Akses yang Terancam Hilang, Longsor di Ruas Fatumonas–Bitobe Mendesak Penanganan Serius

Selasa, 17 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ini salah satu titik jalan yang longsor dan berpotensi putus total (Titik ini berdekatan langsung dengan Observatorium Timau)

Ini salah satu titik jalan yang longsor dan berpotensi putus total (Titik ini berdekatan langsung dengan Observatorium Timau)

KUPANG,- Derita infrastruktur kembali dirasakan warga di wilayah Amfoang. Ruas jalan penghubung Takari–Lelogama hingga Fatumonas menuju kawasan Observatorium kini berada dalam kondisi memprihatinkan akibat longsor yang terus menggerus badan jalan, terutama di tengah musim hujan yang belum mereda.

Pantauan media ini pada Selasa (17/3/2026) pagi menunjukkan kondisi jalan di Amfoang Tengah, tepatnya pada ruas Fatumonas–Bonmuti hingga Bitobe, kian membahayakan. Jalan yang semestinya menjadi urat nadi mobilitas warga kini berubah menjadi jalur rawan, khususnya bagi kendaraan roda empat yang harus melintas dengan penuh kehati-hatian di tengah ancaman longsor susulan.

Di sejumlah titik, badan jalan tampak tergerus dan menyempit, menyisakan ruang terbatas bagi kendaraan. Tanah yang labil serta intensitas hujan tinggi mempercepat kerusakan, memaksa warga mencari jalur alternatif melalui Poros Timau yang jaraknya lebih jauh dan tidak selalu menjamin keselamatan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Salah satu titik yang hampir putus akibat longsor.

Anggota DPRD Kabupaten Kupang, Okto La’a, yang juga menjabat sebagai Ketua Fraksi Golkar, menyampaikan keprihatinannya atas kondisi tersebut. Ia menegaskan bahwa kerusakan jalan ini bukan sekadar persoalan infrastruktur, melainkan menyangkut keselamatan dan keberlangsungan hidup masyarakat di wilayah Amfoang.

Menurut Okto, kondisi ini semakin ironis karena beberapa titik longsor sebelumnya telah ditangani melalui anggaran APBN pada tahun 2021. Namun, karakteristik tanah di lokasi yang tidak stabil membuat penanganan tersebut belum mampu bertahan lama dan kembali rusak saat musim hujan tiba.

Ia juga menilai penggunaan metode seperti bronjong tidak lagi efektif untuk kondisi geografis setempat. Struktur tanah yang mudah bergerak justru membuat pendekatan tersebut berpotensi menjadi pemborosan anggaran tanpa memberikan solusi jangka panjang.

Okto mendorong dinas teknis, baik Dinas Pekerjaan Umum maupun Balai Jalan dan Jembatan, untuk segera melakukan kajian teknis menyeluruh. Kajian ini dinilai penting agar pemerintah daerah memiliki dasar kuat dalam mengusulkan anggaran tambahan dari pemerintah pusat demi penanganan yang lebih permanen.

Bahu jalan sudah jatuh dengan menyisakan lubang besar

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa jika ruas jalan Fatumonas–Bitobe terputus total, maka Amfoang Utara dan Amfoang Barat Laut berisiko terisolasi, terutama di musim hujan. Akses melalui Amfoang Timur pun kerap terkendala banjir dan luapan sungai, sementara jalur Amfoang Barat Daya hanya dapat dilalui saat musim kemarau dengan rute yang panjang dan berat.

“Kondisi ini bukan hanya soal jalan rusak, tapi tentang nasib masyarakat yang bisa terputus dari layanan dasar, ekonomi, dan pendidikan,” ujarnya dengan nada prihatin.

Situasi ini menjadi alarm keras bagi pemerintah untuk segera bertindak cepat dan tepat. Tanpa intervensi serius, jalan yang menghubungkan harapan warga Amfoang itu berpotensi benar-benar terputus, meninggalkan keterisolasian yang semakin dalam.(*Chris Bani)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Stop Buang Sampah Sembarang: Potret dan Jeritan Sunyi dari Jembatan Nonobai Osiloa
Komitmen PT Lince Maju Jaya: Integritas dalam Menjaga Amanah di Perbatasan Negara
Paskah Bermakna: Sentuhan Sosial CRS Bank NTT dan Inovasi Keuangan Modern di Satu Panggung
Mengurai Tuduhan Jalan Sabuk Merah: Tak Ada Monopoli, Tanggung Jawab Proyek Prioritas
Bupati Kupang Lepas Alumni Pejuang Digital: Misi Sunyi Kelas Konvensional ke Smart School
Daniel Taimenas: DPRD Dukung dan Apresiasi Pawai Paskah Pemuda Kristen Kabupaten Kupang 
Kadis PUPR NTT Turut Sambut Kunjungan Wapres Gibran, Pawai Paskah dan Isyarat Pembangunan
JEJAK BATU DI JALAN GELAP: Ketika Pengeroyokan Menghapus Masa Depan Seorang Sopir dan Hukum Jalan di Tempat

Berita Terkait

Kamis, 9 April 2026 - 11:55

Stop Buang Sampah Sembarang: Potret dan Jeritan Sunyi dari Jembatan Nonobai Osiloa

Kamis, 9 April 2026 - 09:54

Komitmen PT Lince Maju Jaya: Integritas dalam Menjaga Amanah di Perbatasan Negara

Kamis, 9 April 2026 - 03:52

Paskah Bermakna: Sentuhan Sosial CRS Bank NTT dan Inovasi Keuangan Modern di Satu Panggung

Rabu, 8 April 2026 - 10:40

Mengurai Tuduhan Jalan Sabuk Merah: Tak Ada Monopoli, Tanggung Jawab Proyek Prioritas

Selasa, 7 April 2026 - 14:06

Bupati Kupang Lepas Alumni Pejuang Digital: Misi Sunyi Kelas Konvensional ke Smart School

Berita Terbaru

Konten tidak bisa disalin.