Masih adakah kontroversi UN?

Kamis, 6 April 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Masih adakah Kontroversi UN?

Heronimus Bani

Mula kata

Ujian Nasional dengan nama apapun yang telah mengalami evolusi pada namanya (https://rahmankurniawan.wordpress.com/). Esensinya adalah melakukan evaluasi untuk mengetahui pencapaian kompetensi yang distandarkan secara nasional dan menentukan kelulusan. Pada dua tahun terakhir ini, UN dilakukan untuk pemetaan kualitas lulusan di berbagai daerah di Indonesia. Sekalipun terasa masih ada kontroversi dengan sejumlah alasan yang melatari kebijakan ini, tokh, UN tetap eksis.

Bahkan ketika UN diselenggarakan dengan dua versi: konvensional dan berbasis komputer pun masih terdapat polemik di dalamnya. Agung Alone dalam blog kompasiana menulis artikel tentang kontroversi UN berbasis komputer (http://www.kompasiana.com/margiyantoro/pro-dan-kontra-un-berbasis-komputer)

Kontroversi UN = Mengambangkan UN

Kontroversi penyelenggaraan UN nampaknya sedang “tiarap” pada tahun pelajaran 2016/2017 ini. Mereka yang pro penghapusan UN kurang terdengar suaranya. Begitu pula dengan mereka yang pro eksistensi UN.
Seorang kompasianer, Johny Hutahaean (http://www.kompasiana.com/) mengatakan bahwa kelompok yang pro penghapusan UN sangat kecil jumlahnya. Mereka mengacu kepada negara Finlandia yang meniadakan UN tetapi kualitas out put negara itu dijadikan contoh banyak negara.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berkiblat ke negara-negara yang telah maju dalam pengelolaan pendidikannya, tentu bukan sesuatu yang tabu. Kebijakan penggantian/perubahan kurikulum yang hampir selalu dilakukan menyebabkan sekolah-sekolah swasta berkiblat ke negara lain yang dianggap lebih maju. KTSP adalah “senjata” terbaik yang dimiliki sekolah swasta untuk maksud itu. (ini butuh penelitian lanjutan Lalu, lahirlah sekolah-sekolah swasta favorit. Sekolah swasta favorit itu katanya tetap mendudukkan Kurikulum di atas fondasi kebudayaan Nasional, tetapi ada muatan lain.

Ketika menghadapi UN, terjadi perbedaan pandangan, itu faktor penyebabnya seperti kurikulum dan isiannya yang berbeda. Selain, ketakutan para pihak di sekolah karena kualitas guru, kualitas PBM dan lain-lain yang menjadi problem tetap di sekolah.

Oleh karena itu, orang akan terus mengumandangkan polemik tentang UN. Pemerintah akan terus melaju dalam pelaksanaan UN, tentu sambil memasang telinga pada kritik konstruktif. Pada akhirnya yang menjadi korban atas kontroversi UN adalah para siswa.

Akhir kata

Pemerintah tidak berpangku tangan dan jajaran, para pakar pendidikan pasti terus melakukan berbagai studi untuk penyempurnaan. Harapannya, semoga tidak ada lagi perubahan ketika berganti rezim.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir
Rote Ndao Sebelum 2029: Komitmen Politik Usman Husin Memilih Berjuang dari Senayan 
Mengenal Peran Agrinas di Garis Depan Pembangunan Kopdes Merah Putih
Ketika Pengkhianatan Rumah Tangga Bersembunyi di Balik Seragam ASN
Proyek Bendung Oelnaimuti Amburadul, Pelaksana Kegiatan dan BWS NT II Disorot
Membongkar Budaya Diam pada Murid Sekolah Dasar
KoMBAD dalam Literasi Awal Murid Kelas 1 dan 2 Sekolah Dasar
Ruang Kelas: Laboratorium Peradaban

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 22:42

Ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir

Jumat, 25 September 2026 - 21:21

Rote Ndao Sebelum 2029: Komitmen Politik Usman Husin Memilih Berjuang dari Senayan 

Jumat, 25 September 2026 - 05:39

Mengenal Peran Agrinas di Garis Depan Pembangunan Kopdes Merah Putih

Rabu, 23 September 2026 - 01:36

Ketika Pengkhianatan Rumah Tangga Bersembunyi di Balik Seragam ASN

Selasa, 22 September 2026 - 02:18

Proyek Bendung Oelnaimuti Amburadul, Pelaksana Kegiatan dan BWS NT II Disorot

Berita Terbaru

ilustrasi oleh AI: berbicara di depan orang lain;

Gaya Hidup

Ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir

Senin, 28 Sep 2026 - 22:42

Konten tidak bisa disalin.