Nyanyian Sion di Tanah yang Bernapas: Refleksi Ekologi Kristen Berdasarkan Mazmur 65
Di keheningan ciptaan, ketika fajar menyingsing membawa embun basah dan tanah yang subur memancarkan harum kehidupan, bumi tidak pernah benar-benar sunyi. Ia bersuara. Mazmur 65 melukiskan simfoni agung ini dengan nada-nada penuh keajaiban: “Engkau mengindahkan bumi dan mengaruniakannya kelimpahan… padang-padang gurun berate, bukit-bukit berikat pinggangkan sorak-sorai” (bdk. Mazmur 65:10, 13).
Bagi Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), yang menghirup udara savana, merasakan terik matahari, dan menanti deru hujan pertama di tanah kering, teks ini bukan sekadar puisi kuno. Ia adalah cermin rohani, suatu panggilan profetik di minggu pertama bulan Lingkungan Hidup untuk merenungkan kembali rahim ibu pertiwi yang menopang napas kita.
I. Gema Keagungan di Bukit-Bukit Sunyi
Alam semesta adalah katedral pertama yang dibangun oleh tangan Sang Pencipta sebelum manusia menancapkan batu sandungan pertamanya. Di dalam Mazmur 65, kebesaran Allah terpancar bukan di balik tembok-tembok bait suci yang megah saja, melainkan pada lembah-lembah yang berlimpah gandum dan alur-alur air yang membasahi bumi.
Ketika kita merenungkan ciptaan, kita sedang menatap wajah Allah yang sabar. Hutan yang rimbun, laut yang bergelora, dan tanah yang retak karena dahaga adalah bait-bait hidup yang memantulkan kemuliaan-Nya. Manusia sering kali lupa bahwa dirinya bukanlah pemilik mutlak, melainkan bagian dari paduan suara alam. Kita adalah debu tanah yang dihadiahi roh dan nyawa bersaudara dengan angin, pohon, dan sesama makhluk yang merindukan keutuhan ciptaan.
II. Ratapan Bumi dan Panggilan untuk Pulih
Simfoni agung itu kini diwarnai oleh nada-nada sumbang. Bumi sedang merintih. Keserakahan tangan-tangan manusia telah mengubah berkat menjadi beban; hutan ditebang tanpa ampun, mata air disumbat oleh limbah, dan tanah kehilangan kesuburannya akibat eksploitasi yang tiada henti. Alam berdarah dalam sunyi, menanti dengan penuh kerinduan akan datangnya anak-anak Allah yang mau merawat.
Liturgi pengutusan GMIT memanggil kita untuk terbangun dari tidur panjang ketidakpedulian. Pengutusan bukanlah sekadar seremonial akhir ibadah, melainkan titah ilahi yang menembus relung sanubari:
“Pergilah, jadilah penjaga dan pemelihara ciptaan yang setia, karena alam adalah wujud nyata dari rasa syukur kepada Sang Pencipta. Utuslah dirimu ke tengah dunia bukan untuk menguasai dengan serakah, melainkan untuk merawat bumi dengan kasih. Embanlah tugas suci ini. Jadilah tangan-tangan penolong bagi alam yang sedang merintih, dan kembalikan keindahan ciptaan-Nya.”
III. Liturgi yang Menjadi Nyata di Tanah Perkabaran
Kata-kata pengutusan itu bergema bersahutan antara pelayan dan jemaat, memecah kebisuan ruang ibadah untuk menyatu dengan deru angin di luar dinding gereja. Pelayan menaburkan firman, dan jemaat menyambutnya dengan komitmen iman yang membara.
Menjadi “penjaga dan pemelihara” berarti melepaskan jubah keserakahan. Itu berarti memandang sehelai daun, sebatang pohon, dan seekor burung di udara bukan sebagai komoditas yang bisa diperjualbelikan atau diluma demi kepuasan sesaat. Kita dan alam sebagai sesama ciptaan yang bernapas karena kasih karunia yang sama. Merawat bumi dengan kasih adalah bentuk ibadah sejati di tengah krisis ekologis abad ini.
Ketika kita menanam sebatang pohon, membersihkan aliran sungai, atau sekadar memperlakukan tanah dengan bijak, kita sedang menyeka air mata bumi yang merintih. Kita sedang memulihkan bait Allah yang terbuka di alam raya.
Penutup: Menyongsong Langit Baru dan Bumi yang Baru
Mari melangkah keluar dari pintu gereja dengan kepala tegak dan hati penuh cinta kasih bagi alam. Biarlah jejak kaki kita di atas tanah Timor dan bumi nusantara ini bukan jejak pengrusakan, melainkan jejak pemulihan. Sebab kelak, ketika Allah menyempurnakan segala sesuatu, Ia rindu mendapati bumi ciptaan-Nya tidak hancur lebur oleh kebinasaan, melainkan bersorak-sorai memuji keagungan-Nya, seirama dengan kidung abadi Mazmur 65.
Tuhan, jadikanlah tangan kami sekop yang menyuburkan, yang merawat bumi dengan cinta-Mu, hingga keindahan ciptaan kembali bernyanyi bagi kemuliaan-Mu.