Bahasa Dukacita dalam Kebudayaan Pah Amarasi
Dalam kebudayaan masyarakat adat Pah Amarasi, pakaian tidak selalu sekadar berfungsi sebagai penutup tubuh atau pelengkap penampilan. Kain, warna, motif, cara mengenakan, bahkan posisi sebuah kain pada tubuh dapat menjadi tanda yang menyampaikan pesan sosial. Tubuh manusia, dalam konteks adat, dapat menjadi semacam ruang tempat kebudayaan “menulis” pesan tanpa kata-kata. Salah satu bentuk bahasa tubuh adat itu tampak pada penggunaan destar sebagai simbol dukacita.
Foto yang menjadi bahan refleksi ini memperlihatkan seorang laki-laki mengenakan destar yang tidak diletakkan di kepala, melainkan disampirkan pada kedua pundaknya. Dari depan, kain tampak menjuntai ke bagian dada dan tubuh bagian depan. Dari belakang, kain membentang pada kedua pundak dan membentuk konfigurasi khas yang berbeda dari cara pemakaian destar sebagai penutup kepala. Perbedaan posisi ini bukan perkara teknis semata. Dalam konteks budaya, cara mengenakan kain dapat mengubah maknanya.
Tubuh sebagai bahasa adat
Antropologi kebudayaan mengajarkan bahwa manusia tidak hanya berkomunikasi melalui bahasa lisan. Masyarakat juga membangun sistem komunikasi melalui simbol, gestur, benda, warna, ruang, dan pakaian. Apa yang dikenakan seseorang dapat memberitahukan siapa dirinya, dari kelompok mana ia berasal, dalam peristiwa apa ia hadir, dan bagaimana kedudukannya terhadap suatu peristiwa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam kerangka tersebut, destar dukacita Pah Amarasi dapat dibaca sebagai bahasa nonverbal.
Orang yang melihatnya tidak harus bertanya, “Apa yang sedang terjadi?” Cara kain itu dikenakan telah memberikan isyarat. Ia mengatakan bahwa pemakainya sedang berada dalam suatu suasana sosial tertentu—suasana kehilangan dan dukacita.
Dengan demikian, destar tersebut bukan hanya benda tekstil. Ia merupakan tanda budaya. Maknanya lahir dari kesepakatan sosial yang diwariskan dalam masyarakat. Kain yang sama, apabila dikenakan dengan cara berbeda, dapat menghasilkan pesan yang berbeda pula.
Dari kepala ke pundak: perubahan posisi, perubahan makna
Secara umum, destar mudah dipahami sebagai kain yang dikenakan di kepala. Namun dalam tradisi yang dibicarakan di sini, justru terdapat penyimpangan yang bermakna: destar tidak ditempatkan di kepala, melainkan di pundak.
Perubahan posisi ini menarik secara antropologis karena memperlihatkan bahwa makna sebuah benda tidak melekat secara mutlak pada bendanya. Makna ditentukan oleh hubungan antara benda, tubuh, cara pemakaian, situasi sosial, dan pengetahuan budaya masyarakat.
Destar yang berada di kepala dapat dibaca sebagai bagian dari tata busana. Destar yang disampirkan pada pundak, dalam konteks dukacita, berubah menjadi tanda.
Di sinilah kebudayaan bekerja secara halus. Tidak ada tulisan “saya sedang berduka”. Tidak ada pengumuman yang harus dibaca. Tubuh dan kain telah berbicara.
Dukacita yang dikenakan
Kematian selalu menghadirkan pengalaman personal sekaligus sosial. Seseorang memang kehilangan orang yang dikasihinya, tetapi kematian dalam masyarakat adat juga merupakan peristiwa yang melibatkan keluarga, kerabat, suku, tetangga, dan komunitas. Karena itu, dukacita tidak hanya dirasakan di dalam hati. Ia juga diekspresikan secara sosial.
