KUPANG,- Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai membuka pembahasan mengenai peluang pengembangan bioethanol berbasis komoditas lokal sebagai bagian dari upaya mendorong hilirisasi dan meningkatkan nilai tambah hasil pertanian di daerah.
Pembahasan itu mengemuka dalam audiensi Pemerintah Provinsi NTT bersama Tidal Bridge dan PT Pertamina Energi Baru dan Terbarukan (EBT) di ruang kerja Gubernur NTT. Dalam pertemuan tersebut, Gubernur didampingi Kepala Dinas PUPR, Kepala Dinas Kominfo, dan Kepala Bapperida Provinsi NTT.
Bioethanol menjadi salah satu peluang yang mendapat perhatian karena NTT memiliki sejumlah komoditas yang berpotensi menjadi bahan baku, antara lain tebu, singkong, jagung, sorgum, hingga jambu mete. Komoditas tersebut selama ini sebagian besar masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah sehingga ruang untuk meningkatkan nilai tambah di tingkat daerah masih terbuka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemerintah Provinsi NTT memandang pengembangan bioethanol tidak semata-mata sebagai agenda energi terbarukan. Jika dikembangkan melalui skema yang tepat, pengolahan bahan baku lokal di dalam daerah berpotensi menciptakan mata rantai ekonomi baru, mulai dari sektor pertanian, pengolahan, UMKM, hingga penciptaan lapangan kerja.
Gubernur NTT menekankan pentingnya agar potensi komoditas daerah tidak berhenti pada aktivitas produksi dan penjualan bahan mentah. Hilirisasi diharapkan dapat membuat sebagian nilai ekonomi dari komoditas tersebut tetap berputar di NTT dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Selain pembahasan bioethanol, audiensi tersebut juga membahas peluang pengembangan Tidal Bridge Larantuka serta dukungan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) bagi sekolah-sekolah di NTT. Namun, pengembangan bioethanol menjadi salah satu isu strategis yang dinilai memiliki keterkaitan langsung dengan potensi pertanian dan ekonomi masyarakat daerah.
Dalam audiensi itu hadir Direktur Utama PT Pertamina EBT John Anis, Manager Pengembangan Business Bayu Prabowo, serta tim teknis Andre Koreh. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari penjajakan peluang kerja sama, dengan gagasan utama mendorong potensi lokal agar dapat diolah di NTT dan menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.**









