Cerita Inspiratif: Daniel Taimenas Diantara Cinta, Risiko dan Jalan Panjang Menjadi Pengusaha

Minggu, 15 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua DPRD Kabupaten Kupang, Daniel Taimenas, S.H

Ketua DPRD Kabupaten Kupang, Daniel Taimenas, S.H

KUPANG,- Di panggung politik Kabupaten Kupang, nama Daniel Taimenas dikenal sebagai sosok yang matang dan berpengalaman. Lima periode duduk sebagai anggota DPRD, bahkan tiga kali dipercaya memimpin lembaga legislatif itu, tentu bukan perjalanan yang lahir dalam semalam. Namun di balik citra politikus ulung dari Partai Golkar tersebut, tersimpan kisah hidup yang jauh dari kata mudah—kisah tentang jatuh bangun, pilihan-pilihan sulit, dan perjuangan yang nyaris membuatnya menyerah. Tidak banyak yang tahu, sebelum berdiri di kursi kekuasaan hari ini, Daniel pernah berada di titik kehidupan yang paling menentukan. Dan dari situlah semuanya bermula.

Diawali dengan perjalanan CINTA…

Inilah yang dialami Daniel Taimenas ketika ia masih kuliah. Pacarnya hamil. Istilahnya, “kecelakaan”. Karena kejadian itu, orangtuanya langsung lepas tanggung jawab, tak sudi lagi membiayai kuliah maupun hidupnya. Untuk itu, Daniel memang harus bangkit dan berjuang sendiri.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setidaknya, itulah titik awal dari kebangkitan perjuangan Daniel Taimenas, sehingga ayah empat anak itu kini tergolong sebagai peternak sukses di kampungnya di Oben, Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang (Pulau Timor), Nusa Tenggara Timur (NTT). Kampung Oben sendiri jaraknya dari Kota Kupang-kota Provinsi NTT hanya sekitar 20 kilometer arah selatan, namun sudah tergolong jauh di luar pusat kota.

Dua tahun setelah tamat dari SMA Katolik Giovani Kupang (1981), Daniel Taimenas mengikuti kuliah di Unika Widya Mandira Kupang. Selama lebih dua tahun, kuliahnya praktis tidak mengalami kesulitan berarti, karena orangtuanya, pasangan Samuel Taimenas dan Getreda Tabun yang peternak kecil, berjuang tak kenal lelah memenuhi kebutuhan kuliah Daniel. Hanya dengan satu harapan, agar suatu saat nanti anak mereka meraih gelar sarjana. Bagi orang tua, gelar itu suatu kebanggaan. Sementara pekerjaan setelah selesai kuliah, itu soal nanti.

Ketika memasuki semester VI di Fakultas Ekonomi, Daniel berkenalan dengan adik semesternya, Merry Lau. Perkenalan berlanjut dengan pacaran, hingga “tergelincir celaka”. Petaka pun langsung merundung. Orangtua Daniel langsung melepas tanggung jawab membiayai kuliah dan hidup anak keempat dari lima bersaudara itu.

Daniel menerim keputusan itu sebagai resiko yang harus ditebus demi cintanya yang tulus kepada Merry. Langkah awal yang dilakukannya adalah menikahi Merry secara resmi. Lalu Daniel pun mulai memberdayakan potensi bawaannya sejak kecil: sebagai peternak sapi.

Perjalanan Panjang Menembus Batas

Lahir di Oben, 1 Januari 1962, sejak usia SD Daniel sebenarnya sudah terbiasa berhubungan dengan hewan piaraan: sapi. Kebetulan orangtuanya ketika itu memiliki sekitar 40 ekor sapi. Secara bergantian ia menggembalai sapi di padang lepas. “Giliran saya biasanya pada sore hari atau selepas dari sekolah,” kisah Daniel.

Pekerjaan sebagai gembala masih dilanjutkannya hingga di bangku SMA, meski tidak secara terus menerus karena harus membagi waktu untuk kegiatan sekolah. Namun, pada saat yang sama ia tertarik memperhatikan sejumlah pedagang keliling pembeli sapi. Keluarga Samuel Taimenas (ayah Daniel) selalu didatangi pedagang yang berniat membeli sapi. Padahal, sang pedagang bekerja tanpa modal atau hanya mengandalkan modal pengusaha di Kota Kupang. “Saat itu, di hati kecil saya sudah tumbuh godaan bahwa saya juga bisą kalau bekerja seperti ini,” tuturnya.

