KUPANG — Di tengah suasana duka yang masih menyelimuti sejumlah wilayah di Pulau Flores pascagempa bumi, kepedulian tidak berhenti pada ucapan belasungkawa. Ada tangan-tangan yang memilih bergerak, ada langkah yang sengaja diarahkan menuju lokasi bencana, dan ada harapan yang dibawa bersama bantuan untuk warga yang sedang berjuang memulihkan kehidupan.
Semangat itulah yang kini ditunjukkan Yayasan Yusinta Ningsih Sejahtera (YNS). Yayasan yang dikenal aktif dalam kerja-kerja sosial dan kemanusiaan tersebut menyiapkan dana sebesar Rp250 juta untuk membantu masyarakat terdampak gempa di Flores, Nusa Tenggara Timur.
Bagi YNS, bantuan bukan sekadar angka yang tercatat dalam laporan. Di balik setiap rupiah yang disiapkan, ada kebutuhan warga yang harus dijawab—mulai dari kebutuhan dasar hingga pelayanan kesehatan bagi mereka yang masih merasakan dampak bencana.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Rabu (19/8/2026), langkah pertama itu dimulai. Tim YNS diberangkatkan menuju Kabupaten Ende dan Nagekeo membawa bantuan sekaligus menjalankan misi yang tidak kalah penting: melihat dari dekat kondisi masyarakat dan memetakan kebutuhan mereka.
Founder Yayasan YNS, Yusinta Nenobahan Syarief, atau yang akrab disapa Uchi, memilih pendekatan langsung agar bantuan yang diberikan tidak berhenti pada apa yang terlihat dari jauh.
Tim yang dikirim pada kloter pertama melakukan pemantauan dan survei di sejumlah wilayah terdampak. Temuan di lapangan akan menjadi pijakan bagi YNS dalam menentukan bantuan pada pemberangkatan berikutnya.
Pendekatan tersebut memperlihatkan satu prinsip sederhana: bantuan yang baik adalah bantuan yang benar-benar dibutuhkan penerimanya.
“Yayasan YNS sudah menyiapkan dana Rp250 juta untuk saudara-saudari kita yang terkena bencana gempa bumi di Flores. Hari ini kita berangkatkan tim untuk mengantarkan bantuan yang sudah disiapkan sekaligus melakukan survei untuk persiapan kloter kedua,” ujar Uchi.
Di balik keberangkatan kloter pertama, Uchi sebenarnya menyimpan keinginan untuk berada langsung bersama tim. Namun, sejumlah agenda yang tidak dapat ditinggalkan membuatnya harus menunda perjalanan.
Bukan berarti kepedulian ikut tertunda. Uchi memastikan dirinya akan turun langsung bersama tim pada kloter kedua yang direncanakan berangkat pekan depan. Ia ingin melihat sendiri bagaimana masyarakat bertahan setelah bencana dan apa yang paling mereka perlukan.
“Saya pastinya minggu depan akan turun langsung pada kloter kedua,” katanya.
Ada alasan lain mengapa YNS memberi perhatian khusus pada aspek kesehatan. Pascabencana, kebutuhan masyarakat bukan hanya soal makanan, tempat tinggal atau kebutuhan sehari-hari. Kondisi lingkungan dan tekanan pascagempa juga dapat memunculkan berbagai persoalan kesehatan yang membutuhkan penanganan cepat.
Karena itu, YNS turut mengirimkan sejumlah tenaga kesehatan bersama obat-obatan. Tim medis tersebut akan membantu memberikan pelayanan kepada warga yang membutuhkan, sementara obat-obatan disalurkan berdasarkan kebutuhan di lapangan.
“Kita juga kirimkan beberapa nakes untuk membantu melihat masyarakat yang mungkin mengalami sakit. Obat yang kita kirim juga dibagikan sesuai dengan kebutuhan,” tutur Uchi.
Langkah YNS menjadi pengingat bahwa dalam situasi bencana, kemanusiaan tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar dan gemerlap. Kadang ia hadir melalui kendaraan yang berangkat membawa obat-obatan, melalui tenaga kesehatan yang bersedia mendatangi warga, atau melalui seseorang yang memilih meninggalkan kenyamanan untuk berdiri di tengah masyarakat yang sedang kehilangan.
Bagi warga Flores yang tengah melewati hari-hari sulit, kehadiran seperti itu memiliki makna lebih dari sekadar bantuan. Ia menjadi pesan bahwa mereka tidak berjalan sendirian menghadapi masa pemulihan.
Dan ketika kloter kedua YNS nantinya berangkat, Uchi tidak hanya membawa bantuan. Ia membawa sebuah pesan sederhana: di tengah puing dan luka, masih ada kepedulian yang datang mengetuk pintu rumah-rumah warga Flores.***









