Menahan Kelahiran, Menahan Kehidupan

Jumat, 5 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar ilustrasi: ChatGPT

Gambar ilustrasi: ChatGPT

Catatan awal: Artikel ini ditulis ketika mendengar dan mengetahui cerita di sekitar proses kelahiran. Ibu-ibu hamil rasanya “diwajibkan” untuk menahan kelahiran sebelum tiba di fasilitas kesehatan terdekat. 

 

Di kampung-kampung, cerita tentang kehamilan dan kelahiran tidak pernah jauh dari percakapan para perempuan. Di bawah naungan pohon, di beranda rumah, atau saat menumbuk jagung dan menganyam, selalu ada kisah yang mengalir. Kisah-kisah itu lahir dari pengalaman, dari rasa sakit yang pernah ditanggung, dan dari sukacita yang pernah dirayakan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, beberapa waktu terakhir, muncul cerita yang mengusik akal sehat sekaligus hati nurani. Ada ibu-ibu yang bercerita bahwa ketika tanda-tanda persalinan mulai datang, mereka diminta untuk “menahan” proses kelahiran agar dapat tiba di fasilitas kesehatan terdekat. Kalimat itu terdengar ganjil. Kelahiran itu  peristiwa alamiah yang telah diatur oleh Sang Pencipta melalui hukum-hukum kehidupan. Bayi yang siap lahir akan mencari jalannya sendiri. Rahim yang telah mencapai waktunya akan bekerja menurut iramanya sendiri. Maka muncul pertanyaan sederhana: sampai sejauh mana manusia dapat menahan sesuatu yang sejak awal bukan berada dalam kuasanya?

Orang-orang tua Atoin Meto’ mengenal kehidupan sebagai bagian dari keteraturan alam. Hujan datang ketika awan telah sarat air. Jagung dipanen ketika bulir telah menguning. Anak lahir ketika waktunya tiba. Dalam kebijaksanaan sederhana itu terkandung pengertian bahwa kehidupan memiliki iramanya sendiri. Memaksa atau menahan sesuatu yang telah mencapai waktunya sering kali justru membawa risiko yang tidak diinginkan.

Tentu tidak ada yang menolak pentingnya persalinan di fasilitas kesehatan. Kehadiran puskesmas, bidan desa, dan tenaga kesehatan sebagai anugerah yang harus dihargai. Angka kematian ibu dan bayi dapat ditekan karena adanya pelayanan kesehatan yang lebih baik. Keselamatan ibu dan anak memang harus menjadi prioritas utama. Namun, keselamatan tidak boleh hanya dipahami pada saat-saat terakhir menjelang kelahiran. Keselamatan seharusnya dimulai jauh sebelum rasa mulas pertama datang.

Bukankah selama berbulan-bulan para ibu hamil menjalani pemeriksaan? Bukankah bidan desa memiliki data perkembangan kehamilan? Bukankah kader Posyandu mengenal hampir setiap ibu hamil di wilayah pelayanannya? Jika demikian, maka perhatian terbesar semestinya diberikan pada upaya antisipasi sebelum masa persalinan tiba. Ibu yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan perlu dipetakan lebih awal. Keluarga perlu diberi pemahaman tentang tanda-tanda persalinan. Sarana transportasi darurat perlu dipersiapkan sejak jauh hari. Dengan demikian, yang dipercepat adalah akses pelayanan, bukan ibu yang dipaksa menahan proses alamiah tubuhnya.

Kadang-kadang persoalan di negeri ini bukan karena kurangnya aturan, melainkan karena terlalu sering solusi diberikan pada menit-menit terakhir. Kita sibuk memadamkan api ketika asap sebenarnya sudah terlihat sejak lama. Kita meminta ibu menahan kelahiran, padahal yang seharusnya bergerak lebih cepat adalah sistem pelayanan yang mengelilinginya.

Kritik ini bukan ditujukan kepada individu tertentu. Para bidan, kader Posyandu, dan petugas kesehatan di pelosok sering bekerja dengan keterbatasan yang luar biasa. Mereka berjalan jauh, menembus hujan dan panas, bahkan mengorbankan waktu bersama keluarga demi melayani masyarakat. Karena itulah kritik ini justru lahir dari harapan agar sistem yang menopang kerja mereka menjadi lebih kuat, lebih manusiawi, dan lebih berpihak pada kenyataan hidup masyarakat desa.

Pada akhirnya, kelahiran bukan sekadar urusan medis. Ia adalah peristiwa kemanusiaan. Di dalamnya ada tubuh seorang ibu yang sedang berjuang, ada bayi yang sedang mencari jalan menuju dunia, ada keluarga yang menanti dengan doa, dan ada masyarakat yang bertanggung jawab memastikan semuanya berlangsung dengan selamat.

Mungkin sudah saatnya kita mengubah cara pandang. Jangan meminta seorang ibu menahan kehidupan yang hendak lahir. Sebaliknya, marilah kita memastikan bahwa sebelum kehidupan itu mengetuk pintu dunia, jalan menuju keselamatan telah dipersiapkan dengan baik. Sebab tugas peradaban bukan menahan kelahiran, melainkan menyambutnya dengan kesiapan, penghormatan, dan kasih sayang.

 

Penulis: Heronimus Bani ~ Pemulung Aksara

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Bupati Yosep Kebo dan Gerakan Sunyi Menanam Ribuan Bambu di Tepi Kali Tauf
Jejak Budaya di Bawah Langit Uisneno
Belajar Sejarah Langsung dari Sumbernya, Murid Kelas 6 SD I Nekmese Kunjungi Museum Negeri Kupang
Pelestarian tenun ikat Tais dan Pernikahan adat Amarasi menjadi sorotan di Desa Nekmese
Golkar Kabupaten Kupang Diuji Soal Kesetiaan dan Keadilan, 7 PAC Tantang Arus Besar Pohon Beringin
Antara Musda XI Golkar yang Tertunda dan Loyalitas 38 Tahun Daniel Taimenas
Toko Karunia Indah Bangunan Oesao, Solusi Cepat dan Lengkap Bangun Rumah Impian
Power Never Sleeps: Membaca Arah Politik Musda XI Golkar Kabupaten Kupang

Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 14:36

Bupati Yosep Kebo dan Gerakan Sunyi Menanam Ribuan Bambu di Tepi Kali Tauf

Jumat, 5 Juni 2026 - 08:54

Menahan Kelahiran, Menahan Kehidupan

Kamis, 4 Juni 2026 - 23:49

Jejak Budaya di Bawah Langit Uisneno

Kamis, 4 Juni 2026 - 22:19

Belajar Sejarah Langsung dari Sumbernya, Murid Kelas 6 SD I Nekmese Kunjungi Museum Negeri Kupang

Kamis, 4 Juni 2026 - 12:10

Golkar Kabupaten Kupang Diuji Soal Kesetiaan dan Keadilan, 7 PAC Tantang Arus Besar Pohon Beringin

Berita Terbaru

Gambar ilustrasi: ChatGPT

Budaya

Menahan Kelahiran, Menahan Kehidupan

Jumat, 5 Jun 2026 - 08:54

Rombongan Verifikator & produk tais Amarasi; ft: Ansel

Budaya

Jejak Budaya di Bawah Langit Uisneno

Kamis, 4 Jun 2026 - 23:49

Konten tidak bisa disalin.