Amarasi Selatan, CMBNews.id.- Upaya pelestarian warisan budaya masyarakat Amarasi kembali mendapat perhatian berbagai pihak. Oleh karena itu ada perwakilan dari pemerintah pusat, melalui Tim Verifikator dari Direktur Warisan Budaya, Direktorat Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan: pemerintah provinsi NTT melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, pemerintah kabupaten Kupang, melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kupang, hingga pemerintah kecamatan Amarasi Selatan dan desa Nekmese berkumpul di Desa Nekmese, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang, untuk membahas pengembangan Tenun Ikat Tais Amarasi yang telah dapat dan dalam proses untuk pendaftaran sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia dalam kategori pengetahuan dan keterampilan tradisional.
Pertemuan dan diskusi berlangsung di rumah adat Umi Nii Baki-Koro’oto desa Nekmese. Pertemuan dihadiri oleh Tim Verifikator dari Direktur Warisan Budaya, Direktorat Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan tiga orang ibu: Ibu Catrini Ari, Ibu Maudy, Ibu Astri; Perwakilan dari Balai Pelestarian Provinsi NTT; Yehezkiel Indamarei, S.Sos.,M.Si. Dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Ibu Lely Taolin; Dari Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan Kabupaten Kupang: Kepala Dinas : Marthen K. Timate, S.Sos, Kepala Bidang Kebudayaan : Kostant S. Ballo, S.Pi, Kepala Bidang Pemasaran dan Promosi : Meyila A. Sine, S.Sos dan staf Ricky Dima; Camat Amarasi Selatan; Elselindah Rose Langkameng, S.STP., M.M dan staf; dan Kepala Desa Nekmese, Chrisma J. Baok. Diskusi yang berlangsung pada Rabu (3/6/26) dalam durasi 120 menit (2 jam).
Dalam diskusi tersebut, para peserta melakukan inventarisasi dan pendalaman terhadap kekayaan motif Tenun Ikat Tais Amarasi. Hasil pembahasan menemukan puluhan motif khas yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat adat Amarasi. Motif-motif tersebut dinilai memiliki nilai historis, filosofis, dan identitas budaya yang kuat sehingga perlu didokumentasikan serta diwariskan kepada generasi berikutnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Usai berdiskusi, rombongan berkesempatan menyaksikan secara langsung proses menenun yang dilakukan oleh perempuan-perempuan Amarasi. Para penenun memperlihatkan berbagai tahapan pembuatan kain, mulai dari pengolahan benang hingga pembentukan motif yang dikerjakan secara teliti dan membutuhkan keterampilan khusus yang diwariskan turun-temurun.
Tidak hanya itu, para tamu juga menghadiri dan menyaksikan prosesi pernikahan adat yang sedang berlangsung di Desa Nekmese. Kesempatan tersebut dimanfaatkan rombongan untuk melihat secara langsung praktik budaya yang masih dipertahankan masyarakat setempat. Mereka juga memberikan apresiasi kepada keluarga dan masyarakat yang tetap menjaga keberlangsungan tradisi adat dalam kehidupan sehari-hari.
Camat Amarasi Selatan, Elselindah Rose Langkameng, S.STP., M.M dalam kesempatan itu menegaskan pentingnya menjaga keberlanjutan produk budaya Amarasi, khususnya Tenun Ikat Tais. Menurutnya, pengetahuan tentang tenun saja tidak cukup untuk menjamin kelestarian tradisi tersebut.
“Tenun ikat harus tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Amarasi. Karena itu, masyarakat tidak hanya perlu mengetahui nilai dan maknanya, tetapi juga harus memiliki keterampilan menenun dalam seluruh prosesnya,” ujarnya.
Ia juga menyoroti keberadaan pernikahan adat yang mulai mengalami perubahan di berbagai tempat akibat perkembangan zaman. Namun demikian, menurutnya, masyarakat Desa Nekmese masih mempertahankan banyak unsur yang mendekati bentuk aslinya.
“Praktik pernikahan adat di banyak tempat mulai bergeser. Akan tetapi, ketika berada di Desa Nekmese, kita masih dapat menyaksikan tata cara yang nyaris orisinal. Ini merupakan kekayaan budaya yang patut dijaga dan dilestarikan bersama,” katanya.
Kegiatan tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antara pemerintah dan masyarakat adat dalam menjaga warisan budaya Amarasi. Melalui pelestarian tenun ikat dan praktik-praktik adat yang masih hidup, masyarakat tidak hanya mempertahankan identitas budaya, tetapi juga mewariskan pengetahuan dan nilai-nilai luhur kepada generasi masa depan.
Meo Umi Nii Baki-Koro’oto memberikan buku sebagai tanda kenangan kepada rombongan yang datang berdiskusi. Buku yang diberikan berjudul: Catatan Seoran Guru daerah Terpencil; Johny bintang kecil dari Perbatasan NKRI-RDTL, dan Serpihan Kebudayaan Masyarakat Pah Amarasi. Ketiga buku tersebut ditulis oleh Meo Umi Nii Baki-Koro’oto yang duduk menjadi narasumber dalam diskusi serta menulis berita ini.
Penulis: Heronimus Bani









