salah satu bentuk kedewasaan iman adalah keberanian untuk tetap memiliki ruang yang tidak disiarkan. Ruang ketika kita tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun, karena kita sadar bahwa kita sedang berdiri di hadapan Tuhan.
Penutup: Pertanyaan bagi gereja pada zaman digital
Gereja tidak perlu buru-buru menolak teknologi. TikTok dapat menjadi sarana penginjilan, penghiburan, dan persekutuan. Namun, gereja juga tidak boleh begitu saja menerima setiap praktik digital tanpa melakukan refleksi teologis. Kita perlu membedakan antara menggunakan media untuk melayani dan menggunakan pelayanan untuk memperoleh perhatian melalui media.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu diajukan bukan sekadar, “Bolehkah orang berdoa sambil live streaming di TikTok?”
Pertanyaan yang lebih mendasar ialah: “Ketika seseorang berdoa di hadapan kamera, apakah ia sedang mengarahkan manusia kepada Tuhan, atau sedang mengarahkan perhatian manusia kepada dirinya sendiri?”
Jawabannya tidak selalu dapat kita ketahui dari luar. Karena itu, kita perlu berhati-hati dalam menghakimi motivasi orang lain, sekaligus jujur memeriksa motivasi kita sendiri. Sebab, kamera dapat merekam gerak tubuh, mikrofon dapat menangkap suara doa, dan algoritma dapat menghitung jumlah penonton. Namun, semua itu tidak dapat dijadikan ukuran yang pasti untuk menilai kedalaman hubungan seseorang dengan Tuhan. Tuhan tidak membutuhkan siaran langsung agar dapat mendengar doa. Manusialah yang membutuhkan penonton agar merasa bahwa doanya berarti.
Di situlah kita perlu kembali kepada kamar yang diajarkan Yesus: bukan semata-mata kamar berdinding empat, melainkan ruang batin ketika manusia berhenti mempertontonkan dirinya dan sungguh-sungguh mencari Allah.
Penulis : Heronimus Bani
Editor : Heronimus Bani









