Catatan untuk Menteri Dody Hanggodo: Hentikan Arogansi dan Gaya Tangan Besi

Jumat, 17 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Chris Bani

Chris Bani

Penulis: Chris M. Bani, S.H

(Advokat & Konsultan Hukum)

KUPANG,- Di balik meja-meja birokrasi yang dipenuhi berkas, ada manusia yang setiap hari bekerja dalam diam. Mereka bukan wajah yang tampil di layar televisi. Mereka tidak berdiri di podium konferensi pers. Namun dari tangan merekalah berbagai kebijakan negara lahir dan berjalan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Karena itu, ketika publik dihadapkan pada berbagai polemik yang menyeret nama Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, perhatian masyarakat tidak hanya tertuju pada substansi persoalan, tetapi juga pada cara seorang pemimpin memperlakukan orang-orang yang bekerja di bawah kepemimpinannya.

Dalam beberapa waktu terakhir, ruang publik diramaikan oleh sejumlah kontroversi. Mulai dari beredarnya dokumen perjalanan dinas ke Amerika Serikat, isu mutasi sejumlah pegawai di lingkungan Kementerian PU, hingga video yang dinilai memperlihatkan sikap kurang hangat kepada staf.

Di media sosial, berbagai narasi berkembang, termasuk unggahan Maria Alkaff yang menduga mutasi tersebut berkaitan dengan kebocoran dokumen perjalanan dinas. Hingga kini, berbagai tuduhan tersebut masih menjadi perbincangan publik dan memerlukan klarifikasi maupun pembuktian berdasarkan fakta.

Terlepas dari benar atau tidaknya berbagai dugaan yang beredar, polemik ini menghadirkan pertanyaan yang jauh lebih besar: seperti apa wajah kepemimpinan yang diharapkan masyarakat?

Sejarah membuktikan bahwa seorang pemimpin tidak dikenang karena kerasnya suara, melainkan karena kebesaran hatinya menerima kritik. Kekuasaan memang memberi kewenangan mengambil keputusan, tetapi kewenangan tidak pernah identik dengan kesewenang-wenangan.

Dalam birokrasi modern, mutasi merupakan instrumen organisasi yang sah apabila dilakukan berdasarkan kebutuhan, kompetensi, dan aturan yang berlaku. Namun ketika sebuah kebijakan menimbulkan persepsi sebagai bentuk hukuman, balas dendam, atau intimidasi, kepercayaan publik terhadap institusi ikut dipertaruhkan. Bahkan jika persepsi itu keliru, tetap menjadi pekerjaan rumah bagi seorang pemimpin untuk menjelaskan dan membangun kembali kepercayaan.

Seorang menteri bukan hanya administrator pemerintahan. Ia adalah simbol etika pelayanan publik. Sikap, bahasa tubuh, dan cara memperlakukan bawahan akan dibaca masyarakat sebagai cerminan budaya organisasi yang dipimpinnya.

Rakyat sesungguhnya tidak mengharapkan pemimpin yang selalu benar. Rakyat mengharapkan pemimpin yang bersedia mendengar, menjelaskan, dan mengakui kekurangan bila memang terdapat kekeliruan. Kerendahan hati jauh lebih kuat daripada kemarahan. Dialog jauh lebih bermakna daripada ketakutan.

Apabila berbagai polemik yang berkembang tidak segera dijawab secara terbuka, ruang informasi akan terus dipenuhi spekulasi. Dan dalam era keterbukaan, diam sering kali ditafsirkan lebih keras daripada sebuah penjelasan.

Momentum ini semestinya menjadi refleksi, bukan hanya bagi Menteri Pekerjaan Umum, tetapi bagi seluruh pejabat publik. Jabatan hanyalah amanah yang bersifat sementara. Yang akan dikenang masyarakat bukan panjangnya masa jabatan, melainkan kualitas kepemimpinan selama memegang amanah tersebut.

Seorang pemimpin besar tidak diukur dari seberapa banyak orang yang takut kepadanya. Ia diukur dari seberapa banyak orang yang tetap menghormatinya ketika kekuasaan itu telah berakhir.

Setiap pemimpin harus tahu, bahwa kritik bukanlah ancaman bagi pemerintah. Kritik adalah cermin. Dan hanya pemimpin yang berani bercermin yang mampu memperbaiki dirinya serta meninggalkan warisan kepemimpinan yang bermartabat.**

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir
Upaya RJ Belum Temukan Titik Temu, Kuasa Hukum Teldi Mooy Minta Penyidik Dalami Penguasaan Sertifikat
Rote Ndao Sebelum 2029: Komitmen Politik Usman Husin Memilih Berjuang dari Senayan 
Mengenal Peran Agrinas di Garis Depan Pembangunan Kopdes Merah Putih
Cerita Air Bersih dan Kepedulian Polri di Kabupaten Kupang
Ultimatum 48 Jam!! Forum Wartawan NTT Desak Kapolda Evaluasi Kapolres TTU
Ketika Pengkhianatan Rumah Tangga Bersembunyi di Balik Seragam ASN
Polisi Kejar Pelaku Pembobolan Minimarket dan ATM BRI di Kabupaten Kupang

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 22:42

Ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir

Senin, 28 September 2026 - 09:34

Upaya RJ Belum Temukan Titik Temu, Kuasa Hukum Teldi Mooy Minta Penyidik Dalami Penguasaan Sertifikat

Jumat, 25 September 2026 - 21:21

Rote Ndao Sebelum 2029: Komitmen Politik Usman Husin Memilih Berjuang dari Senayan 

Jumat, 25 September 2026 - 05:39

Mengenal Peran Agrinas di Garis Depan Pembangunan Kopdes Merah Putih

Jumat, 25 September 2026 - 03:41

Cerita Air Bersih dan Kepedulian Polri di Kabupaten Kupang

Berita Terbaru

ilustrasi oleh AI: berbicara di depan orang lain;

Gaya Hidup

Ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir

Senin, 28 Sep 2026 - 22:42

Konten tidak bisa disalin.