Rote Ndao -CMBN,- Di balik hamparan sawah yang hijau di Desa Bebalain, Kecamatan Lobalain, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, terdapat harapan besar bagi petani lokal. Pekerjaan rehabilitasi dan peningkatan jaringan irigasi utama yang dikerjakan PT Adhi Karya (Persero) Tbk, diharapkan dapat membawa perubahan signifikan bagi kehidupan mereka.
Dengan pasokan air yang stabil, petani dapat meningkatkan produksi dan kualitas hasil panen, sehingga meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan mereka.
Proyek ini merupakan bagian dari program Instruksi Presiden (Inpres) tahun 2025 Kementerian Pekerjaan Umum Direktoral Sumber Daya Air Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kabupaten Rote Ndao sendiri mendapat tiga paket, yaitu di daerah irigasi Woldale (paket 1) serta daerah irigasi Netenaen dan daerah irigasi Bebalain (paket 2). Namun, hingga kini, proyek irigasi di Bebalain masih belum rampung karena beberapa kendala, termasuk akses yang sulit dan cuaca yang tidak mendukung.
PT Adhi Karya (Persero) Tbk, sebagai pelaksana proyek, telah berupaya mengatasi kendala-kendala tersebut. Namun, masih diperlukan kerja sama dan dukungan dari semua pihak untuk menyelesaikan proyek ini. Dengan demikian, petani di Desa Bebalain dapat segera menikmati manfaat dari proyek irigasi ini dan meningkatkan taraf hidup mereka.
Proyek Rehabilitasi dan Peningkatan Jaringan Irigasi Utama di Desa Bebalain, Kecamatan Lobalain, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), terhambat serius. Kontraktor lokal yang turut membantu proyek tersebut mengakui bahwa PT. Adhi Karya Persero TBK, nampaknya tidak mampu menyelesaikan pekerjaan yang telah selesai masa tenggang pelaksanaan dalam kontrak dan sementara memasuki masa pemeliharaan.
Proyek ini dibiayai APBN dan dimulai pada September 2025, dengan target selesai akhir 2025. Namun, masa kontrak telah lewat, dan kini masuk fase pemeliharaan. Progress baru 50 meter kubik lebih, dan tidak bisa dilanjutkan karena kehabisan material dan lokasi yang sulit dijangkau.
Proyek ini dibiayai APBN dimulai bulan September 2025, dengan target selesai akhir 2025. Namun, masa kontrak telah lewat, dan kini masuk fase pemeliharaan. Progress baru 50 meter kubik lebih. Material habis, jalan berlumpur parah karena musim hujan.
Beberapa warga petani setempat berharap pekerjaan dapat dilanjutkan, namun PT Adhi Karya sudah gagal. Masyarakat tetap pantau ketat. Jika kontrak addendum gagal lagi, seharusnya sanksi blacklist untuk PT Adhi Karya.
Diketahui bahwa PT Adhi Karya sering menang tender infrastruktur nasional, tapi proyek irigasi di daerah terpencil seperti Rote kerap bermasalah. Perusahaan lokal Rote Ndao dengan pengalaman irigasi kecil, diharapkan jadi solusi cepat.
Pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR menekankan percepatan irigasi nasional untuk ketahanan pangan namun kasus ini jadi sorotan akuntabilitas BUMN di proyek pedesaan.
Yan Tampani, selaku PPK proyek ini, menjelaskan bahwa untuk pekerjaan di Bebalain pihaknya mengalami kendala suplay material ke lokasi. Hal ini karena akses menuju lokasi sulit dan berlumpur sehingga Dump truck sulit masuk ke lokasi untuk membawah material.
Dengan harapan itu, masyarakat Desa Bebalain menanti penyelesaian proyek irigasi yang telah lama ditunggu-tunggu.**









