
Zaman dan masa makin berkembang maju dengan upaya insan manusia untuk terus berada dalam perkembangan kemajuan itu atau justru melawan arus hingga terpental dipermainkan, ditenggelamkan atau malah menghabisi diri sendiri. Mereka yang surfaif akan menaikkan bendera kemenangan dan terus meneriakkan yel-yel keberhasilan sambil memamerkan potret kebanggan atas prestasi yang diraih. Sementara mereka yang stagnan dan memegang status quo atau malah apatis dan skeptis, justru tidak dapat berbuat apa-apa dan menjadi penonton yang menggerutu saja.
Di antara beragam gaya hidup manusia di semua lapisan umur, rupanya umur yang paling labil ada pada mereka para remaja. Mereka ada di zaman yang serba mudah dan cepat (instant), tanpa keringat dan kelelahan. Mereka akan mencukupkan segala keperluan dan kebutuhan dengan memencet tombol pada tools yang disiapkan smartphone. Memang tidak semua remaja dapat melakukannya oleh karena akses itu hanya dapat dilakukan oleh mereka yang benar-benar “mapan” secara ekonomi. Mereka yang demikian itu tergolong dalam strata menengah ke atas. Sementara mereka yang tergolong strata bawah apalagi di bawah garis kemiskinan, akan melongo dan makin minder saja. Makin termarginalkan kelas di bawah garis kemiskinan karena ketika berada bersama kaum menengah ke atas, perundungan akan dialami. Stress karena martabat dipermainkan akan mengantar mereka pada titik terendah sebagai insan bermartabat. Maka, tidak heran bila mereka menjadi pemurung, menghindar dari kerumunan atau menyendiri, dan lain-lain sikap dan tindakan yang terbaca secara psikologis.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Media cetak yang terbit di Kota Kupang[1] memuat satu judul yang membuat hati pilu. Siswi SMP Tewas Minum Racun, demikian judul yang diangkat oleh jurnalis Pos Kupang dengan kode cr7. Menurut berita ini, belum diketahui motif apa di balik pendekatan yang digunakan oleh siswi berinisial MNMP (15 tahun) ini untuk mengakhiri hidupnya. Ada catatan tambahan di dalam berita itu sebagai prasangka saja yakni ibunya meninggal dunia di Kinabalu pada 10 Januari 2022. Jenazah ibunya akan diterbangkan ke Kupang dan selanjutnya akan terbang lagi ke Larantuka. Dari Larantuka, jenazah itu akan diseberangkan ke Pulau Solor untuk upacara penguburannya. Catatan lain sebagai dugaan, MNMP sedang mengalami stress, selain faktor kematian ibunya, juga karena kesendirian mereka sebagai kakak-adik serumah. Ayah mereka telah melakukan perkawinan kedua. Perkawinan itu terjadi setelah isterinya pergi ke Kinabalu untuk menjalani profesi sebagai asisten rumah tangga. Anak-anak yang ditinggal sebanyak 4 orang, mereka berusaha secara mandiri untuk hidup sambil mengharapkan kiriman dari Sang ibu di Kinabalu. Lalu, kini Sang ibu telah tiada. Siapa yang akan menjadi penopang ekonomi dan sandaran martabat mereka?
Banyak kasus yang mirip dimana para remaja nekad melakukan pendekatan mengakhiri kehidupan diri sendiri. Depresi menjadi motif dugaan ketika remaja yang satu ini melakukan aksi mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri[2]. Rupanya ia sudah merencanakan untuk menggantung diri sehingga disiapkan secara baik dua hal. Pertama, ia menulis surat dan kedua ia merekam proses menggantung diri.
Banyak remaja ingin mengakhiri hidupnya dengan berbagai cara. Minum racun, gantung diri dan lain-lain merupakan pilihan-pilihan agar segera berakhir masa hidupnya. Ada pula yang berhasil mengatasi niat untuk mengakhiri hidupnya. Mereka yang berhasil mengatasi niat mengisahkan pada bbc.com[3]. Mereka rerata menyatakan bahwa masih ada kesempatan untuk meraih sesuatu di masa depan. Sesuatu itu sebagai harapan hidup yang lebih baik dari masa sekarang.
Menurut suatu riset dari Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa, Universitas Padjadjaran sebagaimana dipublikasikan kompas.com, anak muda berumur 15 – 29 tahun rentan bunuh diri. Hasil riset itu menunjukkan bahwa 18,3% siswa SMA di Jakarta memiliki ide bunuh diri. Selanjutnya disebutkan tanda-tanda atau gejala orang yang mau melakukan upaya bunuh diri sebagai berikut[4]:
- Banyak berbicara atau menulis tentang bunuh diri
- Menarik diri secara sosial
- Mengalami perubahan suasana hati
- Mengobati diri dengan mengonsumsi alkohol atau narkotika dan obat-obatan terlarang
- Menggunakan bahasa fatalistik seperti “saya tidak akan menjadi beban bagimu lagi”
- Mengambil tindakan yang berisiko dan merusak diri sendiri (self-destructive)
- Memberikan semua barang miliknya tanpa penjelasan
Kini dan di masa depan peran orang tua, guru, psikolog dan para pemangku kepentingan yang berhubungan dengan kaum muda menjadi amat penting. Perhatian dan cinta-kasih menjadi item-item yang patut menjadi perhatian orang tua. Mari mencegah terjadinya kasus-kasus bunuh diri pada kalangan remaja dan siapapun.
[1]Pos Kupang edisi Rabu, 26 Januari 2022, pada halaman 4
[2] https://news.detik.com/berita/d-5895166/remaja-di-riau-tewas-gantung-diri-aksinya-direkam-ponsel
[3] https://www.bbc.com/indonesia/majalah-51470180
[4] https://lifestyle.kompas.com/read/2021/12/19/174248420/waspadai-tanda-tanda-keinginan-bunuh-diri-pada-remaja?page=all









