LARANTUKA,- Kepanikan mendadak menyelimuti Desa Terong, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, saat gempa bumi mengguncang wilayah itu pada Jumat, 10 April 2026, pukul 13.38 WITA. Warga berhamburan keluar rumah, sebagian menangis histeris, terutama anak-anak dan perempuan.
Di bawah tenda darurat berwarna biru, Sania Hokeng (12), siswi SMPK Phaladhya Waiwerang, memeluk erat ibunya, Emiliana Kumanireng (37). Keduanya tak kuasa menahan tangis. Trauma lama kembali menyeruak ketika guncangan terasa kuat di siang hari itu.
Sania bukan kali pertama menghadapi bencana. Ia sebelumnya selamat dari erupsi eksplosif Gunung Lewotobi Laki-laki pada 3 November 2024 yang menewaskan sembilan orang. Saat itu, ia masih duduk di bangku kelas VI SDK Klatanlo. Hingga kini, luka psikologis akibat peristiwa tersebut belum sepenuhnya pulih.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Belum genap setahun menetap di Desa Terong, Sania dan keluarganya kembali dihadapkan pada rangkaian bencana. Setelah erupsi, wilayah itu dilanda banjir, dan kini gempa bumi yang merusak ratusan rumah serta menyebabkan puluhan warga mengalami luka-luka.
Gempa terkuat dirasakan pada Rabu malam, 8 April 2026. Saat itu, Sania dan adiknya, Nadin Hokeng (5), sedang tertidur di kamar belakang ketika dinding rumah mereka runtuh.
“Runtuh ke arah samping, tidak ke dalam. Saya langsung masuk dan gendong mereka keluar,” ujar ayahnya, Opyn Hokeng, saat ditemui di lokasi.
Sejak dua malam terakhir, keluarga ini memilih bertahan di luar rumah. Bersama warga lain, mereka mendirikan tenda darurat dari terpal seadanya dan tidur beralaskan tikar. Mereka tidak berani kembali ke dalam rumah karena gempa susulan masih terus terjadi.
“Kasur ada di dalam, tapi sulit diambil. Bahaya, tembok yang retak bisa runtuh kapan saja,” kata Opyn.
Kisah serupa dialami Siti Fatima Zakaria (70), warga lain di desa tersebut. Ia mengaku masih diliputi trauma setelah merasakan guncangan berkekuatan magnitudo 4,7 pada Rabu malam.
Rumah yang ia tempati bersama menantunya mengalami kerusakan parah di bagian belakang. Kini, Siti terpaksa berlindung di bawah pohon dan menumpang tidur di tenda milik tetangga karena tidak memiliki tempat penampungan sendiri.
Meski pemerintah daerah mulai menyalurkan bantuan sejak Kamis sore, 9 April 2026, distribusinya belum sepenuhnya merata. Bantuan berupa makanan, perlengkapan mandi, dan kebutuhan tidur diprioritaskan bagi warga dengan kerusakan rumah paling parah.
Di lapangan, masih banyak kelompok rentan yang belum tersentuh bantuan secara memadai.
Sekretaris BPBD Flores Timur, Ariston Kolot Ola, menyebutkan data sementara menunjukkan sekitar 200 rumah terdampak di Desa Terong dan Lamahala. Rinciannya, 134 rumah di Terong dan 74 rumah di Lamahala mengalami kerusakan, baik ringan maupun berat.
“Data ini masih diverifikasi untuk memastikan tingkat kerusakan dan kebutuhan warga,” kata Ariston.
Pemerintah daerah, menurut dia, terus berupaya menyalurkan bantuan logistik kepada warga terdampak. Namun, belum ada penjelasan rinci terkait kendala distribusi yang menyebabkan bantuan belum menjangkau seluruh penyintas.
Di tengah keterbatasan itu, warga bertahan dengan rasa cemas yang belum reda. Bagi Sania, gempa kali ini bukan sekadar bencana alam, melainkan pengingat bahwa hidupnya belum benar-benar lepas dari bayang-bayang bencana.(*Sabon)