Setamat SMA tahun 1981, Daniel Taimenas tidak langsung kuliah. Selain tetap bekerja sebagai gembala, ia diam-diam mulai menemui sejumlah pemilik sapi, kalau-kalau ada di antara hewan piaraan mereka yang mau dijual. Setelah mendapat cukup informasi, Daniel lalu, mendekati pedagang di Kota Kupang.

Hubungan awalnya dengan PT Bumi Tirta, perusahaan pembeli ternak besar di Kota Kupang waktu itu ternyata berjalan mulus. Dari usahanya tersebut, Daniel tidak mendapatkan keuntungan. Sesuai ke biasaan di kampungnya, harga ternak sesuai berat badan hewan. Karena itu, pemilik ternak langsung berhubungan dengan pedagang. Daniel sendiri hanya memperoleh imbalan dari jasanya, entah dari peternak juga dari pedagang. “Saat itu, memiliki uang Rp 5.000-Rp 10.000 nilainya besar,” katanya.

Menyaksikan Daniel kian aktif menjual jasanya, orangtuanya lalu meminta putranya itu supaya mengikuti kuliah. Permintaan orangtua dituruti karena Daniel sendiri berharap suatu ketika menyandang gelar sarjana. Ternyata angan-angannya kandas di tengah jalan setelah kisah cintanya dengan Merry yang kini menjadi istrinya, “tergelincir” sebelum selesai kuliah atau meraih gelar sarjana.

Yang terpaksa meninggalkan kuliah tidak hanya Daniel. Merry juga mengikuti jejak suaminya. Untuk menopang kebutuhan hidup, Daniel kembali menjajakan jasanya menjadi pedagang perantara. Dengan referensi pengalaman sebelumnya, niat Daniel ternyata langsung disambut hangat oleh sejumlah pedagang ternak di Kota Kupang. Kali ini, selain PT Bumi Tirta, Daniel juga berhubungan dengan PT Nusa Indah dan Firma Rusnesam.

Meski masih mengandalkan penghasilan dari jasanya, imbalan yang didapat Daniel semakin menggembung mengikuti jumlah sapi yang ditransaksikan. Pada saat yang sama selalu saja datang godaan dari pedagang agar Daniel tidak lagi hanya mengandalkan jasanya. Ia ditawari modal jutaan rupiah agar mulai membeli langsung sapi-sapi di pedesaan. Godaan demi godaan selalu ditolaknya. Alasan dia, karena tidak sedikit rekannya terjebak dalam utang akibat permainan harga oleh pemilik modal.

Dari Gembala hingga Menjadi Pemilik 300 Sapi

Suatu ketika pada akhir tahun 1980-an, pedagang di Kupang tersentak oleh kedatangan Daniel mengantarkan puluhan sapi miliknya. Ternyata sapi-sapi itu ia beli dengan modal dari tabungan ketika menjajakan jasanya.

“Dengan posisi seperti ini, pedagang tidak bisa mempermainkan harga karena saya bekerja dengan modal sendiri,” jelasnya.

Usahanya ternyata terus berkembang. Namun, ketika mengunjungi desa-desa membeli sapi, Daniel sering dilanda rasa prihatin menyaksikan kesulitan peternak mendapatkan pakan, terutama pada musim kemarau. Pada musim ini, berat sapi menjadi sangat anjlok dan dengan demikian harganya pun jatuh. Sejak saat itu pula Daniel mulai merintis dan mendorong pengembangan usaha pakan. Yang ditanam adalah lamtoro gung dan rumput gajah. Usaha pakan itu kini berkembang luas, setidaknya di Kecamatan Nekamese, Kupang Tengah, Kupang Barat, dan Amarasi.

“Lahan pakan milik saya sendiri sekarang meliputi sekitar 40 hektar. Di dalamnya juga ditanami jati super, cendana, pisang, dan lainnya,” kata Daniel. Usaha dan dorongannya itu, ia memperoleh piagam penghargaan sebagai perintis lingkungan dari Gubernur NTT pada tahun 2002.

