Nama Desa Nunuanah menyimpan makna filosofis yang mendalam, berkelindan erat dengan sejarah dan napas budaya masyarakat setempat. Secara etimologis, “Nunuanah” berakar dari dua kata, yaitu Nunuh yang berarti pohon beringin, dan Anah yang berarti anak. Nama ini lahir dari satu tradisi luhur yang diwariskan secara turun-temurun sejak masa silam.
Alkisah pada zaman dahulu, setiap kali seorang ibu melahirkan, ari-ari (plasenta) sang bayi akan disimpan dengan khidmat di atas dahan pohon beringin. Bagi masyarakat setempat, beringin adalah pilar yang sakral, kokoh, dan menaungi kehidupan. Menitipkan ari-ari di sana merupakan simbol harapan dan doa agar sang anak tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, sehat, serta membawa maslahat bagi keluarga maupun masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jika bayi yang lahir adalah seorang perempuan, pihak keluarga akan menggelar ritual adat di bawah keteduhan pohon beringin tersebut. Mereka datang membawa kapas, ikel (alat pemintal benang), nyiru, bakul, alat tenun, periuk, serta berbagai perlengkapan rumah tangga lainnya. Rangkaian lambang ini menjadi manifestasi doa agar kelak anak perempuan tersebut tumbuh menjadi pribadi yang tekun menenun, terampil bekerja, dan bijaksana dalam mengayuh bahtera rumah tangga.
Sebaliknya, jika laki-laki kecil yang lahir, keluarga akan membawa parang seraya melakukan simbolisasi pemotongan pohon. Prosesi ini diiringi dengan lantunan syair leba (lagu panen). Ritual tersebut melambangkan harapan agar anak laki-laki itu tumbuh menjadi sosok yang tangguh, rajin berkebun, dan mahir memanen hasil bumi di atas pohon fanik, sebagaimana jejak ketangkasan para leluhur terdahulu.
Bifuli: Simbol Sentuhan Kasih Sayang Ibu
Selain tersohor dengan nama Nunuanah, desa ini juga merawat sebutan lain, yakni “Bifuli”, yang bermakna membujuk. Nama bernuansa syahdu ini berakar dari laku kasih seorang ibu pada malam keempat pasca-kelahiran bayinya.
Kala sang buah hati menangis memecah sunyi malam, sang ibu akan mendekap dan membujuk, atau dalam bahasa setempat disebut fuli, hingga tangisnya mereda. Tradisi ini mengabadikan kehangatan kasih sayang seorang ibu yang tulus melindungi anaknya sejak embusan napas pertama di dunia.
Sistem Pemerintahan Adat
Pada masa lampau, tata kehidupan dan pemerintahan masyarakat di wilayah ini dipimpin oleh seorang Tamukung. Sistem Tamukung merupakan institusi pemerintahan adat yang mengayomi kehidupan komunal masyarakat. Kepemimpinan ini berpijak pada nilai-nilai persatuan, keluhuran budaya, serta hukum adat yang diwariskan suci oleh nenek moyang.
Hingga hari ini, Nunuanah bukan sekadar identitas geografis satu desa. Ia adalah kristalisasi sejarah, budaya, kehangatan kasih sayang, dan untaian harapan hidup yang terus dijaga, bersemi dari generasi ke generasi.
Penulis: Arnichus Loit
Editor: Heronimus Bani








