KEFAMENANU,- Pagi itu, langit Kefamenanu tampak lebih teduh dari biasanya. Di sepanjang bantaran Kali Tauf yang membelah dan mengitari wajah Kota Kefamenanu, ribuan langkah bergerak serentak. Ada suara cangkul yang menghantam tanah, ada tangan-tangan yang menanam bambu, dan ada harapan yang perlahan dititipkan pada akar-akar kecil yang kelak akan tumbuh menjaga kota.
Di tengah kerumunan ASN, aparat TNI-Polri, DPRD, camat, lurah, kepala desa hingga masyarakat, berdiri seorang pemimpin dengan topi lapangan dan tatapan tenang: Bupati Timor Tengah Utara, Yosep Falentinus Dellasale Kebo.
Ia tidak datang membawa pidato panjang. Ia datang membawa keyakinan bahwa alam harus dijaga sebelum bencana datang mengetuk rumah-rumah warga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jumat, 5 Juni 2026, Pemerintah Kabupaten TTU menggelar gerakan penghijauan besar-besaran di bantaran Kali Tauf. Momentum itu dipadukan dengan Pencanangan Bulan Bakti Gotong Royong dan Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tingkat Kabupaten TTU.
Namun bagi banyak orang, kegiatan itu lebih dari sekadar seremoni tahunan. Ada pesan besar yang sedang dibangun Yosep Kebo: bahwa kepemimpinan bukan hanya soal membangun gedung dan jalan, tetapi juga menjaga tanah tempat rakyat berpijak.
Kali Tauf selama bertahun-tahun menjadi saksi kecemasan warga Kota Kefamenanu. Saat musim hujan tiba, banjir kerap datang menggenangi wilayah Benpasi dan Kefa Selatan. Tebing sungai tergerus, aliran air meluap, dan masyarakat kembali dipaksa berdamai dengan rasa takut.
Karena itulah, di bawah kepemimpinan Yosep Kebo, pemerintah memilih bergerak sebelum bencana kembali datang.
“Tujuannya menahan erosi tebing kali, mengurangi dampak banjir, dan meminimalisir longsor saat musim hujan,” ujar Yosep Kebo di sela kegiatan.
Bambu dipilih bukan tanpa alasan. Ia lentur, tetapi kuat. Akarnya kokoh mencengkeram tanah. Ia tumbuh diam-diam, namun menjadi pelindung yang bertahan lama. Seperti filosofi kepemimpinan yang sedang dibangun di TTU: bekerja tenang, tetapi meninggalkan jejak yang panjang.
Pemerintah Kabupaten TTU menyiapkan ratusan pohon bambu. Setiap organisasi perangkat daerah diwajibkan menanam dan merawat pohon di sepanjang bantaran sungai. Tidak berhenti di situ, berbagai tanaman produktif seperti kemiri, mangga, lengkeng, kelor hingga cendana ikut ditanam untuk menopang ekonomi masyarakat di masa depan.
Bagi Yosep Kebo, penghijauan bukan sekadar agenda lingkungan. Ini adalah gerakan sosial yang hendak menghidupkan kembali semangat gotong royong yang mulai memudar di tengah perubahan zaman.
Ia percaya, daerah tidak bisa dibangun hanya oleh pemerintah. Daerah hanya akan bertumbuh ketika rakyat merasa memiliki tanah dan lingkungannya sendiri.
“Gotong royong adalah modal sosial terbesar kita,” kata mantan prajurit TNI itu.
Kalimat itu sederhana, tetapi terasa kuat di tengah riuh suara cangkul dan tanah yang dibalik pagi itu. Sebab di banyak tempat, gotong royong perlahan berubah menjadi slogan. Tetapi di bantaran Kali Tauf, masyarakat TTU sedang memperlihatkan bahwa nilai itu masih hidup.
Setiap OPD bahkan diberi tanggung jawab khusus untuk menjaga pohon yang telah ditanam. Sebab menanam, kata Marni, hanyalah awal. Merawat adalah bentuk tanggung jawab yang sebenarnya.
Di tengah ancaman perubahan iklim dan bencana ekologis yang semakin nyata, langkah Pemerintah Kabupaten TTU mungkin terlihat sederhana: menanam bambu.
Namun sejarah sering kali berubah dari hal-hal sederhana yang dilakukan dengan kesungguhan. Dan di sepanjang Kali Tauf itu, Yosep Kebo tampaknya sedang menanam lebih dari sekadar pohon. Ia sedang menanam masa depan TTU.**









