KUPANG,- Di tengah kunjungan kerja Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka ke Kabupaten Kupang dan Amfoang, perhatian publik justru tertuju pada sebuah potongan video singkat yang viral di media sosial. Dalam video tersebut, Gubernur Nusa Tenggara Timur, Melki Laka Lena, terlihat beberapa kali menekan layar handphone saat mendampingi Wakil Presiden berdialog bersama masyarakat.
Potongan video berdurasi singkat itu memunculkan berbagai komentar dari netizen. Sebagian menilai Gubernur NTT sedang bermain handphone ketika warga menyampaikan aspirasi secara langsung. Namun di balik video yang viral itu, ada konteks yang tidak ikut terlihat di kamera.
Bagi orang-orang yang telah lama bekerja bersama Melki Laka Lena, kebiasaan menggunakan handphone saat forum resmi bukanlah hal baru. Handphone bagi Melki bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang kerja berjalan untuk mencatat berbagai hal penting yang disampaikan masyarakat maupun pejabat pemerintah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Orang dekat Gubernur NTT dari Kabupaten Malaka, Dholvy Cardozo, menjelaskan bahwa saat mendampingi Wakil Presiden, Melki justru sedang mencatat berbagai poin penting dari dialog bersama warga.
“Setiap orang punya tipikal berbeda. Ada yang mencatat di buku, ada juga yang memilih menggunakan catatan digital di handphone. Pak Gubernur termasuk yang terbiasa mencatat lewat HP agar semua poin penting bisa langsung tersimpan,” ujar Dholvy.
Menurutnya, kebiasaan tersebut sudah dilakukan Melki sejak masih menjadi anggota DPR RI. Dalam berbagai rapat, pertemuan, maupun kunjungan lapangan, Melki disebut lebih nyaman menggunakan catatan digital karena dinilai lebih cepat, praktis, dan memudahkan tindak lanjut setelah kegiatan selesai.
Di tengah dialog bersama masyarakat Amfoang, berbagai persoalan disampaikan langsung kepada pemerintah. Mulai dari kondisi infrastruktur, pelayanan publik, hingga kebutuhan dasar masyarakat di wilayah perbatasan. Dalam situasi seperti itu, Melki disebut memilih mencatat langsung melalui handphone agar setiap aspirasi dapat tersimpan secara utuh dan tidak tercecer.
Bagi sebagian pejabat, buku catatan mungkin masih menjadi pilihan utama. Namun bagi Melki, teknologi justru menjadi alat kerja yang memudahkan dirinya menyimpan informasi penting secara cepat. Catatan digital dianggap lebih aman karena dapat tersimpan rapi, terdokumentasi, dan mudah dibuka kembali saat proses tindak lanjut dilakukan.
“Kalau dicatat di kertas kadang bisa tercecer atau terlupa. Dengan catatan digital, semua aspirasi masyarakat langsung tersimpan dan bisa segera dicek kembali setelah kegiatan selesai,” kata Dholvy.
Hal senada disampaikan Aldy Umbu dari Sumba Tengah. Ia mengatakan kebiasaan Melki mencatat menggunakan handphone sudah sering terlihat dalam berbagai agenda resmi maupun pertemuan bersama masyarakat.
“Pak Melki memang terbiasa mencatat langsung lewat HP ketika mendengar masukan atau arahan. Itu cara beliau bekerja agar semua poin penting tidak hilang dan bisa ditindaklanjuti,” ujarnya.
Peristiwa viral tersebut sekaligus menjadi gambaran bagaimana perubahan pola kerja di era digital kadang masih mudah disalahartikan ketika dilihat tanpa konteks utuh. Di satu sisi, publik hanya melihat beberapa detik potongan video. Namun di sisi lain, ada proses kerja yang sesungguhnya sedang dilakukan di balik layar handphone tersebut.
Bagi tim dan orang-orang yang mengenal dekat gaya kerja Melki Laka Lena, kebiasaan itu justru menunjukkan keseriusan dalam mendengar setiap aspirasi masyarakat. Ketika warga berbicara, poin-poin penting tidak hanya didengar, tetapi juga langsung dicatat untuk memastikan tidak ada yang terlewat.
Di era ketika teknologi semakin menjadi bagian dari aktivitas pemerintahan, cara kerja seperti itu perlahan mulai menjadi kebiasaan baru. Bukan lagi sekadar membawa buku catatan, tetapi memastikan setiap masukan masyarakat terdokumentasi dengan baik dan dapat ditindaklanjuti secara cepat.
Karena itu, potongan video yang viral di media sosial sesungguhnya tidak menggambarkan keseluruhan situasi yang terjadi di lapangan. Yang terlihat sebagai seseorang sedang memainkan handphone, bagi orang-orang yang memahami cara kerjanya, justru adalah seorang kepala daerah yang sedang menyimpan satu per satu aspirasi rakyat di genggamannya.
Ditambahkan Ferdianto Boimau, yang pernah menjadi staf ahli Emanuel Melkiades Laka Lena saat masih menjabat sebagai anggota DPR RI, kebiasaan Gubernur NTT mencatat berbagai masukan masyarakat melalui handphone memang sudah dilakukan sejak lama.
Ia menjelaskan, setiap aspirasi yang disampaikan warga biasanya langsung dicatat atau disimpan agar tidak terlupakan dan dapat ditindaklanjuti secara serius dalam agenda pemerintahan maupun perjuangan politik di tingkat pusat dan daerah.
Ferdianto menegaskan bahwa anggapan yang menyebut Gubernur NTT sering bermain handphone saat bertemu masyarakat merupakan asumsi yang keliru dan tidak berdasar.
Menurutnya, penggunaan handphone justru menjadi bagian dari cara kerja untuk memastikan seluruh keluhan, usulan, dan kebutuhan masyarakat terdokumentasi dengan baik.
Ia pun mengimbau agar oknum-oknum tertentu tidak mudah menyebarkan informasi yang belum tentu benar karena dapat membentuk opini negatif yang menyudutkan kinerja baik Gubernur NTT di mata publik.***








