Satu Pengharapan: Merawat Cinta di hadapan Tuhan

Kamis, 22 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

10 pasangan suami isteri di Koro'oto, pada Hari Pasutri; GMIT; foto: WAG MJ Koro'oto

10 pasangan suami isteri di Koro'oto, pada Hari Pasutri; GMIT; foto: WAG MJ Koro'oto

Hari Pasutri di GMIT Pniel Tefneno Koro’oto, Desa Nekmese

Di Koro’oto, Desa Nekmese, sepuluh pasangan suami istri memasuki ruang ibadah GMIT Pniel Tefneno Koro’oto dengan membawa kisah kehidupan masing-masing. Ada cinta yang telah melewati puluhan musim, ada pergumulan yang disimpan dalam diam, ada air mata yang tak selalu terlihat, dan ada doa-doa yang hanya diketahui oleh Tuhan.

Melalui liturgi Hari Pasutri GMIT yang dikemas dengan indah, mereka diajak kembali menelusuri perjalanan cinta dalam rumah tangga sebagai suami dan istri: sejak janji diucapkan, rumah tangga dibangun, anak-anak dibesarkan, hingga usia mengajarkan arti kesetiaan yang semakin dalam. Ibadah itu bukan sekadar perayaan tentang perkawinan, melainkan ruang untuk bercermin, memperbarui komitmen, dan menyadari bahwa hidup bersama membutuhkan lebih dari sekadar tinggal di bawah satu atap.

Cinta harus dirawat, penghormatan harus dipelihara, dan kesetiaan harus diwujudkan dalam tindakan sehari-hari. Dalam kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi keluarga, perkawinan bukan hanya urusan dua pribadi, melainkan juga ikatan sosial yang membentuk kehidupan anak-anak, mempererat hubungan kekerabatan, dan mewariskan nilai-nilai kepada generasi berikutnya. Karena itu, ketika suami dan istri belajar saling menghormati, mereka sesungguhnya sedang membangun fondasi bagi kehidupan keluarga dan masyarakat yang lebih damai.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Melalui Kejadian 18:1–15, kisah Abraham dan Sara menyapa kehidupan rumah tangga dengan pesan yang mendalam. Ketika tiga orang asing datang, Abraham menyambut mereka dengan ramah, sementara Sara mengambil bagian dalam mempersiapkan hidangan. Di dalam peristiwa sederhana itu, kita melihat keramahan, kerja sama, dan keterlibatan yang memberi makna pada kehidupan bersama.

Kisah ini tidak dimaksudkan untuk menjadikan rumah tangga sebagai panggung bagi siapa yang paling berkuasa, melainkan mengundang pasangan untuk membuka kehidupan mereka bagi kehadiran dan kehendak Tuhan. Abraham dan Sara memiliki peran yang berbeda, tetapi kisah mereka berlangsung dalam satu perjalanan kehidupan dan dalam lingkup janji Allah.

Demikian pula suami dan istri: tidak seorang pun perlu meninggikan diri dengan merendahkan pasangannya. Martabat keduanya tidak ditentukan oleh siapa yang lebih dominan, lebih banyak berbicara, atau lebih besar kuasanya. Perbedaan fungsi dan tanggung jawab yang melekat pada kehidupan suami dan istri justru perlu dijalankan secara saling melengkapi, dengan kesediaan untuk mendengar, berdialog, berbagi beban, dan mengambil keputusan demi kebaikan bersama.

Melukai batin pasangan melalui kata-kata kasar, penghinaan, ancaman, atau sikap meremehkan bukanlah wujud kasih yang dikehendaki Tuhan. Luka yang ditorehkan oleh orang terdekat sering kali menetap lebih lama daripada luka yang terlihat pada tubuh. Sebaliknya, kata yang meneguhkan dapat menjadi kekuatan ketika pasangan sedang rapuh; pelukan dapat menjadi penghiburan ketika dunia terasa berat; dan doa bersama dapat menumbuhkan kembali pengharapan ketika jalan keluar belum tampak. Mengundang Tuhan ke dalam rumah tangga berarti memberi ruang bagi kasih-Nya untuk membentuk cara kita berbicara, memperlakukan, mengampuni, dan mendampingi satu sama lain.

