Menembus Batas Desa: Asten Bait Nyalakan Asa Pendidikan di Pelosok

Selasa, 14 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Asten Bait sedang memberikan materi sekaligus memotivasi pelajar SMA di Fatuleu.

Asten Bait sedang memberikan materi sekaligus memotivasi pelajar SMA di Fatuleu.

KUPANG,- Di sebuah aula sederhana milik SMA Nusa Timor, Desa Kiuoni, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, Selasa (14/4/2026), semangat itu terasa berbeda. Bukan sekadar kegiatan biasa, tetapi sebuah pertemuan yang menghidupkan harapan—tentang masa depan, tentang mimpi, dan tentang perubahan.

Di hadapan puluhan siswa-siswi, aktivis muda Asten Bait berdiri bukan hanya sebagai motivator pendidikan, tetapi sebagai penyambung harapan bagi anak-anak desa yang selama ini kerap merasa jauh dari akses dan kesempatan. Dengan gaya tutur yang hangat namun tegas, ia mengajak para pelajar untuk melihat pendidikan bukan sebagai pilihan, melainkan sebagai hak yang harus diperjuangkan.

“Pendidikan harus terus diserukan, terutama di pelosok. Ini bukan sekadar kebutuhan, tetapi hak dasar yang wajib dipenuhi negara,” ujarnya, disambut antusias para siswa.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam suasana diskusi yang hidup, Asten mengangkat satu pertanyaan sederhana namun menggugah: apakah semangat perubahan yang sering digaungkan hari ini sudah benar-benar diwujudkan dalam tindakan nyata, khususnya dalam mendukung pendidikan sesama?

Bagi Asten, perubahan tidak cukup hanya menjadi slogan. Ia harus dimulai dari kesadaran kolektif untuk saling menopang, saling mendorong, dan saling menguatkan—terutama bagi mereka yang berada di wilayah pedalaman.

Ia menegaskan, masa depan bangsa sesungguhnya berada di tangan generasi muda hari ini. Karena itu, kegagalan mengakses pendidikan bukan hanya kerugian pribadi, tetapi juga ancaman bagi daya saing bangsa di masa depan.

“Kalau kita sebagai pemuda tidak berpikir untuk mengakses pendidikan, bagaimana kita bisa bersaing ke depan?” tegasnya.

Pesan itu semakin kuat ketika ia mengingatkan bahwa anak desa tidak boleh merasa kalah dengan mereka yang hidup di kota. Keterbatasan ekonomi, menurutnya, bukan alasan untuk menyerah. Justru dari keterbatasan itulah lahir ketangguhan dan semangat juang.

Menurutnya, kunci utama keberhasilan adalah mengenal jati diri—memahami siapa diri kita dan dari mana kita berasal. Kesadaran itu, kata dia, akan menjadi bahan bakar yang tak pernah habis dalam mengejar cita-cita.

“Orang akan berjuang sungguh-sungguh ketika ia tahu siapa dirinya dan dari mana ia berasal,” ucapnya penuh keyakinan.

Tak hanya memberi motivasi, kunjungan Asten juga membuka potret lain yang tak kalah penting: realitas pendidikan di lapangan. Tak jauh dari lokasi kegiatan, ia menyempatkan diri melihat kondisi SD Negeri Saijaob—sebuah sekolah dasar yang masih berjuang di tengah keterbatasan.

Pemandangan yang ditemuinya cukup memprihatinkan. Fasilitas sekolah yang rusak, ruang belajar yang belum memadai, hingga penggunaan bangunan darurat menjadi bukti nyata bahwa masih ada pekerjaan besar yang belum terselesaikan dalam sektor pendidikan.

Dari dialog bersama para guru, terungkap bahwa gedung sekolah yang dibangun sejak 2010 itu belum pernah mendapatkan perbaikan signifikan, meski kondisinya kian memprihatinkan. Tak hanya itu, kekurangan tenaga pengajar juga menjadi persoalan serius yang menghambat proses belajar mengajar.

Kondisi serupa, menurut para guru, juga terjadi di sejumlah sekolah lain, termasuk SD Negeri Tuapukan di Desa Ekateta.

