Stop Buang Sampah Sembarang: Potret dan Jeritan Sunyi dari Jembatan Nonobai Osiloa

Kamis, 9 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nampak begitu banyak sampah di atas Jembatan Nonobai.

Nampak begitu banyak sampah di atas Jembatan Nonobai.

KUPANG,- Angin yang seharusnya membawa kesejukan justru menyuguhkan aroma tak sedap di sekitar Jembatan Nonobai Osiloa. Jembatan yang menjadi penghubung antara Penfui Timur dan Osiloa (Poros Tengah), Kecamatan Kupang Tengah, itu perlahan kehilangan maknanya sebagai jalur kehidupan. Ia kini menjadi saksi bisu dari kebiasaan yang tak pernah selesai: membuang sampah sembarangan.

Di bawah jembatan, tumpukan sampah terlihat menggunung. Plastik, sisa makanan, hingga limbah rumah tangga bercampur menjadi satu. Sebagian bahkan tersangkut di sela-sela konstruksi, terbawa air saat hujan turun, lalu mengendap dan menumpuk. Pemandangan ini bukan hanya mengganggu estetika, tetapi juga merusak ekosistem yang ada di sekitarnya.

Warga yang tinggal tak jauh dari lokasi hanya bisa menghela napas. Bau menyengat yang muncul setiap hari menjadi “teman” yang tak diundang. “Kalau panas, baunya makin kuat. Kalau hujan, sampahnya makin banyak,” keluh seorang warga. Bagi mereka, jembatan ini bukan lagi sekadar jalur penghubung, melainkan sumber masalah yang mengancam kesehatan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ironisnya, perilaku membuang sampah di jembatan ini seakan sudah menjadi kebiasaan. Tanpa rasa bersalah, sebagian orang datang, melempar sampah, lalu pergi begitu saja. Tidak ada pengawasan, tidak ada sanksi, dan perlahan, kebiasaan ini menjadi normal di mata sebagian warga.

Selain itu, Jembatan Nonobai Osiloa bukan hanya tercemar oleh tumpukan sampah liar, tetapi juga dinodai dengan praktik biadab pembuangan bangkai hewan yang menciptakan ancaman serius bagi kesehatan dan lingkungan.

Sampah yang berserakan di atas Jembatan Nonobai.

Peringatan keras: hentikan segera tindakan tidak beradab ini, pelaku pembuangan sampah dan bangkai akan didorong untuk ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku tanpa kompromi.

  • DAMPAK

Padahal, dampaknya tidak sederhana. Selain mencemari lingkungan, tumpukan sampah juga berpotensi menjadi sarang penyakit. Nyamuk, lalat, dan berbagai bakteri berkembang dengan cepat di antara limbah yang membusuk. Risiko penyakit pun meningkat, terutama bagi anak-anak dan warga yang tinggal di sekitar lokasi.

Namun di tengah kondisi tersebut, harapan masih ada. Warga sekitar mulai bergerak. Dalam waktu dekat, mereka berinisiatif memasang papan peringatan bertuliskan tegas: “STOP BUANG SAMPAH DI TEMPAT INI.” Sebuah pesan sederhana, namun sarat makna. Mereka berharap, tulisan itu mampu menyentuh kesadaran siapa pun yang melintas.

Lebih dari itu, warga juga berharap adanya perhatian serius dari pemerintah desa, baik dari Penfui Timur maupun Osiloa. Pengawasan yang lebih ketat terhadap setiap warganya, serta penerapan sanksi dianggap menjadi langkah penting untuk menghentikan kebiasaan buruk ini. Tanpa tindakan tegas, jembatan ini akan terus menjadi tempat pembuangan liar yang merugikan semua pihak.

Jembatan Nonobai Osiloa seharusnya menjadi simbol konektivitas dan kehidupan. Namun hari ini, ia justru mencerminkan persoalan kesadaran yang belum tuntas. Pertanyaannya sederhana: sampai kapan jembatan ini harus menanggung beban sampah yang bukan miliknya?

Perubahan mungkin tidak datang dalam semalam. Tetapi dari satu papan peringatan, dari satu kesadaran kecil, harapan itu mulai tumbuh—bahwa suatu hari nanti, Jembatan Nonobai Osiloa bisa kembali bersih, layak, dan menjadi kebanggaan, bukan lagi tempat pembuangan.

Penulis: Chris Bani 

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Ketika singa hanya mencari makan, tetapi manusia mencari mangsa
Upaya RJ Belum Temukan Titik Temu, Kuasa Hukum Teldi Mooy Minta Penyidik Dalami Penguasaan Sertifikat
Rote Ndao Sebelum 2029: Komitmen Politik Usman Husin Memilih Berjuang dari Senayan 
Mengenal Peran Agrinas di Garis Depan Pembangunan Kopdes Merah Putih
Cerita Air Bersih dan Kepedulian Polri di Kabupaten Kupang
Ultimatum 48 Jam!! Forum Wartawan NTT Desak Kapolda Evaluasi Kapolres TTU
Ketika Pengkhianatan Rumah Tangga Bersembunyi di Balik Seragam ASN
Polisi Kejar Pelaku Pembobolan Minimarket dan ATM BRI di Kabupaten Kupang

Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 03:49

Ketika singa hanya mencari makan, tetapi manusia mencari mangsa

Senin, 28 September 2026 - 09:34

Upaya RJ Belum Temukan Titik Temu, Kuasa Hukum Teldi Mooy Minta Penyidik Dalami Penguasaan Sertifikat

Jumat, 25 September 2026 - 21:21

Rote Ndao Sebelum 2029: Komitmen Politik Usman Husin Memilih Berjuang dari Senayan 

Jumat, 25 September 2026 - 05:39

Mengenal Peran Agrinas di Garis Depan Pembangunan Kopdes Merah Putih

Rabu, 23 September 2026 - 06:59

Ultimatum 48 Jam!! Forum Wartawan NTT Desak Kapolda Evaluasi Kapolres TTU

Berita Terbaru

ilustrasi oleh AI: berbicara di depan orang lain;

Gaya Hidup

Ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir

Senin, 28 Sep 2026 - 22:42

Konten tidak bisa disalin.