Bagi sepuluh pasangan yang beribadah di GMIT Pniel Tefneno Koro’oto, Hari Pasutri menjadi undangan untuk pulang kepada inti perkawinan: bukan berlomba menjadi yang paling berkuasa, melainkan belajar menjadi teman seperjalanan yang setia di hadapan Tuhan. Sebab kehidupan bersama tidak selalu bergerak di bawah langit cerah. Ada musim ketika ekonomi menekan, kesehatan melemah, anak-anak menghadapi persoalan, atau perbedaan pendapat menguji kesabaran.

Pada saat-saat demikian, suami dan istri membutuhkan keberanian untuk mengakui kelemahan, kerendahan hati untuk meminta maaf, dan keteguhan untuk tidak menyerah pada keputusasaan. Mereka dipanggil untuk berharap bersama-sama kepada Tuhan, bukan menjadikan pasangan sebagai sasaran pelampiasan atas kekecewaan hidup.

Dalam konteks budaya keluarga di Koro’oto dan masyarakat Amarasi yang menghargai ikatan kekerabatan, kasih suami istri juga menjadi teladan bagi anak, menantu, cucu, dan komunitas di sekitarnya. Rumah tangga yang memelihara penghormatan akan menumbuhkan generasi yang memahami bahwa kekuatan tidak harus ditunjukkan melalui kekerasan, bahwa kepemimpinan tidak harus dibangun melalui dominasi, dan bahwa perbedaan tidak harus berakhir dalam pertengkaran.

Ketika senja turun di Koro’oto dan hari perlahan menutup pintunya, kiranya setiap pasangan membawa pulang satu tekad yang diperbarui: menjaga hati agar tidak saling melukai, menjaga kata agar tetap menghidupkan, dan menjaga iman agar tidak kehilangan arah. Sebab perkawinan yang diberkati bukanlah perkawinan tanpa persoalan, melainkan perkawinan yang terus belajar menghadapi persoalan bersama Tuhan.

Dan selama kasih tetap dirawat, penghormatan tetap dijaga, serta pengharapan tetap disandarkan kepada-Nya, dua insan yang berjalan bersama akan menemukan bahwa rumah tangga bukan sekadar tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana cinta bertumbuh, iman berakar, dan kehidupan menjadi berkat bagi sesama.

 

Facebook Comments Box

Penulis : Heronimus Bani

Editor : Heronimus Bani

Berita Terkait

Malam Pun Kerja!! PT Cahaya Berlian Jaya Abadi Berpacu Waktu di Jalan Ikan Foti
Membangun Kabupaten Kupang dari akar Kebudayaannya
Nyanian Sion di Tanah yang Bernapas
Bupati Kupang Dorong Tenaga Kerja Lokal Kuasai Keterampilan Konstruksi Baja Ringan
Ketika Langit menyela ibadah: Satu perjumpaan iman, alam dna kehidupan di Koro’oto
Antusiasme Warga Nekmese, Pelayanan Dukcapil Oekabiti di Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto
Pemimpin yang takut akan Tuhan, rakyat yang hidup dalam pengharapan
SD Negeri Oepoli Gandeng Satgas Pamtas TNI Rehab Sekolah

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 15:57

Malam Pun Kerja!! PT Cahaya Berlian Jaya Abadi Berpacu Waktu di Jalan Ikan Foti

Minggu, 1 November 2026 - 23:42

Nyanian Sion di Tanah yang Bernapas

Minggu, 1 November 2026 - 23:34

Bupati Kupang Dorong Tenaga Kerja Lokal Kuasai Keterampilan Konstruksi Baja Ringan

Minggu, 1 November 2026 - 01:51

Ketika Langit menyela ibadah: Satu perjumpaan iman, alam dna kehidupan di Koro’oto

Kamis, 29 Oktober 2026 - 01:51

Antusiasme Warga Nekmese, Pelayanan Dukcapil Oekabiti di Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto

Berita Terbaru

Konten tidak bisa disalin.