Keindahan Bougenville di Civic Center Oelamasi, Jejak Sunyi Seorang ASN

Rabu, 16 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keterangan foto:
Bunga bougenville yang tumbuh di kawasan Taman Civic Center Oelamasi kian memperindah ruang terbuka di pusat Kabupaten Kupang. Tanaman yang ditata dan dirawat tersebut menjadi bagian dari wajah hijau Civic Center sekaligus memberi warna bagi lingkungan sekitarnya.

Keterangan foto: Bunga bougenville yang tumbuh di kawasan Taman Civic Center Oelamasi kian memperindah ruang terbuka di pusat Kabupaten Kupang. Tanaman yang ditata dan dirawat tersebut menjadi bagian dari wajah hijau Civic Center sekaligus memberi warna bagi lingkungan sekitarnya.

KUPANG,- Ada yang menarik perhatian ketika melewati kawasan Taman Civic Center Oelamasi. Di antara ruang terbuka yang menjadi bagian dari pusat pemerintahan Kabupaten Kupang itu, tanaman bougenville tumbuh menghiasi sejumlah bagian taman.

Sekilas, tidak ada yang istimewa. Tanaman bunga adalah pemandangan yang lazim ditemukan di ruang-ruang publik. Tetapi pertanyaan sederhana kemudian muncul: siapa yang menanamnya? Apakah tanaman-tanaman itu bagian dari pekerjaan penataan taman pemerintah, atau ada cerita lain di baliknya?

Pertanyaan itu membawa pada sebuah cerita yang ternyata sudah terjadi beberapa tahun lalu. Tidak banyak yang mengetahui, tanaman tersebut mulai ditanam pada 2021, ketika Civic Center Oelamasi belum seperti sekarang. Saat itu, seorang pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kupang bersama sejumlah tenaga honorer mengambil inisiatif sederhana untuk menambah tanaman bunga di kawasan tersebut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namanya Yonathan Natun, S.E. Ketika itu ia masih bertugas sebagai Kepala Bidang pada Dinas Sosial Kabupaten Kupang. Kini Yonathan menjabat sebagai Sekretaris Kecamatan Amabi Oefeto Timur.

Yang menarik, penanaman itu ternyata bukan bagian dari sebuah proyek pengadaan atau kegiatan dengan anggaran khusus pemerintah. Bibit bougenville dan kebutuhan penanaman diperoleh menggunakan dana pribadi. Ia melakukannya bersama lima tenaga honorer Tagana Dinas Sosial yang saat itu ikut membantu di lapangan.

Sekitar 10 lubang dibuat untuk penanaman. Dalam setiap lubang, ditanam sekitar empat anakan bougenville. Sederhana sekali. Tidak ada seremoni, tidak ada acara khusus, dan tidak ada papan nama yang menjelaskan siapa yang menanamnya.

Ketika ditanya apa alasan di balik tindakan sederhana tersebut, jawabannya juga tidak panjang. Yonathan mengaku saat itu melihat kawasan Civic Center belum banyak memiliki bunga. Dari situ muncul keinginan untuk menanam sesuatu yang kelak bisa membuat lingkungan tersebut terlihat lebih hidup.

“Tujuan kita peduli, peduli lingkungan. Hati kita tergerak untuk melakukan penanaman secara pribadi,” katanya.

Bagi Yonathan, kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu harus menunggu sebuah program atau anggaran pemerintah. Menanam satu pohon atau bunga, kemudian merawatnya, menurut dia, adalah bentuk kecil dari perhatian terhadap lingkungan yang manfaatnya justru dapat dirasakan banyak orang.

Bougenville dipilih karena menurutnya tanaman itu cukup menarik untuk penataan ruang terbuka. Warna bunganya beragam dan bentuknya dapat diatur melalui pemangkasan. Bahkan, jika dirawat dengan baik, bougenville dapat dibentuk menjadi pola, tulisan maupun ornamen tertentu sehingga tidak sekadar menjadi tanaman penghias.

Ia kemudian bercerita tentang bagaimana sejumlah kota besar memanfaatkan tanaman sebagai bagian dari wajah kota. Jakarta dan Singapura menjadi contoh yang ia sebut, terutama dalam bagaimana tanaman ditata di sepanjang ruang publik dan ruas jalan. Bukan sekadar menghijaukan, tetapi menjadikan tanaman sebagai bagian dari karakter sebuah kawasan.

Dari cerita itu, barangkali yang menarik bukan soal berapa banyak bougenville yang ditanam. Bukan pula siapa yang harus mendapat apresiasi. Justru ada sesuatu yang lebih sederhana: pernah ada seseorang yang melihat ruang publik terasa kurang hijau, kemudian memilih melakukan sesuatu dengan kemampuan yang dimilikinya.

Tanaman-tanaman itu pun akhirnya tumbuh tanpa perlu mengetahui siapa yang menanamnya. Ia tetap berbunga ketika musimnya tiba dan tetap menjadi bagian dari pemandangan Civic Center Oelamasi. Barangkali memang demikian seharusnya sebuah kepedulian bekerja—dilakukan tanpa banyak suara, lalu dibiarkan manfaatnya berbicara sendiri.

Kini, jejak kecil bougenville itu menjadi bagian dari cerita tentang Oelamasi. Sebuah cerita yang mengingatkan bahwa menghijaukan kota tidak selalu bermula dari proyek besar. Kadang-kadang, ia bermula dari seseorang yang berhenti sejenak, melihat lingkungan di sekitarnya, lalu bertanya dalam hati: “Apa yang bisa saya lakukan agar tempat ini menjadi sedikit lebih indah?”

Penulis: Chris Bani 

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Polres Kupang Ukir Prestasi Nasional, Masuk Lima Besar Kompolnas Award 2026
Turun ke Lapangan, Usman Husin Temukan Data Penerima Bantuan Beras Perlu Diperbarui
Upaya Mediasi Buntu, Teldi Mooy Tempu Jalur Hukum Laporkan Penggelapan SHM di Polisi
KADIN NTT Dorong FTZ, Bidik Lompatan Ekonomi dan Pasar Internasional
Polres Kupang dan PN Oelamasi Rajut Komunikasi, Ikhtiar Merawat Integritas dan Keadilan 
Usman Husin Minta Pemutakhiran Bansos Diperkuat: Kondisi Riil Warga Jadi Acuan
Usman Husin Soroti Data Bantuan Pangan di Kupang: Jangan Sampai yang Membutuhkan Terlewat
Polres Kupang Bergerak Lagi, Satu Ton Beras dan Logistik Dikirim untuk Korban Gempa di Sikka

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 22:44

Polres Kupang Ukir Prestasi Nasional, Masuk Lima Besar Kompolnas Award 2026

Rabu, 16 September 2026 - 09:43

Keindahan Bougenville di Civic Center Oelamasi, Jejak Sunyi Seorang ASN

Rabu, 16 September 2026 - 09:03

Turun ke Lapangan, Usman Husin Temukan Data Penerima Bantuan Beras Perlu Diperbarui

Rabu, 16 September 2026 - 00:30

KADIN NTT Dorong FTZ, Bidik Lompatan Ekonomi dan Pasar Internasional

Selasa, 15 September 2026 - 01:10

Polres Kupang dan PN Oelamasi Rajut Komunikasi, Ikhtiar Merawat Integritas dan Keadilan 

Berita Terbaru

Suasana guru & murid; ft: Roni

Opini

Ruang Kelas: Laboratorium Peradaban

Kamis, 17 Sep 2026 - 04:28

Konten tidak bisa disalin.