Menyaksikan usahanya yang terus melejit, Daniel sejak tahun 1992 menerobos pasaran ternak Jakarta. Hingga tahun 1998, Daniel yang lebih suka menyebut dirinya sebagai peternak atau keberatan disebut sebagai pedagang, secara rutin mengantarpulaukan sapi-sapinya hingga 750 ekor per bulan. Kalau harga di Pelabuhan Tenau, Kupang, saat itu rata-rata Rp 2,5 juta-Rp 3 juta per ekor, maka om-zetnya bisa mencapai sekitar Rp 2 milyar per bulan.

“Modal yang saya miliki sebenarnya masih jauh dari nilai omzet. Namun, saya bisa mengantarpulaukan sapi sebanyak itu hanya karena bermodalkan kejujuran dan kepercayaan,” katanya merendah.

Hitung-hitung aset yang dimiliki Daniel Taimenas tahun 2002 sekitar Rp 2,5 milyar. Di antaranya berupa rumah permanen di Oben dan di Kota Kupang, dengan perabotan mewah. Untuk kelancaran usahanya, ia didukung empat unit truk ditambah tujuh buah sepeda motor. Di Kota Kupang sendiri, selain sebuah rumah, ia juga masih memiliki empat bidang tanah. Pada saat yang sama, ayah empat anak ini memiliki lebih dari 300 ekor sapi, yang pemeliharaannya disebarkan kepada para peternak dengan sistem bagi hasil.

Pemilikan harta kekayaan bernilai total senilai Rp 2,5 milyar tentu bukanlah hal istimewa untuk warga kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau lainnya. Tetapi, bagi Daniel yang tinggal di lingkungan yang warga sekitarnya tergolong sangat miskin, hal itu tentu mempunyai makna tersendiri. Apalagi harta kekayaan yang ia punyai itu berawal dari pekerjaan sebagai gembala.

Dok: Kompas 2003

Catatan Redaksi: Tulisan ini bersumber dari artikel Frans Sarong yang dipublikasikan di Harian Kompas tahun 2003, dan telah diedit serta disesuaikan oleh Redaksi CMB News dengan gaya penulisan yang lebih modern.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Ayo Bergabung di Road To Event Academy GAMKI NTT, Langkah Besar Pemuda Flobamora Naik Kelas
Aksi Cepat Resmob Satreskrim Polres Kupang Tuntaskan Kasus Pencurian Hand Traktor
Liga Pendidikan Indonesia zona Amfo’ang Raya resmi ditutup
Kepemimpinan Janto di BPJN NTT Dorong Pembangunan Jalan Tepat Mutu dan Berdampak Nyata
Drama Gol dan Semangat Juang Membara di LPI 2026 zona Amfoang Raya
Polda NTT Diminta Uji Diskrepansi Medis Forensik Kasus Kematian Vika Serwutun
Kuasa Hukum Keluarga Vika Serwutun Serahkan Memorandum Hukum ke Polda NTT
Rapat Perdana: LBH GAMKI NTT Siapkan Konsultasi Hukum Gratis Bulanan untuk Warga

Berita Terkait

Jumat, 29 Mei 2026 - 02:10

Ayo Bergabung di Road To Event Academy GAMKI NTT, Langkah Besar Pemuda Flobamora Naik Kelas

Jumat, 29 Mei 2026 - 01:39

Aksi Cepat Resmob Satreskrim Polres Kupang Tuntaskan Kasus Pencurian Hand Traktor

Rabu, 27 Mei 2026 - 22:09

Liga Pendidikan Indonesia zona Amfo’ang Raya resmi ditutup

Rabu, 27 Mei 2026 - 00:40

Kepemimpinan Janto di BPJN NTT Dorong Pembangunan Jalan Tepat Mutu dan Berdampak Nyata

Senin, 25 Mei 2026 - 10:16

Polda NTT Diminta Uji Diskrepansi Medis Forensik Kasus Kematian Vika Serwutun

Berita Terbaru

Ritual di bawah pohon beringin; foto: Arnichus Loit

Budaya

Asal-Usul dan Makna Filosofis nama Desa Nunuanah

Sabtu, 30 Mei 2026 - 02:22

Konten tidak bisa disalin.