KUPANG,- Peluang pembentukan Free Trade Zone (FTZ) Indonesia–Timor-Leste menjadi salah satu agenda penting dalam pertemuan Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena dengan Ketua Umum KADIN NTT Bobby Lianto bersama jajaran pengurus, di Kupang. Pertemuan tersebut membahas bagaimana peluang perdagangan lintas negara dapat diterjemahkan menjadi manfaat ekonomi yang lebih nyata bagi masyarakat NTT.
Gubernur Melki menilai FTZ tidak semestinya hanya dilihat dari aspek kawasan perdagangan maupun kemudahan arus keluar-masuk barang. Menurutnya, ukuran penting dari pengembangan kawasan perdagangan bebas adalah dampaknya terhadap masyarakat, terutama dalam membuka pasar bagi produk lokal, mendorong UMKM naik kelas, serta memberikan ruang yang lebih besar bagi pelaku usaha untuk berkembang.
Posisi NTT yang berbatasan langsung dengan Timor-Leste dan memiliki kedekatan geografis dengan Australia menjadi salah satu peluang yang dapat dikembangkan. Pemerintah Provinsi NTT sebelumnya juga telah mempelajari pengalaman Batam dalam pengembangan FTZ, termasuk aspek investasi, konektivitas dan iklim usaha.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam pertemuan itu, pemerintah dan KADIN NTT melihat pentingnya membangun konektivitas perdagangan yang tidak berhenti pada Indonesia dan Timor-Leste, tetapi dapat diperluas hingga Darwin, Australia. KADIN NTT sebelumnya telah melakukan kunjungan ke Timor-Leste, kawasan perbatasan dan Darwin, serta menggelar forum diskusi terkait FTZ pada 15 September 2026. KADIN juga tengah mendorong kajian awal FTZ serta penjajakan kerja sama dengan pelaku usaha di Northern Territory.
Bagi dunia usaha, pengembangan FTZ membuka ruang untuk memperluas jaringan pasar dan investasi. Namun, peluang tersebut membutuhkan kesiapan dari berbagai sisi, mulai dari konektivitas, logistik, perizinan, hingga kemampuan produk lokal memenuhi kebutuhan pasar regional. Karena itu, sinergi pemerintah dan dunia usaha menjadi bagian penting dalam menyiapkan ekosistem perdagangan tersebut.
FTZ pada akhirnya bukan sekadar tentang menjadikan perbatasan sebagai tempat transaksi barang. Kawasan perbatasan diharapkan dapat berkembang menjadi pintu masuk bagi investasi, pasar baru dan pertumbuhan usaha masyarakat. Dengan posisi geografis NTT yang strategis, tantangannya kini adalah memastikan peluang perdagangan lintas negara tersebut benar-benar memberi ruang bagi produk lokal, UMKM dan masyarakat perbatasan untuk ikut tumbuh.***









