KUPANG — Munculnya sejumlah retakan pada ruas Jalan Titus Nau, Jalan Mollo Sujan, dan Jalan Mollo Oetun di Kota Kupang dalam Paket Inpres Jalan Daerah (IJD) Tahun Anggaran 2025 bukan disebabkan oleh kesalahan dalam proses pelaksanaan pekerjaan.
Informasi yang dihimpun media ini, berdasarkan evaluasi teknis di lapangan, kondisi tersebut lebih berkaitan dengan karakteristik tanah dasar (subgrade) yang mengalami pergerakan atau pergeseran, sehingga memengaruhi lapisan struktur perkerasan jalan di sejumlah titik.
Pihak kontraktor pelaksana, PT Amar Jaya Pratama Group menjelaskan bahwa pergerakan tanah dasar dapat memberikan tekanan pada lapisan perkerasan di atasnya. Ketika terjadi deformasi atau pergeseran pada subgrade, tegangan tersebut dapat diteruskan ke lapisan agregat hingga permukaan aspal dan memunculkan pola retakan tertentu. Kondisi ini berbeda dengan kerusakan yang semata-mata disebabkan oleh kesalahan pemadatan atau pelaksanaan pekerjaan konstruksi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Meski demikian, PT Amar Jaya Pratama Group selaku kontraktor pelaksana tidak tinggal diam. Perusahaan langsung mengambil langkah cepat dengan melakukan pemeriksaan dan penanganan pada seluruh titik yang mengalami keretakan.
Sedikitnya terdapat 19 titik yang telah diidentifikasi untuk mendapatkan perbaikan, dan hingga Senin (24/8/2026), pekerjaan cutting atau pembongkaran pada bagian yang terdampak telah dilakukan di 16 titik.
Penanganan kali ini tidak sekadar menutup retakan pada permukaan. Setelah sebelumnya dilakukan pengisian menggunakan sealant, evaluasi lapangan mendorong penggunaan metode perbaikan yang lebih menyeluruh. Bagian jalan yang mengalami kerusakan dipotong (cutting), material dikeluarkan, kemudian lapisan agregat dan tanah dasar diperbaiki serta dipadatkan kembali.
Pada bagian struktur dasar, kontraktor menggunakan CTBC (Cement Treated Base Course), yaitu lapisan agregat yang distabilisasi menggunakan semen untuk meningkatkan daya dukung dan kestabilan struktur perkerasan. Metode tersebut dipilih agar penanganan tidak hanya menyelesaikan gejala berupa retakan di permukaan, tetapi juga memperkuat bagian struktur yang terdampak pergerakan tanah.
PT Amar Jaya Pratama Group memastikan seluruh proses perbaikan menjadi tanggung jawab perusahaan dan akan dikerjakan secepat mungkin dengan tetap memperhatikan tahapan teknis, kualitas material, kadar air, serta tingkat kepadatan setiap lapisan.
“Paling lambat dalam dua minggu ke depan, seluruh 19 titik yang telah diidentifikasi ditargetkan sudah selesai ditangani, sepanjang kondisi lapangan mendukung kelancaran pekerjaan,” ujar salah satu penanggung jawab pekerjaan.
Kepala BPJN NTT, Janto, memastikan pihaknya akan terus mengawal dan mengawasi proses perbaikan tersebut. Pengawasan dilakukan untuk memastikan setiap tahapan pekerjaan berjalan sesuai spesifikasi teknis dan hasil akhirnya memiliki kualitas konstruksi yang layak. BPJN juga akan melakukan evaluasi terhadap hasil pekerjaan sebelum ruas jalan dinyatakan kembali dalam kondisi yang memenuhi standar layanan.
Janto mengharapkan masyarakat dapat bersabar selama proses perbaikan berlangsung. Penanganan keretakan yang berkaitan dengan pergerakan tanah dasar membutuhkan pekerjaan bertahap dan tidak dapat dilakukan hanya dengan menutup permukaan.
“Dengan penanganan yang lebih komprehensif, perbaikan diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih kuat, stabil, dan mampu mendukung fungsi jalan dalam jangka panjang,” ujar Janto.***