Destar yang disampirkan pada pundak menjadi salah satu bentuk ekspresi tersebut. Dukacita yang semula berada di dalam batin diterjemahkan menjadi tanda yang dapat dilihat oleh komunitas. Dalam pengertian ini, destar dukacita memiliki fungsi yang lebih dalam daripada sekadar estetika. Ia membantu masyarakat mengenali keadaan sosial seseorang. Ia menciptakan semacam solidaritas visual: orang lain mengetahui bahwa seseorang sedang berada dalam suasana kehilangan dan karenanya perlu ditempatkan dalam suasana penghormatan tertentu.
Pakaian sebagai arsip kebudayaan
Ada hal lain yang tidak kalah penting. Suatu tradisi dapat bertahan bukan hanya melalui cerita yang dituturkan, tetapi juga melalui benda dan praktik yang dilakukan berulang-ulang. Kain menyimpan ingatan. Motif menyimpan identitas. Cara mengenakan menyimpan aturan. Dan tubuh menjadi tempat berlangsungnya ingatan itu. Karena itu, destar dukacita dapat dipandang sebagai arsip kebudayaan yang hidup. Ia tidak disimpan dalam lemari arsip, melainkan diwariskan melalui praktik. Pengetahuan mengenai cara mengenakan, kapan dikenakan, siapa yang mengenakan, dan apa maknanya merupakan pengetahuan kebudayaan. Masalahnya, arsip hidup semacam ini dapat hilang apabila praktiknya berhenti.
Degradasi bukan hanya hilangnya benda, tetapi hilangnya makna
Ketika masyarakat mulai meninggalkan cara pemakaian destar dukacita, yang terancam hilang sebenarnya bukan hanya sebuah bentuk busana. Yang terancam adalah sistem pengetahuan di belakangnya. Generasi muda mungkin masih mengenal kainnya, tetapi belum tentu mengenal makna posisi kain tersebut. Mereka mungkin masih dapat melihat destar sebagai benda indah, tetapi tidak lagi memahami bahwa cara menyampirkannya pada pundak merupakan tanda dukacita. Pada titik ini kita berbicara tentang degradasi budaya dalam pengertian yang lebih mendalam.
Degradasi kebudayaan tidak selalu terjadi ketika sebentuk benda musnah. Ia dapat terjadi ketika benda masih bertahan, tetapi maknanya tidak lagi dipahami. Kain tetap ada, motif tetap ada, bahkan orang masih memakainya. Namun “tata bahasa” penggunaannya telah dilupakan. Maka yang perlu diselamatkan bukan hanya destarnya, melainkan juga pengetahuan tentang destar.
Penutup: jangan biarkan tubuh kehilangan bahasanya
Destar yang disampirkan di pundak merupakan contoh kecil tetapi penting tentang bagaimana masyarakat adat Pah Amarasi membangun komunikasi melalui simbol. Dalam kesederhanaannya, ia memperlihatkan sebuah pandangan bahwa dukacita bukan hanya sesuatu yang dirasakan, tetapi juga sesuatu yang dapat dinyatakan melalui tubuh. Di pundak seseorang, sehelai kain dapat berkata: ada kehilangan; ada keluarga yang sedang berduka; ada peristiwa yang harus dihormati.
Itulah sebabnya degradasi simbol ini perlu dipandang serius. Yang sedang memudar bukan sekadar sebuah cara berpakaian, melainkan sebuah “kalimat” dalam bahasa kebudayaan Pah Amarasi. Jika suatu hari destar masih ditemukan tetapi tidak seorang pun lagi mengetahui mengapa ia disampirkan di pundak, maka kebudayaan telah kehilangan sebagian dari kosakatanya. Dan ketika sebuah masyarakat kehilangan kosakata budayanya, yang hilang bukan hanya kata-kata. Yang hilang adalah sebagian cara masyarakat itu memahami kehidupan, kematian, hubungan sosial, dan dirinya sendiri.
Karena itu, destar dukacita Pah Amarasi layak dicatat, diteliti, diajarkan, dan diwariskan—bukan sebagai benda masa lalu, melainkan sebagai salah satu bahasa hidup dari ingatan kolektif masyarakat adat Pah Amarasi
Penulis : Heronimus Bani
Editor : Heronimus Bani









