Setelah Lebih Dari 7 Dasawarsa Pemerintah Belanda Baru Minta Maaf

Jumat, 18 Februari 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Berita TV

Berita TV

 

 

Beberapa waktu ini jagad media berhiaskan kabar yang rasanya kurang mendapat perhatian public. Mungkin sangat sedikit yang memberi perhatian pada pemberitaan itu yang terkait dengan sejarah bangsa ini. Pemberitaan itu terkait permintaan maaf pemerintah Belanda  kepada masyarakat dan pemerintah Indonesia. Permintaan maaf itu sehubungan dengan hal-hal yang terjadi di masa lampau terkhusus setelah proklamasi 17 Agustus 1945. Sesudah adanya pengakuan kedaulatan NKRI oleh dunia internasional, ternyata Pemerintah Belanda belum bersedia menerima proklamasi kemerdekaan itu. Pemerintah Belanda masih menjalankan politik imperialism dan kolonialismenya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Riset dari tiga lembaga Belanda yakni Lembaga Ilmu Bahasa, Negara, dan Antropologi Kerajaan Belanda (KITLV), Lembaga Belanda untuk Penelitian Perang, Holocaust, dan Genosida (NIOD), serta Lembaga Penelitian Belanda untuk Sejarah Militer (NIMH). Ketiganya menyatakan bekerja sama dengan pihak peneliti Indonesia, dan bukan bekerja sama dengan pemerintah Indonesia. Riset itu melibatkan 25 akademisi Belanda, 11 orang dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dan 6 pakar internasional[1].

Menurut Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, kekerasan yang ekstrim dan sistematis telah terjadi saat perang kemerdekaan Indonesia antara 1945 – 1950. Mark Rutte menyatakan penyesalannya atas nama Pemerintah Belanda yang menutup mata terhadap masalah ini selama puluhan tahun sampai dengan terungkap melalui riset ketiga lembaga bersama sejumlah pakar itu.

Sebelumnya, pada tahun 2020, Raja Belanda Willem Alexander telah menyampaikan permohonan maaf kepada Pemerintah dan masyarakat Indonesia atas “kekerasan yang berlebihan” selama masa penjajahan[2].

Presiden NKRI, Ir. H. Joko Widodo, menyatakan sejarah tentu tak dapat dihapuskan, namun perlu menjadi pelajaran. Pelajaran itu untuk meneguhkan komitmen untuk membangun hubungan yang setara, yang saling menghormati dan saling menguntungkan. Pernyataan ini disampaikan di hadapan Raja Belanda Willem Alexander dan rombongan yang dibawanya.

[1] https://www.cnbcindonesia.com/news/20220218080219-4-316345/belanda-minta-maaf-ke-ri-ada-apa

[2] https://www.cnnindonesia.com/internasional/20220218071152-134-760750/pm-belanda-minta-maaf-ke-indonesia-soal-kekejaman-masa-penjajahan

 

Penulis: Heronimus Bani

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir
Upaya RJ Belum Temukan Titik Temu, Kuasa Hukum Teldi Mooy Minta Penyidik Dalami Penguasaan Sertifikat
Rote Ndao Sebelum 2029: Komitmen Politik Usman Husin Memilih Berjuang dari Senayan 
Mengenal Peran Agrinas di Garis Depan Pembangunan Kopdes Merah Putih
Cerita Air Bersih dan Kepedulian Polri di Kabupaten Kupang
Ultimatum 48 Jam!! Forum Wartawan NTT Desak Kapolda Evaluasi Kapolres TTU
Ketika Pengkhianatan Rumah Tangga Bersembunyi di Balik Seragam ASN
Polisi Kejar Pelaku Pembobolan Minimarket dan ATM BRI di Kabupaten Kupang

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 22:42

Ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir

Senin, 28 September 2026 - 09:34

Upaya RJ Belum Temukan Titik Temu, Kuasa Hukum Teldi Mooy Minta Penyidik Dalami Penguasaan Sertifikat

Jumat, 25 September 2026 - 21:21

Rote Ndao Sebelum 2029: Komitmen Politik Usman Husin Memilih Berjuang dari Senayan 

Jumat, 25 September 2026 - 05:39

Mengenal Peran Agrinas di Garis Depan Pembangunan Kopdes Merah Putih

Jumat, 25 September 2026 - 03:41

Cerita Air Bersih dan Kepedulian Polri di Kabupaten Kupang

Berita Terbaru

ilustrasi oleh AI: berbicara di depan orang lain;

Gaya Hidup

Ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir

Senin, 28 Sep 2026 - 22:42

Konten tidak bisa disalin.