Ironisnya, program-program strategis pemerintah seperti makan bergizi gratis pun disebut belum menyentuh sekolah tersebut. Situasi ini mempertegas adanya kesenjangan antara kebijakan dan implementasi di lapangan.

Melihat kenyataan tersebut, Asten menyampaikan kritik terbuka kepada pemerintah daerah. Ia menilai, masih kurangnya keberpihakan anggaran terhadap sektor pendidikan, khususnya di wilayah pedalaman.

“Jangan sampai kita sibuk dengan kegiatan seremonial, tetapi lupa pada masa depan anak-anak bangsa,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa konstitusi telah menegaskan pendidikan sebagai hak dasar setiap warga negara. Karena itu, negara—termasuk pemerintah daerah—memiliki tanggung jawab moral dan konstitusional untuk memastikan akses pendidikan yang layak bagi seluruh masyarakat.

Harapan pun disampaikan agar pemerintah Kabupaten Kupang, melalui dinas terkait, segera mengambil langkah nyata—baik dalam perbaikan infrastruktur sekolah, penambahan tenaga pengajar, maupun pemerataan program pendidikan.

Menurutnya, cita-cita besar seperti “Kabupaten Kupang Emas” tidak akan pernah terwujud jika generasi mudanya tidak dipersiapkan dengan baik.

Tak hanya pendidikan, persoalan infrastruktur juga menjadi sorotan. Akses jalan di Desa Kiuoni dan wilayah pedalaman Fatuleu masih dalam kondisi memprihatinkan, yang secara tidak langsung turut memengaruhi akses pendidikan dan mobilitas masyarakat.

Di tengah segala keterbatasan itu, satu hal yang tetap menyala adalah harapan. Dari aula sederhana di Kiuoni, semangat itu telah ditanamkan—bahwa perubahan selalu dimulai dari kesadaran, dari keberanian bermimpi, dan dari tekad untuk tidak menyerah pada keadaan. Dan mungkin, dari desa kecil di Fatuleu inilah, masa depan besar itu sedang mulai ditulis.**

Facebook Comments Box

Berita Terkait

LBH GAMKI NTT Mulai Layani Konsultasi Hukum, Warga Datang Membawa Beragam Persoalan
Karpet Merah yang Tersendat? Drama Politik Menuju Kursi Ketua Golkar Kabupaten Kupang
Bupati Yosep Kebo dan Gerakan Sunyi Menanam Ribuan Bambu di Tepi Kali Tauf
Jejak Budaya di Bawah Langit Uisneno
Keluluisan SD se-Kecamatan Amarasi mencapai angka 99,31%
Belajar Sejarah Langsung dari Sumbernya, Murid Kelas 6 SD I Nekmese Kunjungi Museum Negeri Kupang
Pelestarian tenun ikat Tais dan Pernikahan adat Amarasi menjadi sorotan di Desa Nekmese
Golkar Kabupaten Kupang Diuji Soal Kesetiaan dan Keadilan, 7 PAC Tantang Arus Besar Pohon Beringin

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 05:50

LBH GAMKI NTT Mulai Layani Konsultasi Hukum, Warga Datang Membawa Beragam Persoalan

Sabtu, 6 Juni 2026 - 03:02

Karpet Merah yang Tersendat? Drama Politik Menuju Kursi Ketua Golkar Kabupaten Kupang

Jumat, 5 Juni 2026 - 14:36

Bupati Yosep Kebo dan Gerakan Sunyi Menanam Ribuan Bambu di Tepi Kali Tauf

Kamis, 4 Juni 2026 - 22:34

Keluluisan SD se-Kecamatan Amarasi mencapai angka 99,31%

Kamis, 4 Juni 2026 - 22:19

Belajar Sejarah Langsung dari Sumbernya, Murid Kelas 6 SD I Nekmese Kunjungi Museum Negeri Kupang

Berita Terbaru

Gambar ilustrasi: ChatGPT

Budaya

Menahan Kelahiran, Menahan Kehidupan

Jumat, 5 Jun 2026 - 08:54

Konten tidak bisa disalin.