KUPANG,- Walaupun berkali-kali diterpa kritik, cibiran, bahkan serangan dari akun-akun anonim di media sosial, langkah Yusinta Ningsih Nenobahan Syarief (YNS) tidak pernah berhenti. Pengusaha sekaligus politisi perempuan asal Kabupaten Timor Tengah Selatan itu memilih menjawab semuanya dengan tindakan nyata. Baginya, pengabdian kepada tanah kelahiran tidak boleh berhenti hanya karena suara-suara yang datang dari balik layar telepon genggam.
Ketika ruas jalan di Desa Nualunat, Kecamatan Kot’olin, tertimbun batu dan mengganggu aktivitas masyarakat, Yusinta tidak memilih menjadi penonton. Ia tidak menunggu siapa yang harus bergerak lebih dulu. Dengan segala kemampuan yang dimiliki, ia mengerahkan alat berat untuk membersihkan jalan agar kembali bisa dilalui warga. Langkah itu lahir dari kepedulian, bukan dari kepentingan sesaat.
Mungkin tidak semua orang memahami bahwa setiap mesin yang bekerja membutuhkan biaya. Setiap liter bahan bakar yang terbakar, setiap jam operasional alat berat, hingga tenaga para pekerja, semuanya memiliki harga. Namun di balik semua pengorbanan itu, ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada uang, yakni hati yang tulus. Sebab hanya orang yang benar-benar peduli yang rela mengeluarkan tenaga, waktu, dan biaya demi melihat masyarakatnya kembali tersenyum.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ironisnya, di tengah upaya membantu, selalu ada pihak yang memilih mencibir. Di era media sosial, kebaikan sering kali lebih mudah dicurigai daripada dihargai. Namun Yusinta memahami bahwa tidak semua orang akan melihat pengabdian dengan sudut pandang yang sama. Karena itu, ia memilih tetap berjalan daripada menghabiskan energi untuk menjawab setiap tudingan.
Bagi Yusinta Nenobahan, membangun kampung halaman bukanlah panggung untuk mencari popularitas. Banyak orang yang telah ia bantu tanpa pernah dipublikasikan. Banyak uluran tangan yang diberikan tanpa kamera dan tanpa sorotan. Baginya, nilai sebuah kebaikan justru terletak pada ketulusan, bukan pada banyaknya tepuk tangan yang diterima.
Perjalanan mengabdi memang tidak pernah mudah. Semakin besar niat untuk membawa perubahan, semakin besar pula tantangan yang harus dihadapi. Namun perempuan yang dikenal dekat dengan masyarakat ini percaya bahwa setiap perjuangan akan menemukan jalannya sendiri selama dijalani dengan hati yang bersih dan niat yang benar.
Yang membuatnya tetap bertahan bukanlah pujian, melainkan harapan masyarakat yang ingin melihat daerahnya berkembang. Senyum anak-anak yang dapat melewati jalan dengan aman, para petani yang lebih mudah mengangkut hasil panen, dan warga yang kembali merasakan akses yang layak menjadi energi yang tidak dapat digantikan oleh apa pun.
Di balik sikapnya yang tenang, tersimpan keyakinan bahwa waktu akan menjadi saksi. Tidak semua kerja nyata harus dijelaskan dengan kata-kata. Ada kalanya hasil di lapangan berbicara lebih lantang daripada ribuan komentar di media sosial. Sebab pengabdian sejati tidak diukur dari seberapa sering seseorang dipuji, melainkan dari seberapa besar manfaat yang ditinggalkan.
Karena itu, Yusinta Nenobahan tidak pernah meminta masyarakat untuk membalas jasanya. Ia tidak membutuhkan tepuk tangan ataupun penghargaan. Yang ia harapkan hanyalah doa dan dukungan agar setiap langkah yang ditempuh tetap diberi kekuatan, sehingga mimpi membangun Timor Tengah Selatan dapat diwujudkan sedikit demi sedikit.
Pada akhirnya, sejarah selalu mengingat mereka yang memilih bekerja daripada mengeluh, yang memilih membantu daripada menghitung untung rugi, dan yang tetap berdiri teguh meski diterpa badai. Selama ketulusan masih menjadi kompas perjuangan, tidak ada cibiran yang mampu menghentikan langkah seorang Yusinta Ningsih Nenobahan Syarief untuk terus mengabdi kepada tanah kelahirannya, Timor Tengah Selatan.**









