Ancaman Demokrasi: GAMKI NTT, Aktivis Cipayung Hingga Akademisi Suarakan Bahaya Pilkada Lewat DPRD

Kamis, 22 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Para aktivis hingga akademisi foto bersama usai dialog interaktif di RRI Kupang.

Para aktivis hingga akademisi foto bersama usai dialog interaktif di RRI Kupang.

Kupang,– Gelombang penolakan terhadap wacana pengembalian sistem Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) melalui DPRD terus menguat dari Nusa Tenggara Timur. GAMKI, organisasi Cipayung dan kalangan akademisi secara terbuka mengingatkan bahaya politik uang gaya baru serta potensi perampasan kedaulatan rakyat jika hak memilih pemimpin daerah dicabut dari tangan warga.

Peringatan tersebut mengemuka dalam dialog interaktif bertajuk “Pilkada Langsung atau Lewat DPRD? Suara Kritis Mahasiswa dan Pemuda NTT” yang digelar DPD GAMKI NTT bekerja sama dengan RRI Pro 1 Kupang, Kamis (22/1/2026). Diskusi ini menjadi ruang konsolidasi pemikiran kritis mahasiswa, aktivis, dan akademisi dalam merespons narasi “efisiensi anggaran” yang dinilai menyesatkan dan berisiko menghidupkan kembali praktik transaksi politik di balik layar.

Pakar Hukum Tata Negara Universitas Nusa Cendana (Undana), Dr. John Tuba Helan, menyoroti inkonsistensi elit politik nasional yang dinilainya bergerak maju-mundur dalam merumuskan kebijakan demokrasi. Ia mengingatkan bahwa sistem Pilkada lewat DPRD telah terbukti gagal di masa lalu karena sarat rekayasa elit dan praktik politik uang.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Para elit politik kita membentuk kebijakan yang maju-mundur. Dulu pemilihan lewat DPRD terbukti gagal karena penuh rekayasa elit dan politik uang. Kedaulatan harus tetap berada di tangan rakyat, jangan berjalan kembali ke belakang,” tegas Dr. John.

Senada dengan itu, Andraviani F. U. Laiya, Ketua GMKI Cabang Kupang, menilai alasan efisiensi anggaran tidak boleh dijadikan dalih untuk mengebiri partisipasi rakyat. Menurutnya, inti demokrasi terletak pada pertanggungjawaban langsung pemimpin kepada rakyat melalui mekanisme pemilihan langsung.

“Demokrasi bukan soal murah atau mahal, tetapi soal siapa yang memegang kendali atas kekuasaan. Ketika rakyat kehilangan hak memilih, maka akuntabilitas pemimpin ikut hilang,” ujarnya.

Dari unsur GAMKI NTT, Yefta A. Sabaat menegaskan bahwa partisipasi publik adalah harga mati dalam demokrasi. Ia menilai wacana Pilkada lewat DPRD justru mempersempit ruang kontrol rakyat terhadap kekuasaan.

“Dalam kondisi demokrasi hari ini, partisipasi langsung rakyat adalah benteng terakhir. Hak memilih kepala daerah tidak boleh dirampas dengan alasan apa pun,” katanya.

Kekhawatiran akan munculnya pola korupsi baru juga disampaikan Apolinaris Mau, Ketua PMKRI Cabang Kupang. Ia menilai pemindahan kewenangan memilih ke DPRD justru membuka ruang transaksi politik di ruang tertutup yang sulit diawasi publik.

“Kalau pemilihan dipindahkan ke DPRD, politik uang tidak hilang, hanya pindah ke ruang gelap. Yang harus dibenahi adalah moralitas partai politik, bukan mencabut hak rakyat,” tegasnya.

Sementara itu, Jacson Marcus, Ketua GMNI Kupang, mengecam stigma yang kerap menempatkan rakyat sebagai pihak yang dianggap rawan politik uang. Ia menilai negara seharusnya hadir memperkuat perlindungan hukum bagi pemilih, bukan justru menarik hak konstitusional warga negara.

“Jangan jadikan rakyat kambing hitam. Kalau politik uang terjadi, itu kegagalan negara dan partai politik dalam membangun sistem yang bersih,” tandasnya.

Dialog lintas organisasi ini menyimpulkan bahwa persoalan utama Pilkada tidak terletak pada sistem pemilihan langsung, melainkan pada tata kelola partai politik dan etika elit. GAMKI, Cipayung, dan kalangan akademisi NTT sepakat untuk terus mengawal isu ini agar kedaulatan rakyat tetap menjadi fondasi utama demokrasi lokal dan nasional. (*/)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Simon Petrus Kamlasi Dorong Penguatan Pertanian Jagung di Sumba Barat Daya
Musda Golkar Kabupaten Kupang Masuk Babak Panas, Alberto Tatibun Kantongi Dukungan Mayoritas
Ayo Bergabung di Road To Event Academy GAMKI NTT, Langkah Besar Pemuda Flobamora Naik Kelas
Aksi Cepat Resmob Satreskrim Polres Kupang Tuntaskan Kasus Pencurian Hand Traktor
Liga Pendidikan Indonesia zona Amfo’ang Raya resmi ditutup
Kepemimpinan Janto di BPJN NTT Dorong Pembangunan Jalan Tepat Mutu dan Berdampak Nyata
Drama Gol dan Semangat Juang Membara di LPI 2026 zona Amfoang Raya
Polda NTT Diminta Uji Diskrepansi Medis Forensik Kasus Kematian Vika Serwutun

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 02:28

Simon Petrus Kamlasi Dorong Penguatan Pertanian Jagung di Sumba Barat Daya

Senin, 1 Juni 2026 - 01:10

Musda Golkar Kabupaten Kupang Masuk Babak Panas, Alberto Tatibun Kantongi Dukungan Mayoritas

Jumat, 29 Mei 2026 - 01:39

Aksi Cepat Resmob Satreskrim Polres Kupang Tuntaskan Kasus Pencurian Hand Traktor

Rabu, 27 Mei 2026 - 22:09

Liga Pendidikan Indonesia zona Amfo’ang Raya resmi ditutup

Rabu, 27 Mei 2026 - 00:40

Kepemimpinan Janto di BPJN NTT Dorong Pembangunan Jalan Tepat Mutu dan Berdampak Nyata

Berita Terbaru

Ritual di bawah pohon beringin; foto: Arnichus Loit

Budaya

Asal-Usul dan Makna Filosofis nama Desa Nunuanah

Sabtu, 30 Mei 2026 - 02:22

Konten tidak bisa disalin.