KUPANG,- Di bawah terik matahari yang mulai meninggi di wilayah perbatasan Kecamatan Nekamese dan Taebenu, suara mesin penghampar aspal mulai memecah sunyi ruas jalan Tunfeu–Oeltua, Selasa 2 Juni 2026.
Perlahan namun pasti, lapisan hitam hotmix membentang rapi di atas badan jalan yang selama bertahun-tahun menjadi harapan masyarakat.
Bagi warga Desa Tunfeu dan Oeltua, pembangunan jalan ini bukan sekadar proyek infrastruktur biasa. Jalan tersebut adalah urat nadi penghubung aktivitas masyarakat, mulai dari akses pertanian, pendidikan, hingga mobilitas ekonomi warga di Kabupaten Kupang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pekerjaan hotmix yang dilaksanakan CV Laksman itu tampak dikerjakan dengan perhatian serius terhadap kualitas. Sejak pagi, aktivitas di lapangan dipantau langsung oleh petugas pengawas dari PT Dwipa Mitra Konsultan selaku konsultan pengawas proyek.
Pantauan di lokasi menunjukkan proses pengaspalan dimulai dari kawasan pertigaan Dusun II Noelsinas, Desa Tunfeu, menuju arah Desa Oeltua. Setelah material hotmix dihampar dan dipadatkan menggunakan alat berat, petugas pengawas segera melakukan pengukuran terhadap ketebalan dan lebar lapisan aspal.

Langkah tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan mutu pekerjaan sesuai spesifikasi teknis yang telah ditetapkan.
CV Laksman tidak hanya mengejar penyelesaian pekerjaan, tetapi juga memastikan setiap tahapan konstruksi dilakukan secara bertanggung jawab. Sebelum lapisan hotmix dikerjakan, seluruh struktur dasar jalan telah melalui tahapan material yang berlapis dan terukur.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Kabupaten Kupang, Nazar, sebelumnya menjelaskan bahwa konstruksi jalan terdiri dari urugan pilihan setebal 20 hingga 30 sentimeter padat, lapisan agregat A setebal 15 sentimeter, dan lapisan hotmix setebal 4 sentimeter sebagai permukaan akhir.
Ruas jalan tersebut memiliki panjang sekitar 4,5 kilometer dengan lebar badan jalan mencapai 4,6 meter. Pada sisi kiri dan kanan jalan juga dibangun bahu jalan menggunakan rabat beton K125 dengan lebar masing-masing 50 sentimeter guna memperkuat struktur jalan sekaligus meningkatkan kenyamanan pengguna.
Di papan informasi proyek yang terpampang di pertigaan Jalan Baumata–Oeltua, tercatat paket pekerjaan konektivitas Binlaka–Tunfeu–Oeltua memiliki nilai anggaran lebih dari Rp10,7 miliar yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK).
Proyek tersebut mulai berkontrak sejak 16 Maret 2026 dengan masa pelaksanaan selama 120 hari kalender. Dalam pelaksanaannya, CV Laksman dipercaya sebagai kontraktor pelaksana, sementara pengawasan dilakukan oleh PT Dwipa Mitra Konsultan.
Di tengah kebutuhan masyarakat akan infrastruktur yang berkualitas dan tahan lama, pengerjaan ruas jalan ini menjadi gambaran bahwa pembangunan tidak hanya soal membangun cepat, tetapi juga tentang menjaga mutu demi manfaat jangka panjang bagi masyarakat.**









