Kupang,- Di tanah NTT, di mana matahari terbit dan terbenam, ada desa yang terancam oleh kegapalan. Contohnya Desa Kolabe di Amfoang Utara, dan Desa Bebalain di Rote Ndao, keduanya menjadi saksi bisu lambannya proyek irigasi yang seharusnya membawa berkah.
Irigasi Oehani dan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Utama Bebalain adalah dua proyek yang didanai APBN tahun anggaran 2025 senilai puluhan miliar, yang dikerjakan oleh PT Adhi Karya selaku kontraktor pelaksana. Anggaran ini dikelola oleh Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Balai Besar Wilayah Sungai NTT II Satuan Kerja NVT Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air (PJPA) NT.II/RR.1/515, bertindak sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Rawa I.
Progres proyek ini sangat kecil, membuat petani di kedua desa tersebut terancam gagal tanam dan panen, karena ketiadaan pasokan air. Mereka yang menggantungkan hidupnya pada sawah, kini harus menghadapi kelaparan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Proyek irigasi Oehani, yang dikerjakan oleh PT Adhi Karya, dilaporkan belum selesai. Campuran beton yang tidak sesuai, dan saluran air yang tidak berfungsi, membuat petani khawatir. “Apa gunanya proyek ini, jika kita tidak bisa menanam?” kata salah satu petani.

Di Desa Bebalain, Rote Ndao, nasib yang sama juga dialami oleh petani. Proyek Rehabilitasi Jaringan Irigasi Utama juga belum selesai, membuat petani terancam gagal tanam dan panen. “Kami sudah menunggu lama, tapi tidak ada hasil,” kata salah satu petani.
Ada 34 titik proyek irigasi di NTT yang dibiayai oleh APBN, namun banyak di antaranya yang mengalami keterlambatan. Paket pekerjaan yang dikerjakan oleh PT. Adhi Karya amburadul, membuat masyarakat semakin khawatir.
Apa yang menjadi penyebab proyek lambat selesai? Apakah karena proses lelang yang menyita banyak waktu, atau karena perencanaan yang kurang matang? Atau mungkin karena jadwal dan anggaran awal yang tidak memperhitungkan risiko atau kondisi lapangan yang sebenarnya?

Kita tidak bisa menuding satu pihak saja, karena lambannya proyek irigasi ini melibatkan kombinasi faktor internal dan eksternal. Namun, yang pasti adalah petani yang menjadi korban. Mereka yang menggantungkan hidupnya pada sawah, kini harus menghadapi kelaparan.
Saran kami, agar kedepannya pekerjaan irigasi seperti ini yang mestinya selesai tepat waktu, mencari sub kontraktor yang kompeten dan mampu bekerja di berbagai Medan dan kondisi. Selanjutnya pihak pelaksana juga harus memperhatikan secara baik pasokan bahan bangunan yang terhambat karena masalah logistik, pemasok, atau kelangkaan di lokasi pekerjaan.

Pihak pelaksana juga harus memastikan bahwa tenaga kerja yang digunakan memiliki keterampilan yang sesuai standar. Jangan sampai proyek irigasi ini menjadi mimpi buruk bagi petani.
Kami berharap agar pemerintah dan pihak terkait dapat memperhatikan masalah ini dan mengambil tindakan yang tepat. Petani tidak bisa menunggu lagi, mereka butuh air untuk menanam dan memanen.
Masa depan petani di Desa Kolabe dan Desa Bebalain tergantung pada proyek irigasi ini. Mari kita berdoa agar proyek ini dapat selesai tepat waktu dan memberikan berkah bagi petani. Irigasi yang tak selesai, petani yang terlupakan. Mari kita ubah nasib ini, mari kita bantu petani.
Proyek PT Adhi Karya di Kabupaten Belu
Di tanah Belu, di mana sawah hijau membentang, ada tiga Daerah Irigasi yang terancam oleh kegapalan. DI Halilulik, DI Raimetan, dan DI Raiikun, tiga nama yang seharusnya membawa berkah, namun kini menjadi sumber kekecewaan.
Proyek irigasi yang dikerjakan oleh PT Adhi Karya ini, seharusnya menjadi jawaban bagi petani yang telah menunggu lama. Namun, kenyataannya, progres fisik di lapangan masih sangat tertinggal. DI Raimetan dan DI Raiikun, pekerjaan sama sekali belum dimulai, seperti mimpi yang tak kunjung terwujud.

Pada DI Halilulik, pekerjaan terbangkalai seperti burung yang tak memiliki sayap. Beronjong belum tuntas, saluran irigasi belum selesai dicor, dan tiang penyangga saluran belum kunjung dikerjakan. Petani yang telah menunggu lama, kini harus menghadapi kekecewaan lagi. Air dari bendung yang ada, tak bisa dialirkan, membuat sawah mereka kering dan tak bernyawa.
Pekan lalu, warga desa Naitimu melakukan aksi protes, menuntut agar pekerjaan ini segera diselesaikan. Mereka tak bisa menunggu lagi, musim tanam I telah tiba, namun air masih jauh dari harapan. Apakah PT Adhi Karya akan mendengar jeritan mereka, ataukah proyek ini akan menjadi mimpi buruk bagi petani Belu? Hanya waktu yang akan menjawab.(*CMBN01)
Penulis: Chris Bani









