Hari-hari sekolah biasanya berlalu dalam kesederhanaan. Ada pelajaran yang diajarkan, tugas yang diperiksa, nasihat yang diulang berkali-kali, dan doa-doa yang diam-diam dipanjatkan untuk masa depan anak-anak. Tidak selalu ada tanda terima kasih yang terlihat. Tidak selalu ada kata-kata yang terucap. Namun tahun ini, di tengah sukacita kelulusan, tumbuh sebuah keindahan yang lahir dari hati masyarakat sendiri.
Tanpa sepengetahuan para guru dan kepala sekolah, para orang tua murid bersepakat memberikan dua helai kain tenun kecil yang disebut po’uk. Benda itu mungkin sederhana dalam ukuran, tetapi tidak sederhana dalam makna. Dalam setiap benang yang terjalin terdapat penghormatan kepada mereka yang telah menenun pengetahuan, membimbing karakter, dan menemani langkah anak-anak hingga tiba di gerbang kelulusan. Po’uk itu bukan sekadar hadiah; ia adalah bahasa budaya yang berkata, “Kami tidak lupa.”
Kepada para murid yang hari ini dinyatakan lulus, selamat menapaki jalan yang lebih luas. Kelulusan bukanlah akhir perjalanan, melainkan sebuah pintu menuju cakrawala yang lebih jauh. Terima kasih karena telah menjadi bagian dari kisah sekolah ini. Jika selama belajar ada teguran yang terasa keras, aturan yang terasa membatasi, atau tugas yang terasa memberatkan, percayalah bahwa semuanya lahir dari harapan agar kalian bertumbuh menjadi manusia yang kuat, bijaksana, dan berguna bagi sesama.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepada para guru dan kepala sekolah, terimalah penghormatan ini dengan rendah hati. Apa yang telah dikerjakan mungkin tidak sempurna. Karena itu, atas segala kekurangan dalam mendidik, melayani, dan mendampingi anak-anak, kiranya ada ruang maaf yang lapang dari orang tua dan para murid. Sebaliknya, para guru pun memohon maaf jika dalam perjalanan pendidikan terdapat kata-kata yang kurang berkenan atau perhatian yang belum sepenuhnya menjangkau setiap anak.
Kepada para orang tua dan pengurus komite sekolah, terima kasih karena telah berjalan bersama sekolah dalam semangat gotong royong. Pendidikan yang baik tidak pernah lahir dari kerja satu pihak. Ia tumbuh dari tangan-tangan yang saling menopang: keluarga yang mendidik di rumah, guru yang membimbing di sekolah, komite yang menguatkan, dan masyarakat yang menjaga nilai-nilai kehidupan.
Akhirnya, harapan terbesar kita bukanlah sekadar melihat anak-anak lulus hari ini, melainkan melihat mereka terus bersekolah setinggi mungkin. Terbanglah jauh untuk mencari ilmu, tetapi jangan tercerabut dari akar budaya yang telah membesarkanmu. Ingatlah selalu tanah kelahiran, bahasa ibu, nilai-nilai leluhur, dan kasih keluarga yang menyertaimu. Semoga kelak kalian kembali sebagai generasi yang membawa terang bagi kampung, gereja, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.
Selamat kepada para lulusan. Terima kasih kepada para guru. Hormat kepada para orang tua dan komite sekolah. Dan kepada dua helai po’uk yang sederhana itu, biarlah ia menjadi penanda bahwa kasih, penghargaan, dan pendidikan akan selalu menemukan jalannya untuk dikenang.
Penulis: Heronimus Bani~Pemulung Aksara









