Kupang,- Siang, 24 Februari 2026 di GMIT Lopo Maus Tualeu, Desa Tunfeu, suasana terasa lebih tenang dari sekadar agenda reses biasa. Warga Kecamatan Nekamese berdatangan dengan wajah penuh harap, sebDari Mimbar Reses Viktor Bungtilu Laiskodat di Nekamese, Bergema Desain Pembangunan SDM NTTagian membawa catatan kecil berisi daftar kebutuhan desa.
Di barisan depan, para tokoh masyarakat duduk berdampingan dengan aparat desa. Di tengah ruangan, sorotan tertuju pada Ketua Fraksi NasDem DPR RI, Viktor Bungtilu Laiskodat, yang kembali menginjak tanah Nekamese.
Bupati Kupang, Yosef Lede yang turut hadir dalam reses tersebut menyampaikan secara umum bahwa reses sering dipandang sebagai agenda rutin. Namun kali ini, nuansanya berbeda.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di hadapan masyarakat Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang, Yosef Lede menegasjan bahwa diskusi tidak hanya berkisar pada keluhan, tetapi wajib menyentuh desain besar pembangunan wilayah selatan Nusa Tenggara Timur.
Kehadiran Bupati Yosef Lede, selain sebagai tuan rumah juga sekaligus mitra politik dalam membangun jalur komunikasi dengan pusat.
Di sisi lain, Bupati Kupang menekankan pentingnya kolaborasi. Ia menyadari bahwa banyak program daerah tetap bergantung pada dukungan anggaran pusat. Dalam forum itu, kolaborasi antara pemerintah kabupaten dan wakil rakyat di DPR RI diposisikan sebagai kunci agar aspirasi Nekamese tidak berhenti pada wacana.
Sedangkan dalam pembukaan, Ketua DPD NasDem Kabupaten Kupang, Sofia Malelak de Haan, menegaskan pentingnya momentum tersebut. Ia menyebut kehadiran wakil rakyat di Senayan sebagai jembatan antara pergumulan desa dan kebijakan nasional. Bagi warga, forum itu menjadi ruang langka untuk menyuarakan kebutuhan infrastruktur, pertanian, hingga pendidikan.
Sorotan utama mengarah pada pembangunan jalan selatan yang pernah menjadi desain prioritas ketika Viktor Laiskodat ketika menjabat sebagai Gubernur NTT periode 2018–2024. Viktor menegaskan bahwa jalur tersebut bukan sekadar wacana politik, melainkan bagian dari perencanaan strategis yang telah disiapkan, termasuk pembangunan jembatan dan konektivitas hingga Amarasi Barat.
Namun di balik janji infrastruktur, ada pesan yang lebih tajam. Viktor berbicara tentang “mindset” pendidikan masyarakat NTT. Ia menilai arah pendidikan selama ini belum sepenuhnya selaras dengan potensi daerah. Pantai, garam, perikanan, pariwisata—semua tersedia, tetapi minim sumber daya manusia yang secara spesifik disiapkan untuk mengelolanya.
Dalam dokumentasi lapangan, pernyataan itu disampaikan dengan nada tegas namun reflektif. Ia mencontohkan peluang industri garam, budidaya kerapu, kakap, hingga lobster yang belum dioptimalkan. Bahkan sektor pariwisata premium—yang kini tumbuh di sejumlah titik NTT—membutuhkan tenaga terampil seperti koki profesional dan manajemen perhotelan.
Viktor juga menyinggung transformasi Labuan Bajo sebagai contoh keberhasilan desain kebijakan yang konsisten. Ia mengisahkan bagaimana kawasan tersebut didorong menjadi destinasi super prioritas hingga menarik perhatian nasional dan internasional. Bagi dia, keberhasilan itu bukan kebetulan, melainkan hasil keberanian mengambil keputusan strategis.
Reses tersebut pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda serap aspirasi. Ia berubah menjadi panggung diskusi tentang masa depan—tentang bagaimana pendidikan, infrastruktur, dan desain ekonomi harus berjalan searah.
Dari GMIT Lopo Maus, di tengah desa yang tenang, percakapan tentang strategi pembangunan dan perubahan pola pikir bergema panjang. Bagi masyarakat Nekamese, hari itu bukan hanya pertemuan politik, tetapi dokumentasi tentang harapan yang sedang dirancang ulang.**
Penulis: Chris Bani









