KUPANG,- Derita infrastruktur kembali dirasakan warga di wilayah Amfoang. Ruas jalan penghubung Takari–Lelogama hingga Fatumonas menuju kawasan Observatorium kini berada dalam kondisi memprihatinkan akibat longsor yang terus menggerus badan jalan, terutama di tengah musim hujan yang belum mereda.
Pantauan media ini pada Selasa (17/3/2026) pagi menunjukkan kondisi jalan di Amfoang Tengah, tepatnya pada ruas Fatumonas–Bonmuti hingga Bitobe, kian membahayakan. Jalan yang semestinya menjadi urat nadi mobilitas warga kini berubah menjadi jalur rawan, khususnya bagi kendaraan roda empat yang harus melintas dengan penuh kehati-hatian di tengah ancaman longsor susulan.
Di sejumlah titik, badan jalan tampak tergerus dan menyempit, menyisakan ruang terbatas bagi kendaraan. Tanah yang labil serta intensitas hujan tinggi mempercepat kerusakan, memaksa warga mencari jalur alternatif melalui Poros Timau yang jaraknya lebih jauh dan tidak selalu menjamin keselamatan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Anggota DPRD Kabupaten Kupang, Okto La’a, yang juga menjabat sebagai Ketua Fraksi Golkar, menyampaikan keprihatinannya atas kondisi tersebut. Ia menegaskan bahwa kerusakan jalan ini bukan sekadar persoalan infrastruktur, melainkan menyangkut keselamatan dan keberlangsungan hidup masyarakat di wilayah Amfoang.
Menurut Okto, kondisi ini semakin ironis karena beberapa titik longsor sebelumnya telah ditangani melalui anggaran APBN pada tahun 2021. Namun, karakteristik tanah di lokasi yang tidak stabil membuat penanganan tersebut belum mampu bertahan lama dan kembali rusak saat musim hujan tiba.
Ia juga menilai penggunaan metode seperti bronjong tidak lagi efektif untuk kondisi geografis setempat. Struktur tanah yang mudah bergerak justru membuat pendekatan tersebut berpotensi menjadi pemborosan anggaran tanpa memberikan solusi jangka panjang.
Okto mendorong dinas teknis, baik Dinas Pekerjaan Umum maupun Balai Jalan dan Jembatan, untuk segera melakukan kajian teknis menyeluruh. Kajian ini dinilai penting agar pemerintah daerah memiliki dasar kuat dalam mengusulkan anggaran tambahan dari pemerintah pusat demi penanganan yang lebih permanen.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa jika ruas jalan Fatumonas–Bitobe terputus total, maka Amfoang Utara dan Amfoang Barat Laut berisiko terisolasi, terutama di musim hujan. Akses melalui Amfoang Timur pun kerap terkendala banjir dan luapan sungai, sementara jalur Amfoang Barat Daya hanya dapat dilalui saat musim kemarau dengan rute yang panjang dan berat.
“Kondisi ini bukan hanya soal jalan rusak, tapi tentang nasib masyarakat yang bisa terputus dari layanan dasar, ekonomi, dan pendidikan,” ujarnya dengan nada prihatin.
Situasi ini menjadi alarm keras bagi pemerintah untuk segera bertindak cepat dan tepat. Tanpa intervensi serius, jalan yang menghubungkan harapan warga Amfoang itu berpotensi benar-benar terputus, meninggalkan keterisolasian yang semakin dalam.(*Chris Bani)









