Di ruang-ruang kelas, bahasa sering diajarkan seperti deretan pagar kurikulum: membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. Semua tertata rapi dalam silabus, dibagi ke dalam indikator, lalu diukur dengan angka. Namun, kehidupan manusia tidak pernah tumbuh hanya dari angka. Bahasa sesungguhnya adalah napas kebudayaan. Ia hidup dalam cara seorang ibu memanggil anaknya di dapur, dalam doa seorang tua di rumah adat, dalam pidato seorang pemimpin kampung, dalam nyanyian duka, bahkan dalam diam seseorang yang sedang menyimak luka orang lain. Karena itu, mengajar bahasa bukan sekadar memindahkan materi pelajaran dari buku ke kepala murid, melainkan memperkenalkan manusia kepada kemanusiaannya sendiri.
Di banyak sekolah, ada guru bahasa yang sangat rajin mengajar tata bahasa, tetapi belum tentu gemar membaca. Ada yang mampu menjelaskan struktur pidato, tetapi gugup ketika berbicara di depan umum. Ada pula yang mengajarkan cara menulis, tetapi jarang menulis sesuatu yang lahir dari pergulatan batin dan pengalaman hidupnya sendiri. Hal itu bukan untuk ditertawakan, sebab guru juga manusia yang sedang bertumbuh. Akan tetapi, di situlah letak kebijaksanaan pembelajaran: seorang pengajar bahasa semestinya tidak berhenti menjadi “penyampai materi”, melainkan terus belajar menjadi pelaku bahasa. Sebab murid lebih mudah percaya pada api yang menyala daripada sekadar cerita tentang panas.
Masyarakat tradisional sebenarnya telah lama memahami hal itu. Dalam budaya-budaya lisan di Timor, Rote, Sabu, atau Flores, seorang tetua adat tidak dihormati hanya karena ia hafal kata-kata adat, tetapi karena ia mampu berbicara dengan wibawa, menyimak dengan hati, dan membaca keadaan masyarakatnya. Kata-kata lahir dari pengalaman hidup, bukan sekadar hafalan. Orang yang tidak mampu mendengar dengan baik akan sulit menjadi penengah konflik. Orang yang malas membaca keadaan akan mudah salah bicara. Dan orang yang tidak pernah melatih dirinya menulis atau berbicara akan kehilangan kekuatan untuk memengaruhi generasi berikutnya. Bahasa, dengan demikian, adalah latihan karakter.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Karena itu, ketika seorang guru bahasa hanya mampu mengajar tanpa sungguh memiliki kecakapan berbahasa yang hidup, maka pelajaran bahasa dapat berubah menjadi ruang yang kering. Murid mungkin lulus ujian, tetapi tidak tumbuh kecintaannya pada membaca. Mereka mungkin dapat membuat teks pidato, tetapi tidak memiliki keberanian berbicara dengan jujur dan santun. Mereka mungkin tahu teori menyimak, tetapi gagal mendengar penderitaan sesamanya. Padahal inti pendidikan bukan sekadar membuat murid tahu, melainkan membentuk mereka menjadi manusia yang mampu memahami dan dipahami.
Namun, kebijaksanaan tidak lahir dari sikap saling menyalahkan. Guru bukan dituntut menjadi manusia sempurna, melainkan manusia yang mau terus belajar. Guru bahasa yang belum pandai berbicara di depan umum masih dapat bertumbuh dengan banyak membaca dan berlatih. Guru yang belum menjadi penulis besar masih dapat mulai menulis catatan kecil tentang hidup di sekitarnya. Guru yang belum mahir menyimak masih dapat belajar mendengar murid-muridnya dengan hati yang tenang. Sebab pendidikan yang paling kuat bukan berasal dari kesempurnaan seorang guru, melainkan dari kerendahan hatinya untuk terus bertumbuh bersama murid. Di situlah bahasa menjadi hidup: ketika guru dan murid sama-sama belajar menjadi manusia yang lebih bijaksana dalam kata, dalam pendengaran, dan dalam tindakan.
Heronimus Bani ~ Pemulung Aksara









