Ragam Rasa pada Warna Busana
Mereka, para pelayan GMIT di Klasis Amarasi Timur, datang berseragam putih. Bukan putih yang hendak menghapus warna-warna lain, melainkan putih yang memberi ruang agar setiap warna dapat berbicara. Sebab putih yang sejati bukanlah keseragaman, melainkan cahaya yang mempersilakan seluruh spektrum kehidupan tampak sebagaimana adanya.
Lalu, di bawah putih itu, terbentang tenun-tenun yang saling berbeda.
Ada yang hitam pekat seperti batu karang yang menahan ombak Laut Sawu. Ada yang merah laksana tanah Timor yang memerah ketika matahari petang menyentuh sabana. Ada garis-garis yang tegas, ada belah ketupat yang saling menyilang, ada warna-warna yang seolah sedang bercerita tentang bukit, hujan, angin, dan tangan-tangan perempuan yang sabar menenun waktu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tak satu pun kain itu sama. Dan memang tidak seharusnya sama.
Sebab alam pun tidak pernah menciptakan dua pohon lontar dengan lekuk batang yang persis serupa. Tak ada dua batu sungai yang dibentuk air dengan guratan yang identik. Bahkan awan yang melintas di langit Amarasi pagi ini tak akan pernah kembali dengan bentuk yang sama esok hari.
Lalu mengapa manusia harus takut berbeda?
Di bangku-bangku sederhana itu mereka duduk berdampingan. Tak ada kain yang merasa lebih mulia daripada kain lainnya. Tak ada motif yang meminta tempat paling depan. Semua hadir sebagai cerita yang berbeda, namun memilih duduk dalam kalimat yang sama.
Barangkali beginilah wajah gereja yang diam-diam diajarkan alam kepada kita.
Hutan tidak meminta semua pohon menjadi beringin. Sabana tidak memaksa semua rumput tumbuh setinggi ilalang. Sungai tidak menolak batu hanya karena bentuknya berbeda. Semuanya hidup dalam irama yang sama, saling memberi ruang agar kehidupan tetap berlangsung.
Begitu pula gereja.
Ia bukan rumah yang dibangun untuk menyeragamkan manusia. Ia adalah rumah yang cukup lapang untuk menampung keberagaman tanpa kehilangan arah menuju Tuhan.
Di Pulau Timor, selembar tenun bukan sekadar kain.
Ia adalah halaman-halaman sejarah yang ditulis bukan dengan tinta, melainkan dengan benang. Ia menyimpan jejak leluhur yang tak pernah mengenal huruf, tetapi memahami bahwa ingatan dapat diwariskan melalui motif. Di setiap simpul benang ada doa. Di setiap garis ada perjalanan. Di setiap warna ada tanah yang dipijak dan langit yang menaungi.
Sayangnya, zaman bergerak lebih cepat daripada ingatan.
Kita masih mengenakan kain itu, tetapi mulai lupa membaca bahasanya. Kita bangga memakainya pada hari raya dan ragam ritual budaya, namun tak lagi mengenal kisah yang dipintal di dalamnya. Seolah-olah kita membawa perpustakaan di pinggang dan bahu, tetapi kehilangan kemampuan mengeja setiap hurufnya.
Tais dengan ragam motif mengingatkan bahwa kebudayaan tidak selalu berdiri di museum. Ia hidup ketika dikenakan dengan hormat. Ia bernapas ketika dipakai tanpa rasa malu. Ia tetap menjadi warisan selama masih ada orang yang percaya bahwa benang, warna dan lukisannya dapat menyimpan ingatan yang lebih lama daripada kata-kata.
Saya membayangkan Tuhan memandang persekutuan itu dengan senyum yang tenang. Di hadapan-Nya, putih bukanlah lambang bahwa semua orang harus menjadi sama. Putih merupakan kasih yang mempersatukan, sementara ragam tenunan itu sebagai anugerah yang membuat persatuan memiliki wajah.
Barangkali surga pun tidak akan dipenuhi satu warna. Barangkali di sana setiap bangsa tetap membawa nyanyiannya, setiap bahasa tetap mengucapkan syukurnya, setiap budaya tetap mempersembahkan keindahannya.
Dan mungkin, jika suatu hari para leluhur Timor berdiri di ambang keabadian, mereka akan tersenyum melihat anak-cucu mereka masih mengenakan tenun dengan bangga, bukan sebagai kostum pertunjukan, melainkan sebagai pengakuan bahwa iman tidak pernah meminta manusia mencabut akar budayanya.
Sebab pohon yang kehilangan akar memang masih dapat berdiri untuk sesaat, tetapi tak akan sanggup bertahan ketika angin zaman datang menguji. Maka biarlah putih tetap menjadi terang yang mempersatukan. Dan biarlah tenunan tetap menjadi ingatan yang mengakar.
Sebagaimana gereja yang besar bukanlah gereja yang berhasil membuat semua orang berpakaian sama, melainkan gereja yang mampu merangkul setiap warna kehidupan menjadi satu hamparan tenun kasih, tempat Tuhan berkenan berdiam di antara benang-benang perbedaan yang dijalin dengan cinta.
Heronimus Bani ~ Pemulung Aksara









