Opini|Marthen Luther Dira Tome Menuju Kursi NTT 1

Minggu, 21 Agustus 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bupati Sabu Raijua, Marthen Luther Dira Tome

Bupati Sabu Raijua, Marthen Luther Dira Tome

cmbnews.id/, Salam, suatu malam pada Februari 1992 Hugo Chavez yang berpangkat letnan kolonel melakukan kudeta, mengirim sejumlah tank dan tentara menyerbu Istana Miraflores di Caracas.

Diktator militer Venezuela, Presiden Carlos Andres Perez, lari, kudeta gagal, dan Chavez masuk penjara. Enam tahun kemudian, ia muncul kembali sebagai kandidat presiden dan menang dalam pemilu. Pada Februari 1999, ia dilantik sebagai Presiden Venezuela termuda yang diperhitungkan dunia.
Chavez tampil sebagai sosok pemimpin modern yang populis dan kontroversial. Ia dianggap sebagai mesias sekaligus tiran, dibenci, tetapi juga dirindukan. Sejarah mencatatnya sebagai pemimpin Amerika Latin yang menyalakan kembali api revolusi sosialis kerakyatan Bolivarian.

Ia melawan neokolonialisme dengan nasionalisasi perusahaan migas untuk kemakmuran rakyat, menyerukan solidaritas internasional melawan hegemoni kapitalisme Barat dan dominasi Amerika Serikat. Kepergian Chavez pada 5 Maret 2013 diantar isak tangis jutaan rakyat dan bela sungkawa masyarakat dunia yang mengaguminya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Transformasional versus transaksional

Kepemimpinan terbukti menentukan corak warna sejarah. Sulit dibayangkan dunia tanpa pemimpin. Negara tanpa kehadiran pemimpin pasti berjalan autopilot. Tanpa Chavez, bisa jadi Amerika Latin tetap terpinggirkan, kekayaan alamnya tetap dikuasai korporasi asing. Tanpa Chavez, Venezuela lebih dikenal dengan ratu kecantikannya, sebuah negara dengan Miss Universe terbanyak di dunia. Sepeninggal Chavez, kemelut yang melanda negeri itu nyaris tak pernah surut.

Marthen Luther Dira Tome jelas bukan Chavez. Latar belakang Marthen Dira Tome bukan the Big Man, tanpa trah genetik dan biologis darah biru, menjadi antitesis bahwa pemimpin tidak harus dari kalangan ningrat atau kesatria. Ia berasal dari kalangan orang biasa, tanpa ikatan dan dosa penguasa masa lalu, sehingga menumbuhkan harapan baru regenerasi kepemimpinan di pentas nasional. Bagi masyarakat, pemimpin baru senantiasa menumbuhkan harapan baru.

Gagasan revolusi mental untuk melakukan perubahan disambut dengan besarnya ekspektasi rakyat. Tak hanya slogan jujur, merakyat, dan sederhana, tetapi inisiasi dan karya nyata, kerja keras blusukan ke berbagai tempat, menjadi daya tarik yang memukau. Tak mengherankan, jika nanti Dira Tome melesat dari Sabu Raijua dan akan menaklukkan Kursi NTT-1 hingga menjadi orang nomor satu di Provinsi ini.

Kinerja pemimpin menjadi titik sentral maju-mundurnya kapal yang dikemudikan. Ia dituntut untuk menginspirasi, menggerakkan, dan memobilisasi sehingga dapat berjalan bersama mencapai tujuan. Kepemimpinan, menurut filsuf William James, tak lepas dari aras pemikiran dan tindakan. Visi harus sejalan dengan aksi. Gagasan mesti berbanding lurus dengan kebijakan.

Di sinilah aura kepemimpinan Dira Tome diuji. Keefektifan kinerjanya dalam memimpin dipertanyakan. Penyelesaian konflik yang berlarut-larut, melenggangnya perpanjangan kontrak proyek yang merugikan, munculnya proyek mobil nasional Proton, menjadi sekelumit potret pengambilan keputusan yang tidak tegas alias membingungkan.
Janji program, membeli kembali harga diri, tersandera transaksi politik balas budi, yang bertentangan dengan Nawacita yang terus didengungkan.

Tipikal kepemimpinan transaksional mengutamakan maksimalisasi keuntungan dalam setiap keputusan. Pemimpin transaksional menggunakan konstituen karena ada sesuatu (Machiavellian) dan untuk mendapatkan sesuatu, terutama keuntungan nominal.

Sebaliknya, pemimpin transformatif bergandeng erat, memotivasi, membantu, menggerakkan passion masyarakat untuk menciptakan sekaligus mencapai tujuan bersama yang terbaik. Pemimpin transformatif mampu membuat kebijakan yang sulit serta berani mengambil risiko.(*Penulis:Chris Bani)
Bupati Sabu Raijua, Marthen Luther Dira Tome

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir
Upaya RJ Belum Temukan Titik Temu, Kuasa Hukum Teldi Mooy Minta Penyidik Dalami Penguasaan Sertifikat
Rote Ndao Sebelum 2029: Komitmen Politik Usman Husin Memilih Berjuang dari Senayan 
Mengenal Peran Agrinas di Garis Depan Pembangunan Kopdes Merah Putih
Cerita Air Bersih dan Kepedulian Polri di Kabupaten Kupang
Ultimatum 48 Jam!! Forum Wartawan NTT Desak Kapolda Evaluasi Kapolres TTU
Ketika Pengkhianatan Rumah Tangga Bersembunyi di Balik Seragam ASN
Polisi Kejar Pelaku Pembobolan Minimarket dan ATM BRI di Kabupaten Kupang

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 22:42

Ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir

Senin, 28 September 2026 - 09:34

Upaya RJ Belum Temukan Titik Temu, Kuasa Hukum Teldi Mooy Minta Penyidik Dalami Penguasaan Sertifikat

Jumat, 25 September 2026 - 21:21

Rote Ndao Sebelum 2029: Komitmen Politik Usman Husin Memilih Berjuang dari Senayan 

Jumat, 25 September 2026 - 05:39

Mengenal Peran Agrinas di Garis Depan Pembangunan Kopdes Merah Putih

Jumat, 25 September 2026 - 03:41

Cerita Air Bersih dan Kepedulian Polri di Kabupaten Kupang

Berita Terbaru

ilustrasi oleh AI: berbicara di depan orang lain;

Gaya Hidup

Ketika ayat terlalu sering keluar dari bibir

Senin, 28 Sep 2026 - 22:42

Konten tidak bisa disalin.