Siapakah Keluargaku?

Sabtu, 14 Oktober 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Siapakah Keluargaku?

  • (Renungan singkat di senja dalam hari-hari perayaan Bulan Keluarga)
  • Pertanyaan seperti pada judul di atas mengantar orang untuk segera mengatakan, “ini konyol!” Orang Amarasi akan mengatakan, “Nahiin, mes nataan antein’!” Tapi, orang manakah yang segera mengetahui keluarganya?

    Heronimus Bani
    Orang Amarasi mengenal umi nanan, nonot, nonot-asar. Mereka adalah keluarga. Ini harga mati dalam budaya keluarga orang Amarasi. Maka, mereka mengenal keluarga besar. Tidak ada keluarga kecil. Maka, sering terdengar istilah, in koitn ee mafaun, yang terjemahannya lurusnya, di belakang dia tebal. Ini hanya gambaran istilah tentang orang yang mampu mengayomi keluarganya sehingga sejumlah besar orang dapat mendengarkan suara panggilan, undangan, kabar, dan sejenisnya. Hanya orang tertentu saja yang mampu melakukan hal ini yang kepadanya disematkan istilah, in koitn ee mafaun.

    ADVERTISEMENT

    ads

    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Lalu, jika kita merujuk pada judul, sebenarnya, siapakah keluargaku? Jawabannya, tentu saja: suami-isteri-anak. Bagi seorang ayah, keluarganya adalah isteri dan anak-anak yang dicintainya dan diayominya. Bagi seorang ibu, keluarganya adalah suami dan anak-anak yang dikasihinya dan dibimbingnya. Bagi anak (dan anak-anak), keluarga adalah orang tua yang mengasihi, mengayomi dan membimbing. Mereka yang berada di luar garis itu tetap disebut keluarga karena mereka menjadi bagian dari keluarga kecil. Atoin’ Meto’ menyebutkannya dalam Uab Meto’ dengan istilah aok-bian, aon-bian, aom-biam terjemahannya adalah, badan sebelah.

    Jadi, jika “badan sebelah” sakit, maka itulah keluargamu, maka kunjungilah dan kuatkanlah. Bila “badan sebelah” senang, itulah keluargamu, jadi bergembiralah bersamanya sambil mengingatkannya agar tidak lupa daratan. Bila “badan sebelah” mengundang karena noon reko – noon re’uf, datanglah karena dialah keluargamu. Mungkin ada yang perlu disampaikan sebagai nasihat dan peringatan. Mungkin saudara akan mendapatkan sesuatu darinya sebagai nasihat dan peringatan pula.

    (Bdk Mat 12:46-50; Mrk 3:31-35; Luk 8:19-21)

    Facebook Comments Box

    Berita Terkait

    Ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir
    Rote Ndao Sebelum 2029: Komitmen Politik Usman Husin Memilih Berjuang dari Senayan 
    Mengenal Peran Agrinas di Garis Depan Pembangunan Kopdes Merah Putih
    Ketika Pengkhianatan Rumah Tangga Bersembunyi di Balik Seragam ASN
    Proyek Bendung Oelnaimuti Amburadul, Pelaksana Kegiatan dan BWS NT II Disorot
    Membongkar Budaya Diam pada Murid Sekolah Dasar
    KoMBAD dalam Literasi Awal Murid Kelas 1 dan 2 Sekolah Dasar
    Ruang Kelas: Laboratorium Peradaban

    Berita Terkait

    Senin, 28 September 2026 - 22:42

    Ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir

    Jumat, 25 September 2026 - 21:21

    Rote Ndao Sebelum 2029: Komitmen Politik Usman Husin Memilih Berjuang dari Senayan 

    Jumat, 25 September 2026 - 05:39

    Mengenal Peran Agrinas di Garis Depan Pembangunan Kopdes Merah Putih

    Rabu, 23 September 2026 - 01:36

    Ketika Pengkhianatan Rumah Tangga Bersembunyi di Balik Seragam ASN

    Selasa, 22 September 2026 - 02:18

    Proyek Bendung Oelnaimuti Amburadul, Pelaksana Kegiatan dan BWS NT II Disorot

    Berita Terbaru

    ilustrasi oleh AI: berbicara di depan orang lain;

    Gaya Hidup

    Ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir

    Senin, 28 Sep 2026 - 22:42

    Konten tidak bisa disalin.